KH. Aceng Mimar Hidayatullah: Sang Mursyid Penjaga Tradisi Intelektual dan Penggerak Nahdliyin Garut

Panggung dakwah di Jawa Barat, khususnya di wilayah Garut, mencatat nama KH. Aceng Mimar Hidayatullah sebagai salah satu pilar ulama kharismatik yang memiliki pengaruh luas. Lahir pada tahun 1949 di Panyingkiran, beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Faizien, Urug Nangoh, yang melanjutkan estafet kepemimpinan dari ayahandanya, KH. Aceng Wajihaddin.

Secara genealogi, sosok yang akrab disapa “Aceng Mimar”—panggilan kesayangan dari ibundanya, Rd. Hj. Zakiyyah—ini memiliki sanad keturunan yang tersambung hingga ulama besar abad ke-17, Syekh Hasan Nuryayi. Transformasi gelar dari Pangresa Anom menjadi Pangresa Sepuh yang disandangnya mencerminkan perjalanan panjang kematangan intelektual dan spiritualitasnya di tengah santri dan alumni.

Rihlah ilmiah atau perjalanan menuntut ilmu Abah Mimar dimulai di bawah bimbingan langsung sang ayah sebelum akhirnya berkelana ke berbagai pesantren besar di Jawa Barat. Beliau tercatat pernah mendalami khazanah kitab kuning di Ponpes Palahan di bawah asuhan KH. Dahlan, lalu melanjutkan pengembaraan kepada tokoh-tokoh besar seperti Mama Galumpit (KH. Muhammad Yusuf), Mama Ciharashas Cianjur, hingga Mama Cibeureum Sukabumi.

Baca Juga:  Mama Sempur: Sosok Guru Peradaban dan Warisan yang Tak Pernah Mati

Ketekunannya dalam bidang linguistik Arab dan Al-Qur’an membawanya berguru pada KH. Aceng Ma’mun Sukaregang dan KH. Rd. Utsman di Riyadul Alfiyah Sadang, serta memperluas jejaring intelektualnya hingga ke Buntet Pesantren Cirebon melalui KH. Fu’ad Hasyim MA.

Kapasitas kepemimpinan Abah Mimar tidak hanya terbatas di dalam bilik pesantren, tetapi juga teruji dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Meniti karier dari tingkat bawah di IPNU dan Ansor, beliau mencapai posisi strategis sebagai Rais Syuriah PCNU Kabupaten Bandung sekitar tahun 1980.

Baca Juga:  Dari Kebun Singkong Menjadi Cahaya Ilmu: Transformasi Sejarah Ponpes Darul Huda Al Hasanah Cihurip

Selain pengabdian formal di organisasi, dimensi spiritualitas beliau diperkuat dengan kedudukannya sebagai Mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiah (TQN). Sanad tarekat ini tersambung secara lurus kepada Syekh Ahmad Khotib Sambas melalui buyutnya, Syekh Muhammad Adzro’i Bojong, yang menjadikan beliau sebagai rujukan utama bagi para pencari kedalaman batin di wilayah Garut dan sekitarnya.

Menghadapi tantangan zaman, Abah Mimar melakukan langkah visioner dengan mengintegrasikan sistem pesantren tradisional dengan pendidikan formal. Di bawah kepemimpinannya, Hidayatul Faizien berkembang pesat melalui pendirian unit pendidikan dari tingkat PAUD, MI, MTs, MA, hingga SMK.

Strategi ini diambil sebagai upaya menarik minat masyarakat agar tetap menjadikan pesantren sebagai poros pendidikan utama tanpa tertinggal secara akademis formal. Keberhasilan metode pendidikannya terbukti dengan lahirnya alumni-alumni berpengaruh, salah satunya KH. Imin Rohimadin, pendiri Ponpes Miftahul Huda di Tasikmalaya, yang meneruskan pola dakwah serupa.

Baca Juga:  Jamaah Haji Kloter 07 JKS Menuju Tanah Suci, Bupati Bogor Pesan Jaga Kesehatan dan Kekompakan

Pesan yang paling fundamental dan senantiasa terngiang di telinga para santri adalah keteguhannya terhadap tradisi “mengaji”. Sebelum berpulang ke Rahmatullah pada 17 Januari 2024 di usia 74 tahun, beliau menitipkan wasiat yang menjadi jangkar spiritual bagi keluarga dan murid-muridnya.

“Ulah eureun ngaji, ulah eureun ngaji, ulah eureun ngaji, rek aya rek euweuh anu ngawuruk, lamun geus waktuna ngaji, korbankeun awak keur pangajian.”

Pesan ini menekankan bahwa istiqomah dalam mencari ilmu adalah kunci kemuliaan dunia dan akhirat. Kini, kepemimpinan dan perjuangan beliau dilanjutkan oleh putra-putrinya, termasuk Dr. Hj. Neng Hilma Mimar M.MPd., yang memastikan obor pendidikan di Hidayatul Faizien tetap menyala bagi generasi mendatang.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *