Kopi Garut Dibidik Naik Kelas, Lapas Kelas IIA Garut-Paskopi Gembleng Petani

|

GUGAH – Potensi kopi di Kabupaten Garut terus mendapat perhatian melalui berbagai upaya peningkatan kapasitas petani di tingkat lapangan. Lapas Kelas IIA Garut bersama Paskopi menggandeng PT Kans Agro Indonesia dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Bandung Barat menggelar pelatihan agroforestri berbasis budidaya serta pengolahan biji kopi pascapanen di Kampung Cisagu, Desa Talagawangi, Kecamatan Pakenjeng, pada 6-9 Oktober 2026.

Sebanyak 16 peserta dari berbagai daerah yang memiliki potensi kopi di Kabupaten Garut mengikuti kegiatan tersebut. Mereka merupakan masyarakat lokal sekaligus petani kopi yang selama ini terlibat langsung dalam aktivitas perkebunan, sehingga materi pelatihan diarahkan pada kebutuhan teknis yang dapat diterapkan di kebun.

Pelatihan tersebut tidak hanya membahas bagaimana menanam kopi, tetapi juga mendorong peserta memahami pengelolaan tanaman dan penanganan hasil setelah panen. Pendekatan itu dinilai penting karena kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh varietas dan kondisi lahan, tetapi juga oleh cara petani merawat tanaman serta mengolah hasil panen.

Peserta akan menjalani tahapan lanjutan berupa Ujian Kompetensi pada 10 Oktober 2026. Mereka yang dinyatakan lulus nantinya berpeluang mendapatkan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Kompetensi menjadi target. Program ini diharapkan tidak berhenti sebagai pelatihan, tetapi memberikan pengakuan terhadap kemampuan peserta dalam menjalankan pekerjaan di bidang budidaya kopi.

Baca Juga:  Lahan Kering Terbakar, Api Mengarah ke Perumahan di Simpenan Sukabumi

Kalapas Kelas IIA Garut Rusdedy mengatakan keterlibatan lembaganya merupakan bagian dari komitmen mendukung program ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, para peserta memiliki peluang untuk melanjutkan kerja sama melalui pembentukan komunitas yang dapat menjadi wadah pengembangan usaha kopi.

“Peserta pelatihan ini sejatinya bisa berkolaborasi membentuk komunitas dan sama-sama membangun usaha di bidang kopi,” ujar Rusdedy.

Rusdedy berharap pengetahuan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif setelah pelatihan selesai. Kolaborasi antarpeserta, menurutnya, akan menjadi lebih kuat apabila dibangun dalam sebuah komunitas yang memiliki tujuan dan usaha bersama.

Sementara itu, Owner Paskopi Amirullah Kandu mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kesinambungan program Paskopi dalam membangun ekosistem kopi dari hulu hingga hilir. Setelah sebelumnya menggelar pelatihan barista, Paskopi langsung melanjutkan program dengan membawa peserta pada aspek budidaya dan pascapanen.

“Setelah pelatihan barista kemarin, Paskopi langsung menggelar pelatihan ini,” kata Amirullah.

Menurut Amirullah, penguatan sektor hulu menjadi penting karena kemampuan petani sangat menentukan kualitas bahan baku kopi yang akan masuk ke tahap pengolahan. Terlebih, Kampung Cisagu merupakan salah satu kawasan yang memiliki potensi produksi kopi robusta di Kabupaten Garut.

Baca Juga:  PMII Garut Soroti Anggaran Kendaraan Inspektorat Rp1.8 Miliar

“Cisagu merupakan salah satu kantong penghasil robusta di wilayah Garut. Untuk mendongkrak produktivitas, sumber daya manusia para petani kopi harus dibekali ilmu tentang perawatan tanaman kopi yang sesuai standar,” ujarnya.

Amirullah menilai pengembangan kopi tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam dan luas lahan. Petani perlu memiliki pengetahuan yang memadai agar tanaman yang sudah ditanam dapat dirawat secara konsisten dan menghasilkan buah dengan kualitas yang lebih baik.

Pandangan tersebut sejalan dengan penilaian instruktur pelatihan dari BPVP Bandung Barat, Asep Rusdiana. Ia melihat masih terdapat pola pengelolaan kebun yang belum optimal karena sebagian petani menanam kopi, kemudian meninggalkan kebun untuk bekerja atau merantau tanpa melakukan perawatan secara berkelanjutan.

“Sebagian besar petani selama ini hanya menanam kopi lalu pergi merantau dan membiarkan tanaman kopi tumbuh tanpa perawatan,” ujar Asep.

Menurut Asep, kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dijawab melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani. Ia berharap pelatihan dapat menghasilkan petani yang tidak hanya mampu menanam, tetapi juga memahami standar budidaya sehingga produktivitas kebun dapat meningkat.

Baca Juga:  MUI Garut Tegaskan Kirab Budaya Sunda Bukan Praktik Syirik, Budaya Dinilai Bisa Jadi Media Dakwah

“Harapannya, pelatihan ini benar-benar mampu mencetak petani yang memiliki kompetensi di bidang budidaya kopi,” katanya.

Keterlibatan Lapas Kelas IIA Garut dalam pemberdayaan masyarakat Cisagu juga tidak dimulai dari pelatihan kali ini. Beberapa bulan sebelumnya, Lapas Garut telah melaksanakan kegiatan bakti sosial berupa perbaikan jalan desa yang menjadi salah satu akses masyarakat untuk mengangkut hasil kebun.

Perbaikan infrastruktur tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Akses yang lebih baik diharapkan dapat membantu petani membawa hasil perkebunan dari kawasan produksi menuju tempat pengumpulan maupun pemasaran.

Kolaborasi Lapas Kelas IIA Garut dan Paskopi bersama para mitra akhirnya membawa pelatihan kopi ke level yang lebih luas. Bukan hanya soal teknik menanam, tetapi juga membangun keterampilan, meningkatkan kualitas hasil, membuka peluang usaha, dan mempersiapkan petani menghadapi standar kompetensi kerja.

Bagi Garut, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan potensi kopi lokal agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Dari kebun Cisagu, para petani kini didorong memiliki kemampuan yang lebih terukur agar kopi Garut mampu memiliki nilai tambah sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran