Inflasi September 3,28 Persen, Harga Pangan hingga Emas Jadi Biang Tekanan

|

GUGAH – Angka inflasi September 2026 mungkin hanya terlihat seperti statistik: 3,28 persen secara tahunan.

Tetapi di balik angka itu ada harga ikan, ayam, cabai, beras, minyak goreng, ongkos perjalanan, hingga emas dan perhiasan yang bergerak naik.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), naik dari 3,19 persen pada Agustus. Secara bulanan, harga-harga juga naik 0,30 persen dibanding Agustus, sementara inflasi sepanjang tahun berjalan mencapai 2,17 persen.

Artinya, tekanan harga belum benar-benar mereda.

Pangan Masih Jadi Cerita Utama

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber tekanan terbesar.

BPS mencatat kelompok ini mengalami inflasi 4,37 persen secara tahunan dengan andil terhadap inflasi sebesar 1,28 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama.

“Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, skm, dan daging sapi,” kata Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10/2026).

Daftar tersebut cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika harga beras, minyak goreng, ayam, ikan, dan cabai bergerak naik, dampaknya tidak berhenti pada angka statistik. Pengeluaran rumah tangga ikut menyesuaikan.

Data BPS menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau memang menjadi salah satu komponen penting dalam pergerakan inflasi nasional.

Baca Juga:  Harga Emas di Pegadaian Turun, Berikut Daftar Harga Terbaru Kamis 11 Juni 2026

Bukan Cuma Soal Harga di Pasar

Tekanan inflasi September juga datang dari transportasi.

Kelompok transportasi mengalami inflasi 4,84 persen dengan andil 0,58 persen. Komoditas yang mendorongnya antara lain bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, biaya pemeliharaan dan servis, serta mobil.

Ini berarti tekanan harga tidak hanya dirasakan ketika masyarakat berbelanja kebutuhan dapur.

Biaya untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain juga ikut menjadi bagian dari tekanan harga.

Ketika ongkos perjalanan naik, dampaknya bisa merembet ke pengeluaran rumah tangga maupun biaya aktivitas ekonomi.

Emas Naik, Inflasi Ikut Terdorong

Ada satu kelompok lain yang menarik perhatian: perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Kelompok ini mengalami inflasi 7,77 persen dan memberikan andil 0,53 persen terhadap inflasi.

“Inflasi pada kelompok ini terutama terjadi pada komoditas emas dan perhiasan,” tutur Ateng.

Ini menunjukkan bahwa inflasi September tidak hanya bercerita tentang kebutuhan konsumsi harian.

Harga emas dan perhiasan yang meningkat juga ikut memengaruhi angka inflasi. Dengan kata lain, tekanan harga datang dari beberapa sisi sekaligus: kebutuhan pangan, mobilitas, hingga komoditas bernilai tinggi seperti emas.

Inflasi Naik, Tapi Masih di Bawah Ramalan

Sebelum data resmi dirilis, konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan inflasi September berada di kisaran 3,3 persen secara tahunan.

Baca Juga:  Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp120 Ribu per Kg, Telur Ayam Ras Rp37.500

Realisasinya ternyata sedikit lebih rendah, yakni 3,28 persen.

Namun, angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan inflasi Agustus yang berada di level 3,19 persen.

Di sini ada dua cerita yang berjalan bersamaan.

Pertama, inflasi September ternyata tidak setinggi perkiraan konsensus.

Kedua, tekanan harga secara tahunan justru meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Jadi, angka 3,28 persen tidak tepat dibaca hanya sebagai kabar bahwa inflasi “di bawah ramalan”. Pergerakannya dibandingkan bulan sebelumnya juga penting.

Cabai Kembali Jadi Alarm

Pergerakan harga pangan menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan.

Mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) dalam bahan laporan ini, harga cabai merah mengalami kenaikan di sejumlah daerah sepanjang September.

Kenaikan disebut mencapai 48,21 persen di Jawa Timur, 36,72 persen di Jawa Tengah, 35,89 persen di Banten, 31,43 persen di Maluku Utara, 24,07 persen di Bali, dan 20,87 persen di Gorontalo.

Cabai rawit juga mengalami kenaikan di sejumlah provinsi, antara lain Sulawesi Tenggara 61,1 persen, Sulawesi Barat 49,79 persen, Sulawesi Selatan 40,34 persen, Gorontalo 39,99 persen, dan Kalimantan Utara 32,43 persen.

Angka tersebut memberi gambaran mengapa harga pangan menjadi salah satu sumber tekanan inflasi September.

Namun, penting membedakan antara inflasi nasional dan perubahan harga komoditas di daerah tertentu. Kenaikan cabai yang tinggi di satu provinsi tidak otomatis berarti harga seluruh kebutuhan masyarakat naik dengan persentase yang sama secara nasional.

Baca Juga:  Harga Beras di Purwakarta Melonjak Tajam, Petani Keluhkan Biaya Produksi dan Faktor Cuaca

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Inflasi 3,28 persen tidak berarti setiap barang yang dibeli masyarakat mengalami kenaikan 3,28 persen.

Inflasi merupakan ukuran perubahan harga secara umum berdasarkan keranjang konsumsi yang digunakan dalam penghitungan IHK. Karena pola belanja setiap keluarga berbeda, dampak yang dirasakan juga bisa berbeda.

Bagi rumah tangga yang belanja pangannya cukup besar, kenaikan harga ayam, ikan, cabai, beras, atau minyak goreng bisa terasa lebih cepat.

Sementara bagi masyarakat yang banyak menggunakan transportasi atau memiliki kebutuhan lain yang terdampak kenaikan harga, tekanan pengeluaran bisa datang dari pos yang berbeda.

Itulah sebabnya angka inflasi nasional perlu dibaca lebih dalam.

Bukan hanya soal berapa persennya, tetapi barang apa yang naik dan siapa yang paling merasakan dampaknya.

September memberi gambaran bahwa tekanan harga Indonesia datang dari beberapa arah sekaligus. Pangan masih menjadi sumber tekanan penting, transportasi ikut meningkat, sementara emas dan perhiasan juga memberikan kontribusi.

Inflasi akhirnya bukan sekadar angka yang diumumkan setiap awal bulan.

Di level rumah tangga, ia bisa berarti satu hal sederhana: uang yang sama harus dipakai lebih cermat untuk membeli kebutuhan yang sama.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran