Wujudkan Muktamar NU yang Bersih dan Berkah

GARUT – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Tantowi Jauhari Musaddad, menyampaikan pesan penting terkait integritas organisasi. Ia menegaskan bahwa forum tertinggi dalam tubuh NU tersebut harus terbebas dari praktik politik uang, kepentingan pribadi, serta pola-pola yang menyerupai kontestasi partai politik.

Dalam keterangannya, Kiai yang akrab disapa Kiai Toto itu mengingatkan bahwa Muktamar bukan sekadar agenda rutin untuk memilih pemimpin, melainkan wadah musyawarah yang mulia bagi para ulama dalam merumuskan arah perjuangan dan dakwah ke depan.

Baca Juga:  Jeratan Pungli dan Perbudakan Modern Bayangi Pencari Kerja di Purwakarta

“Muktamar adalah forum mulia. Di sanalah para ulama bermusyawarah menentukan masa depan organisasi. Maka jangan sampai ternodai oleh kepentingan sesaat,” ujarnya.

Kiai Toto menekankan kepada seluruh pemilik hak suara, baik dari tingkat Pengurus Cabang (PCNU) maupun Pengurus Wilayah (PWNU), agar senantiasa mengedepankan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan individu atau kelompok. Ia juga mengingatkan agar dinamika yang terjadi tidak berubah menjadi konflik yang dapat merusak ukhuwah di internal warga Nahdliyin.

Lebih lanjut, terdapat tiga hal utama yang harus dihindari dalam pelaksanaan Muktamar, yakni praktik politik uang, intrik kelompok yang tidak sehat, serta pola kontestasi ala partai politik yang berpotensi merusak nilai-nilai keulamaan.

Baca Juga:  Gerakan NU Care Hijau, PCNU Garut Tanam 250 Pohon Produktif di Limbangan

“Jangan sampai Muktamar ini diwarnai ‘gontok-gontokan’ yang justru merugikan organisasi. Kita semua punya tanggung jawab menjaga kehormatan NU,” tegasnya.

Selain aspek teknis dan etika organisasi, Kiai Toto juga mengajak seluruh elemen untuk turut mendoakan agar proses Muktamar berjalan dengan penuh keberkahan dan mendapatkan bimbingan ilahiah. Aspek spiritual dinilai menjadi kunci agar keputusan yang dihasilkan benar-benar membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Baca Juga:  Buruh di Kota Bekasi Belum Sepenuhnya Sejahtera, Wakil Ketua Komisi IV: May Day Jangan Sekadar Seremonial

“Semoga Muktamar ini mendapatkan bimbingan dari langit, sehingga melahirkan pemimpin yang mampu menjaga marwah NU sebagai wadah dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah,” imbuhnya.

Di akhir pesannya, ia menegaskan bahwa NU merupakan amanah besar yang diwariskan oleh para pendahulu, sehingga harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“NU adalah amanah besar. Ia hadir untuk menguatkan dakwah Islam di berbagai lini kehidupan, bangsa, masyarakat, hingga keluarga. Maka kita butuh Muktamar yang bersih, sehat, dan bermartabat,” pungkasnya.*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *