Yield Naik, Data Ekonomi Bayangi Rupiah

|

GUGAH – Di pasar obligasi domestik, tekanan jual masih berlanjut. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 1 tahun naik 9,6 basis poin (bps) menjadi 7,04%. Kenaikan juga terjadi pada tenor 10 tahun yang bertambah 8,5 bps ke level 7,72%, tenor 5 tahun naik 5,4 bps menjadi 7,59%, sementara tenor 6 tahun mencatat lonjakan terbesar, yakni 15,4 bps ke 7,66%.

Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi yang dijadwalkan rilis hari ini. Berdasarkan konsensus pasar, inflasi Indonesia pada Oktober diperkirakan mencapai 3,25% secara tahunan. Meski lebih rendah dibanding periode sebelumnya, inflasi diperkirakan masih bertahan pada level yang relatif tinggi.

Baca Juga:  Ekonomi Jabar Tumbuh, tetapi 3,44 Juta Warga Masih Miskin dan 1,79 Juta Menganggur

Perhatian juga tertuju pada kinerja perdagangan luar negeri. Pertumbuhan impor diperkirakan masih meningkat, namun belum diimbangi oleh ekspor yang diproyeksikan kembali melambat pada September. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi surplus neraca perdagangan.

Survei Bloomberg memperkirakan surplus neraca perdagangan September sebesar US$1,82 miliar. Jika terealisasi, nilainya menyusut sekitar 48,7% dibanding surplus Agustus yang mencapai US$3,55 miliar.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan melambat menjadi 5,17% secara tahunan, dari 5,29% pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini dinilai dapat menambah tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Baca Juga:  Purbaya Minta Pelaku Usaha Laporkan Transaksi Berbasis Dolar AS di Pelabuhan

“Indikator aktivitas ekonomi menunjukkan tekanan yang lebih besar dari sektor keuangan, yang kemungkinan melemahkan investasi modal,” tulis Bloomberg Economics dalam laporannya.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpotensi bergerak di kisaran Rp18.120-Rp18.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Analisis Teknikal

Secara teknikal, rupiah berisiko kembali melemah setelah gagal menembus level resistance terdekat. Level Rp18.170 per dolar AS menjadi support pertama yang perlu dicermati. Apabila tekanan berlanjut, pelemahan berpotensi menguji support berikutnya di Rp18.200 per dolar AS.

Baca Juga:  Iran Tuduh Netanyahu Seret AS ke Perang demi Hindari Penjara

Jika kedua level tersebut ditembus dalam perdagangan pekan ini, rupiah berpeluang melanjutkan pelemahan hingga mendekati Rp18.300 per dolar AS sebagai area support berikutnya.

Sebaliknya, apabila rupiah mampu menguat, level resistance awal berada di Rp18.100 per dolar AS. Jika berhasil ditembus, ruang penguatan berpotensi berlanjut hingga menguji area psikologis Rp18.000 per dolar AS.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran