Romo Benny Dikenang sebagai Penerus Semangat Gus Dur, Mahfud MD Ingatkan Ancaman Elektoral Otokrasi

|

GUGAH – Semangat perjuangan almarhum Romo Benny Susetyo dalam merawat kebhinekaan, kemanusiaan, dan demokrasi kembali digaungkan dalam acara Mengenang Romo Benny: Melanjutkan Jejak Gus Dur, Merawat Kebhinekaan, dan Menjaga Demokrasi di Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, Minggu (18/10/2026).

Sekitar 200 peserta dari berbagai latar belakang agama, suku, dan komunitas hadir dalam kegiatan yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Sejumlah tokoh nasional turut memberikan refleksi, di antaranya Mahfud MD, Direktur Jaringan GUSDURian Alissa Wahid, serta perwakilan keluarga Romo Benny, Andreas Eddy Susetyo.

Kiai M. Iqbal Ahnaf selaku pengasuh Pondok Pesantren Bumi Cendekia mengatakan pesantren yang dipimpinnya selama ini berupaya menerjemahkan nilai-nilai toleransi ke dalam praktik nyata.

Para santri didorong untuk terjun langsung ke masyarakat marginal dan membangun relasi dengan komunitas lintas iman. Menurutnya, cara tersebut menjadi bentuk nyata meneladani semangat Gus Dur, Kiai Imam Aziz, dan Romo Benny yang mengedepankan dialog serta penghormatan terhadap keberagaman.

Baca Juga:  Jaga Marwah Jam’iyyah, PWNU dan PCNU se-DIY Serukan Tolak Politik Uang di Muktamar NU ke-35

Persahabatan Romo Benny dan Gus Dur

Direktur Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid, mengisahkan kedekatan ayahnya, Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan Romo Benny Susetyo.

Menurut Alissa, hubungan keduanya bermula ketika mereka bersama-sama mengadvokasi kasus pembunuhan berantai di Banyuwangi pada era Orde Baru yang menimpa sejumlah tokoh agama.

“Sejarah perjalanan beliau dengan Gus Dur cukup panjang. Pertemuan pertama terjadi saat menangani kasus pembunuhan berantai di Banyuwangi ketika banyak kiai menjadi korban tuduhan dukun santet,” ujar Alissa.

Persahabatan itu terus terjalin hingga akhir hayat Gus Dur. Alissa mengenang Romo Benny menjadi salah satu orang yang dihubungi langsung oleh Gus Dur seminggu sebelum wafat untuk mengucapkan selamat Natal.

“Itu menjadi Natal terakhir yang disampaikan langsung oleh Gus Dur kepada Romo Benny. Kedekatan mereka memang sangat istimewa,” kenangnya.

Yogyakarta Menjadi Bagian Penting Perjalanan Romo Benny

Mewakili keluarga, Andreas Eddy Susetyo menjelaskan alasan dipilihnya Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan memorial.

Baca Juga:  Audiensi Buntu, Pemuda Merah Putih Siapkan Jalur Hukum Kasus Salsabila

Menurut Andreas, kota ini memiliki arti penting dalam perjalanan intelektual Romo Benny karena menjadi tempat dirinya banyak belajar kepada Romo Mangunwijaya, terutama dalam dunia kepenulisan.

“Romo Mangun yang mengajari beliau menulis. Karena itu Yogyakarta memiliki makna yang sangat penting dalam perjalanan hidup Romo Benny,” ujarnya.

Ia juga menegaskan keluarga mendukung penuh keberlanjutan perjuangan Romo Benny, terutama dengan melibatkan generasi muda.

“Kita harus mulai gerakan dari yang muda-muda ini,” katanya.

Mahfud MD Soroti Kemunduran Demokrasi

Dalam sesi Memorial Lecture, Mahfud MD mengingatkan bahwa Indonesia telah berhasil membangun fondasi kebangsaan yang kuat sejak kemerdekaan. Namun, menurutnya, demokrasi Indonesia kini menghadapi tantangan serius.

Ia menyebut demokrasi Indonesia mengalami pergeseran dari demokrasi substantif menuju elektoral otokrasi, yakni kondisi ketika kemenangan dalam pemilu dijadikan legitimasi untuk mengambil keputusan secara sepihak.

“Demokrasi kita bergeser dari demokrasi yang substantif menjadi elektoral otokrasi. Orang mengambil keputusan secara sepihak karena merasa menang pemilu,” kata Mahfud.

Baca Juga:  Eksodus Sindikat Judi Online Dunia, Polri Ungkap Markas Bergeser dari Indo-Cina ke Indonesia hingga Afrika

Mahfud juga mengingatkan bahaya otokratik legalisme, yakni praktik menjadikan hukum sebagai alat pembenaran kekuasaan.

“Hukum dijadikan alat untuk membenarkan kehendak sepihak. Kalau aturan tidak sesuai kepentingan, aturannya diubah,” tegasnya.

Karena itu, Mahfud mengajak seluruh elemen bangsa terus menjaga optimisme, memperkuat keberanian menyuarakan kebenaran, serta mengawal demokrasi agar cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan secara adil.

Testimoni Tokoh Bangsa

Rangkaian acara ditutup dengan penyampaian testimoni dari berbagai sahabat dan tokoh yang mengenal dekat Romo Benny Susetyo.

Secara langsung hadir memberikan kesaksian Ajar Budi Kuncoro, MY Esti Wijayati, dan Ravik Karsidi. Sementara melalui video, testimoni disampaikan oleh Megawati Soekarnoputri, GKR Hemas, Siti Ruhaini Dzuhayatin, serta Garin Nugroho.

Seluruh rangkaian kegiatan menjadi penegasan bahwa gagasan Romo Benny tentang kemanusiaan, toleransi, dan demokrasi akan terus dilanjutkan oleh berbagai elemen masyarakat.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran