Merombak Paradigma Golkar Purwakarta?

|

TERPILIHNYA Dias Rukmana Praja (DRP) secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Purwakarta, harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan besar-besaran terhadap arah dan budaya politik Partai Golkar Purwakarta.

Ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan kesempatan untuk mengembalikan marwah, soliditas, dan kejayaan Golkar yang selama ini menjadi salah satu kekuatan politik penting di Purwakarta.

Namun, pertanyaan mendasarnya: beranikah Ketua Terpilih itu nantinya mengubah paradigma politik Golkar Purwakarta, atau justru hanya melanjutkan pola lama dengan kemasan kepemimpinan baru?

Dalam esensi diagnosis politik, aklamasi bukan jaminan kejayaan. Golkar Purwakarta butuh pembenahan, bukan sekedar penggantian ketua dan bagi-bagi posisi.

Aklamasi bukan cek kosong, mandat organisasi bukan pula legitimasi untuk mempertahankan lingkaran kepentingan yang selama ini berpotensi menghambat pembesaran partai.

Partai besar membutuhkan kader berintegritas, memiliki kapasitas, rekam jejak perjuangan, dan loyalitas terhadap organisasi. Bukan kader karbitan yang hanya muncul ketika ada kepentingan politik, menumpang popularitas, atau menjadikan kebesaran nama partai sebagai kendaraan untuk mengejar jabatan dan kekuasaan.

Salah satu pekerjaan rumah terbesar DRP dalam memimpin Partai Golkar Purwakarta ke depan, adalah membenahi pola rekrutmen dan penempatan kader dalam struktur organisasi.

Jangan sampai kepengurusan baru justru menjadi ajang akomodasi kepentingan kelompok, kedekatan personal, dan kompromi politik. Posisi strategis partai harus diberikan berdasarkan kapasitas, integritas, loyalitas, dan kontribusi nyata. Partai tidak boleh menjadi tempat berlindung bagi mereka yang miskin rekam jejak perjuangan, tetapi kaya ambisi kekuasaan.

Baca Juga:  Golkar Purwakarta Bukan Alat Kekuasaan Pribadi

Jika ingin mengembalikan kejayaan Golkar Purwakarta, DRP harus berani melakukan evaluasi secara objektif. Kader yang benar-benar bekerja harus diberikan ruang, sementara mereka yang hanya menjadikan partai sebagai akses kepentingan pribadi harus berani dievaluasi. Jangan sampai yang berjuang tersisih, sementara yang pandai mendekat justru mendapatkan tempat terhormat!

Perubahan paradigma bukan berarti menyingkirkan generasi lama, demi memberi panggung kepada wajah-wajah baru. Justru DRP harus mampu merajut kekuatan lintas generasi, dengan mengembalikan peran kader senior dan para pini sepuh dalam proses pembenahan partai.

Mereka bukan sekadar saksi sejarah, mereka memiliki pengalaman, jejaring politik dan pemahaman organisasi. Serta rekam jejak perjuangan, yang selama ini menjadi modal sosial bagi Golkar Purwakarta.

Sangat keliru apabila regenerasi dimaknai sebagai amputasi sejarah organisasi. Kader senior dan pini sepuh jangan hanya dihormati dalam seremoni, tetapi kemudian diabaikan dalam pengambilan keputusan. Berikan kembali ruang dan peran strategis kepada mereka sebagai sumber pemikiran, penasihat, mediator, serta perekat soliditas organisasi.

Di sisi lain, kader muda yang memiliki kapasitas dan integritas, harus diberikan kesempatan untuk berkembang. Regenerasi harus berjalan, tetapi jangan memutus mata rantai pengalaman.

Jangan membangun Golkar dengan menyingkirkan yang tua atau memanjakan yang baru. Satukan pengalaman generasi senior, energi generasi muda, dan integritas seluruh kader!

Tak Hanya Tambah Kursi, Tapi Bangun Kepercayaan Rakyat

Target politik Golkar untuk meningkatkan perolehan kursi DPRD Purwakarta, tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun, target elektoral tidak akan berarti apabila tidak dibarengi pembenahan internal dan keberpihakan nyata kepada masyarakat. Golkar harus kembali menjadi kekuatan politik yang kritis, konstruktif, dan memiliki keberanian mengawal kebijakan pemerintah daerah.

Baca Juga:  Tunjangan Transportasi Bisa Nyicil Pajero, Rakyat Malah Pusing Mikirin Biaya Sekolah

Jangan sampai suara partai begitu lantang ketika berbicara tentang kekuasaan, tetapi melemah ketika harus mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

Masyarakat tidak membutuhkan partai yang hanya ramai menjelang pemilu. Masyarakat membutuhkan partai yang hadir, bekerja, mengawal kebijakan publik, dan berani memperjuangkan kepentingan rakyat sekalipun harus berhadapan dengan kekuasaan.

Ujian Kepemimpinan DRP

Kepemimpinan DRP dalam menakhodai Partai Golkar Purwakarta ke depan, setidaknya harus diuji melalui lima hal:

1. Pembenahan kaderisasi, menghentikan dominasi politik pragmatis dan memberikan ruang berdasarkan kompetensi serta rekam jejak.

2. Evaluasi kader dan pengurus, dengan tidak mempertahankan figur yang hanya menumpang kebesaran partai tanpa kontribusi nyata.

3. Merangkul kader senior dan pini sepuh, untuk mengoptimalkan pengalaman dan jejaring mereka sebagai kekuatan organisasi.

4. Regenerasi yang sehat, yakni memberikan ruang kepada kader muda potensial tanpa mengorbankan sejarah dan pengalaman generasi sebelumnya.

5. Mengembalikan keberpihakan politik, dengan menjadikan Golkar Purwakarta sebagai kekuatan yang kritis, responsif, dan benar-benar hadir di tengah masyarakat.

Pertanyaan terbuka: beranikah DRP membongkar pola-pola lama yang tidak produktif, sekalipun harus berhadapan dengan kepentingan kelompok tertentu di internal partai?

Beranikah DRP memberikan kembali ruang kepada kader senior dan pini sepuh yang memiliki pengalaman serta jasa terhadap perjalanan Golkar? Beranikah DRP menempatkan kader berdasarkan kompetensi dan integritas, bukan kedekatan dan kepentingan? Dan mampukah DRP membuktikan bahwa aklamasi yang mengantarkannya menjadi ketua bukan sekadar kemenangan dalam forum Musda, melainkan awal kebangkitan Golkar Purwakarta?

Baca Juga:  Rakyat Selalu Membayar Mahal Saat Ketahanan Pangan Rapuh

Golkar Purwakarta tidak kekurangan orang yang ingin berkuasa, bahkan para pencari muka ketika DRP jadi ketua. Itu dinamika, dan sah-sah saja manakala pemenang dalam perhelatan sudah ada.

Tapi harus diingat, Golkar Purwakarta ke depan soliditas kuat, dan yang dibutuhkan adalah kader yang mau berjuang. Berani bersikap, memiliki integritas, dan sanggup mengembalikan kepercayaan publik.

DRP harus memahami, bahwa membesarkan partai bukan pekerjaan satu orang atau satu kelompok. Dibutuhkan keberanian menyatukan seluruh potensi organisasi, menghargai sejarah perjuangan, membuka ruang regenerasi, serta menghentikan praktik politik yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Sebab, kejayaan Partai Golkar Purwakarta tidak akan kembali dengan hanya mengganti Ketua. Kejayaan itu harus dibangun dengan membersihkan politik pragmatis, menghargai kader sejati. Merangkul lintas generasi, dan melahirkan generasi baru yang berintegritas.

Aklamasi sudah menjadi modal awal, sekarang saatnya DRP membuktikan keberanian untuk membawa perubahan. Jika cuma sekedar mengejar tahta, tanpa mau menilai bagaimana suatu situasi politik akan berkembang di masa depan. Lebih baik tunggu saja, bahwa ke depan jangankan berjaya tapi mungkin banyak berkurang suara.

Agus M. Yasin
Penulis adalah Politisi Senior Mantan Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD Purwakarta.

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran