GUGAH – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengimbau jemaah umrah Indonesia untuk sementara waktu menghindari penerbangan transit, khususnya melalui Malaysia dan Singapura. Jemaah diminta mengutamakan penerbangan langsung menuju Arab Saudi demi keamanan dan kelancaran perjalanan ibadah.
Imbauan tersebut juga ditujukan kepada Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) agar lebih selektif dalam menentukan maskapai penerbangan bagi jemaah.
Dahnil menegaskan, hingga saat pernyataan itu disampaikan, aktivitas penerbangan dan perjalanan umrah masih berlangsung normal. Belum ada penundaan maupun pembatalan penerbangan yang dilaporkan dalam keterangannya.
“Tidak. Sampai dengan detik ini, penerbangan atau kegiatan umrah masih berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Dahnil saat menjawab pertanyaan awak media, Selasa (27/10/2026).
Meski demikian, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk mengantisipasi potensi risiko perjalanan jemaah, salah satunya dengan mendorong penggunaan penerbangan langsung atau direct flight menuju Jeddah maupun Madinah.
Menurut Dahnil, penerbangan langsung menjadi pilihan yang lebih aman karena jemaah tidak perlu singgah di bandara negara lain sebelum tiba di Arab Saudi.
“Jadi, penerbangan yang dipilih jemaah dan pihak travel atau PPIU harus yang direct. Itu lebih aman. Kenapa? Karena bisa langsung ke Jeddah atau Madinah,” tegasnya.
Soroti 70 Ribu Jemaah yang Transit di Negara Tetangga
Selain menyangkut keamanan perjalanan, Dahnil mengungkapkan besarnya jumlah jemaah umrah Indonesia yang selama ini menggunakan jalur penerbangan transit melalui Malaysia dan Singapura.
Ia menyebut jumlahnya mencapai sekitar 70 ribu orang. Angka tersebut dinilai sebagai potensi pasar yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat industri penerbangan nasional.
“Karena jemaah umrah kita yang transit di Malaysia dan Singapura itu jumlahnya cukup besar, kurang lebih sekitar 70.000-an orang, dan itu jumlah yang besar,” ungkapnya.
Dahnil berpandangan, apabila potensi penumpang tersebut dapat dialihkan ke maskapai nasional, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor penerbangan, tetapi juga dapat membantu menggerakkan perekonomian dalam negeri.
“Kalau kemudian itu bisa dimaksimalkan untuk penerbangan nasional kita, itu akan sangat membantu ekonomi nasional kita,” katanya.
Dorong Garuda dan Lion Kuasai Pasar Umrah
Dalam arahannya, Dahnil secara khusus menyinggung Garuda Indonesia dan Lion Air sebagai dua maskapai nasional yang perlu didorong untuk memperbesar pangsa pasar penerbangan umrah.
Menurutnya, besarnya jumlah jemaah asal Indonesia seharusnya menjadi peluang bagi perusahaan penerbangan nasional untuk mengambil peran lebih dominan dalam melayani perjalanan ibadah ke Tanah Suci.
“Ini kan dua maskapai nasional kita yang harus kita dorong supaya menjadi penguasa pasar umrah di tingkat nasional,” ujarnya.
Untuk menindaklanjuti arahan tersebut, Kementerian Haji dan Umrah telah mengumpulkan asosiasi penyelenggara perjalanan haji dan umrah agar kebijakan pemilihan rute penerbangan menjadi perhatian bersama.
Dahnil meminta pelaku usaha perjalanan umrah tidak hanya mempertimbangkan aspek operasional, tetapi juga keamanan jemaah dan kontribusi terhadap penguatan ekosistem penerbangan nasional.
“Kami juga meminta kepada asosiasi untuk sementara ini agar jangan dulu memilih penerbangan transit, seperti ke bandara di Malaysia maupun Singapura,” jelasnya.
Kendati demikian, pernyataan tersebut masih berupa imbauan kepada jemaah dan penyelenggara perjalanan umrah, bukan pengumuman larangan resmi terhadap seluruh penerbangan transit.
Dahnil kembali menekankan bahwa penerbangan langsung menjadi pilihan yang dianjurkan pemerintah untuk sementara waktu.
“Jadi, sementara ini kami pikir jemaah umrah kita ada baiknya tidak transit dulu di Malaysia dan Singapura,” pungkasnya.***





Tinggalkan Balasan