IHSG Anjlok 8% Saat Pembukaan, Bursa Langsung Trading Halt di Tengah Tekanan Global

|

GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjun bebas saat pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026). Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan menghentikan sementara perdagangan (trading halt) setelah indeks ambles lebih dari 8 persen hanya beberapa menit setelah pasar dibuka.

IHSG dibuka di level 5.393,92, turun 469,86 poin atau 8,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level 5.863,78. Sepanjang pembukaan, nilai transaksi telah mencapai Rp922,33 miliar dengan volume perdagangan 53,6 juta lot.

Koreksi tajam ini terjadi di tengah akumulasi sentimen negatif global dan domestik yang memicu aksi jual investor. Mulai dari ancaman penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI, lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS), eskalasi konflik geopolitik, hingga meningkatnya spekulasi politik di dalam negeri.

MSCI Jadi Tekanan Terbesar

Baca Juga:  Siswa SMA di Garut Kehilangan Penglihatan akibat Tertembak Airgun, Polisi Buru Pelaku

Salah satu sentimen yang paling membebani pasar adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

MSCI menilai masih terdapat persoalan serius terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta lemahnya efektivitas penegakan regulasi. Konsultasi tersebut akan berlangsung hingga 30 April 2027, sementara keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Selain itu, MSCI juga mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia, termasuk tidak menambah emiten baru ke MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI) maupun menaikkan bobot sejumlah saham.

Inflasi AS Menguat, Peluang Suku Bunga Tinggi Meningkat

Tekanan juga datang dari Amerika Serikat. Inflasi harga produsen (Producer Price Index/PPI) pada September melonjak 1,3 persen secara bulanan, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,5 persen dan menjadi kenaikan tertinggi dalam sekitar empat setengah tahun.

Baca Juga:  Dijanjikan Kerja di Salon, Ibu Muda Diduga Dipaksa Layani Pria di Garut

Secara tahunan, PPI mencapai 6,3 persen, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi belum mereda.

Data ini meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, yang berpotensi memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, data klaim pengangguran AS tetap menunjukkan pasar tenaga kerja yang solid. Klaim awal pengangguran hanya naik tipis menjadi 199 ribu, masih lebih baik dari perkiraan pasar.

Konflik Timur Tengah Kembali Memanas

Sentimen risiko global juga meningkat setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke kompleks Istana Presiden Al-Maashiq di Aden, Yaman.

Baca Juga:  IHSG dan Rupiah Tertekan, Kusfiardi: Pasar Sedang Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia

Serangan tersebut menewaskan lima orang dan melukai 16 lainnya, menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Pasar Menanti Sinyal The Fed

Pelaku pasar juga menantikan pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam forum IMF–World Bank di Bangkok, Thailand.

Diskusi bersama Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva diperkirakan akan memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga AS, prospek inflasi global, hingga risiko ekonomi dunia.

Sinyal kebijakan moneter yang lebih agresif berpotensi kembali menekan rupiah dan pasar saham negara berkembang, sementara pernyataan yang lebih dovish dapat menjadi katalis positif bagi aset berisiko.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dan ketidakpastian domestik, volatilitas diperkirakan masih akan membayangi pergerakan pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran