18 Ton Sampah Plastik Disulap Jadi Ruang Kelas di Garut

|

GUGAH – Sampah plastik biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir. Sebagian lainnya justru bocor ke lingkungan dan menjadi persoalan baru.

Di SDN 3 Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, sebagian sampah plastik bernilai rendah mendapat jalan cerita berbeda.

Sekitar 18 ton sampah plastik diolah menjadi material untuk membangun dua ruang kelas dan dua toilet. Fasilitas tersebut diresmikan Yayasan Bakti Barito bersama sejumlah mitra pada Rabu (30/9/2026).

Yang dibangun bukan hanya ruang kelas. Sekolah ini sekaligus menjadi semacam “laboratorium terbuka” bagi siswa untuk melihat bagaimana sampah yang sebelumnya sulit dimanfaatkan bisa memiliki fungsi baru.

Sampah Menjawab Masalah Ruang Kelas

Ada persoalan lain yang membuat proyek ini menjadi lebih dari sekadar proyek lingkungan.

SDN 3 Sukanegla memiliki 196 siswa, sementara ruang belajar yang tersedia sebelumnya belum mencukupi. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar harus dibagi menjadi kelas pagi dan kelas siang.

Tambahan dua ruang kelas kini membuat persoalan tersebut mendapat solusi sekaligus membawa pesan lingkungan ke dalam aktivitas sekolah.

Di sinilah konsep ekonomi sirkular menjadi lebih mudah dipahami.

Sampah yang semula dianggap tidak bernilai tidak berhenti sebagai limbah. Setelah dikumpulkan, diproses, diuji, dan digunakan kembali, material tersebut menjadi bagian dari fasilitas yang dipakai setiap hari.

Bagi siswa, konsep itu tidak perlu dijelaskan panjang lebar.

Mereka cukup melihat ruang kelas tempat mereka belajar.

Bukan Sekadar Plastik Ditempel Jadi Bangunan

Material yang digunakan tidak serta-merta dipakai tanpa pengujian.

Yayasan Bakti Barito menggandeng Universitas Garut dan laboratorium Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melakukan serangkaian pengujian sebelum pembangunan.

“Sebelum kita membangun tentunya kita melakukan uji-uji laboratorium, kita bekerja sama dengan Universitas Garut dan juga lab dari Dinas PUPR kita melakukan rangkaian pengujian untuk bisa mendapatkan izin membangun sekolah ini,” jelas Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari.

Baca Juga:  Pergunu Jabar Perkuat Kader Muda, Pendidikan Jadi Fondasi Regenerasi Organisasi

Dari sisi konstruksi, material tersebut menggunakan sistem penguncian antarkomponen yang disebut menyerupai balok lego dan diperkuat pipa pada bagian tengahnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Nurdin Yana menilai pendekatan tersebut menjadi bagian menarik dari pembangunan fasilitas sekolah.

“Saya kira ideal kalau lihat produknya tadi ada 4 produk dia itu sangat baik sangat kuat, kemudian itu seperti lego jadi antara (blok) terkunci sehingga bangunan ini insya Allah kuat,” kata Nurdin.

Anak-anak Belajar dari Bangunannya

Dian mengatakan proyek tersebut memang dirancang agar siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai sampah melalui teori.

Mereka dapat melihat langsung hasil pengolahannya dalam bentuk bangunan yang digunakan sehari-hari.

“Jadi anak-anak bisa melihat bahwa sekolahnya itu dari sampah. Jadi artinya bahwa sampah itu sesuatu yang bernilai,” kata Dian.

Program tersebut merupakan bagian dari Green Guardians, yang membawa isu pendidikan perubahan iklim ke lingkungan sekolah.

Sampah plastik bernilai rendah yang sebelumnya berpotensi masuk ke tempat pembuangan akhir atau bocor ke lingkungan diarahkan menjadi material dengan fungsi baru.

“Dari pemikiran itulah kita bekerja sama dengan para mitra, membangun sekolah dari sampah yang bernilai rendah. Sampah yang selama ini ada di TPA dan atau bocor ke laut,” ujarnya.

Pesannya menjadi lebih konkret: edukasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari buku atau poster. Sebuah bangunan pun dapat menjadi media belajar.

Tantangannya: Bisa Dipakai Lebih Luas?

Satu proyek tentu belum menyelesaikan persoalan sampah plastik.

Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: apakah model seperti ini bisa diterapkan di tempat lain?

Dian mengatakan pihaknya berupaya menjaga biaya produksi agar dapat bersaing dengan material konstruksi konvensional.

“Kita harapkan dengan ongkos produksi yang setara dengan konvensional dengan yang sekarang sudah ada, kita berharap bahwa ini bisa digunakan oleh masyarakat secara luas,” lanjut Dian.

Baca Juga:  PCNU Kabupaten Tasikmalaya Berangkatkan 35 Bus ke Muktamar Ke-35 NU di Jombang

Artinya, keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari berdirinya dua ruang kelas dan dua toilet.

Ada tantangan lebih besar di belakangnya: bagaimana teknologi pengolahan sampah menjadi material bangunan dapat memenuhi aspek keamanan, biaya, ketersediaan bahan baku, hingga penerimaan masyarakat.

Jika aspek-aspek tersebut dapat dipenuhi, sampah plastik bernilai rendah memiliki peluang untuk masuk ke rantai pemanfaatan baru.

Pemerintah dan Swasta Sama-sama Dibutuhkan

Sekda Garut Nurdin Yana melihat keterlibatan pihak swasta sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan pembangunan fasilitas publik di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.

Ia mengatakan kolaborasi Yayasan Bakti Barito dengan berbagai pihak sebelumnya telah menghasilkan sekitar 40 bangunan dalam sejumlah program.

“Tidak hanya di konteks satu ini saja, sudah 40 bangunan yang dibangun oleh Yayasan Bakti Barito yang bekerja sama dengan lainnya,” ujar Nurdin.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito Fifi Pangestu menilai persoalan sampah dan perubahan iklim tidak dapat dibebankan kepada satu pihak.

“Kita need to collaborate with all stakeholders. Dari CSR masing-masing perusahaan, dari sekolah, rumah tangga, dan juga pemerintah, supaya pilot project ini sukses,” tutur Fifi.

Pesan tersebut sejalan dengan kehadiran Duta Besar Singapura untuk Indonesia Kwok Fook Seng dalam peresmian. Ia menilai edukasi mengenai daur ulang perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak sekolah agar kebiasaan tersebut dapat berkembang hingga lingkungan keluarga.

“I think we have make it achievable ya, tadi you saw the demonstration from the children, how to recycle. I think its important to start from that,” ujar Kwok Fook Seng.

Dari Sampah ke Pelajaran

Bagi SDN 3 Sukanegla, manfaat proyek ini sangat konkret.

Sekolah yang sebelumnya harus membagi kegiatan belajar menjadi sesi pagi dan siang kini memiliki tambahan dua ruang kelas dan dua toilet.

Baca Juga:  Hari Tani Nasional, Anggaran Pertanian 2026 Lebih Gemuk untuk Seremonial daripada Irigasi

Kepala SDN 3 Sukanegla Fitri Firdaus mengatakan sebelumnya keterbatasan ruang menjadi persoalan dalam kegiatan belajar mengajar.

“Sebelumnya kami kekurangan ruang kelas sehingga kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bergantian, ada kelas pagi dan kelas siang,” kata Fitri.

Dukungan tersebut bermula dari pendampingan Yayasan Bakti Barito dalam program Sekolah Adiwiyata.

“Dan akhirnya ketika kami mengikuti arahan dari Yayasan Bakti Barito terkait menjadi Sekolah Adiwiyata, alhamdulillah kami terbantu dengan dua kelas baru dan juga dua toilet,” ujar Fitri.

Kini, ada pelajaran tambahan yang hadir tanpa harus masuk ke jadwal mata pelajaran.

Setiap kali siswa masuk kelas, mereka melihat contoh bahwa sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diproses menjadi sesuatu yang memiliki fungsi.

Fitri berharap keberadaan ruang baru tersebut mendorong siswa lebih giat belajar sekaligus semakin peduli terhadap lingkungan.

“Ya mudah-mudahan dengan didapatkannya ruang kelas ini menjadikan anak-anak lebih giat lagi belajar, dan juga dalam hal lingkungannya anak-anak lebih concern bahwa kita dalam mendapatkan sesuatu kita sungguh-sungguh dengan berbuat baik insya Allah ada dampak yang baik juga buat kita,” tandas Fitri.

Pada akhirnya, proyek SDN 3 Sukanegla mempertemukan dua persoalan yang biasanya dibahas secara terpisah: sampah dan keterbatasan fasilitas pendidikan.

Sebanyak 18 ton sampah plastik bernilai rendah kini memiliki fungsi baru. Sementara 196 siswa mendapatkan tambahan ruang untuk belajar.

Tetapi nilai paling penting dari proyek ini mungkin bukan terletak pada jumlah tonase sampah atau jumlah ruang yang dibangun.

Melainkan pada perubahan cara pandang.

Sampah tidak selalu harus berakhir sebagai beban. Dengan teknologi, pengujian, dan pengelolaan yang tepat, sebagian material yang dianggap tidak bernilai dapat masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan.

Dan di SDN 3 Sukanegla, pelajaran itu tidak hanya dibicarakan.

Anak-anak belajar di dalamnya.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran