KEDIRI – Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menjadi saksi bisu konsolidasi besar jajaran Syuriyah Nahdlatul Ulama, Kamis (7/5/2026). Pertemuan yang dikemas dalam bingkai Halalbihalal ini dihadiri oleh Syuriyah PCNU se-Jawa Timur, serta perwakilan Syuriyah PWNU Jawa Tengah dan DIY.
Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Di balik suasana khidmat, tersirat dukungan kuat bagi Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), untuk melanjutkan kepemimpinannya pada periode kedua.
Hadir dalam pertemuan tersebut tuan rumah sekaligus Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Anwar Manshur, bersama jajaran masyayikh Lirboyo seperti KH Kafabihi Mahrus dan Gus Athoillah. Dari jajaran PBNU, Gus Yahya hadir didampingi Amin Said Husni, KH Muhib Aman Ali, hingga Kyai Muad Thohir.
Tercatat 39 Rais Syuriyah PCNU se-Jatim hadir langsung, didampingi 8 Ketua Tanfidziyah. Dari wilayah tetangga, hadir KH Ubaidillah Shodaqoh (Rais Syuriyah PWNU Jateng) dan KH Mas’ud Masduki (Rais Syuriyah PWNU DIY).
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya memaparkan situasi terkini organisasi serta kesiapan Muktamar ke-35. Ia menegaskan komitmennya untuk selalu melibatkan kiai sepuh di jajaran Mustasyar PBNU dalam setiap pengambilan keputusan strategis.
“Kami sudah sepakat dengan Rais Aam untuk menggelar Pleno sebelum Konbes dan Munas. Terkait tempat dan tanggal Muktamar, kami menunggu musyawarah dengan para kiai sepuh,” tegas Gus Yahya di hadapan para kiai.
Lima Rekomendasi Lirboyo
Pertemuan tersebut menghasilkan lima poin rekomendasi resmi yang dibacakan oleh KH Muhib Aman Ali. Poin-poin tersebut menekankan pada:
-
Segerakan Rapat Pleno untuk membahas kesiapan Konbes dan Munas Alim Ulama.
-
Muktamar Bermartabat: Menuntut pelaksanaan yang bersih, transparan, bebas politik uang, serta taat pada AD/ART.
-
Libatkan Mustasyar: Menghormati kebijaksanaan ulama sepuh dalam pengambilan keputusan strategis menuju Muktamar.
-
Kembali ke Pesantren: Mengusulkan agar Muktamar ke-35 digelar di lingkungan pondok pesantren sebagai “rahim” asli NU.
-
Tuan Rumah Lirboyo: Secara spesifik mengusulkan Ponpes Lirboyo sebagai lokasi perhelatan Muktamar ke-35.
Momen paling menarik terjadi saat sesi foto bersama. Di tengah para masyayikh Lirboyo, sayup hingga mengeras teriakan “Lanjutkan!” menggema. Hal ini dinilai sebagai sinyal hijau dari salah satu pesantren paling berpengaruh di Indonesia bagi Gus Yahya untuk menuntaskan agenda “Transformasi Organisasi” yang telah ia rintis.
Menanggapi kode dukungan tersebut, Gus Yahya menjawab dengan diplomatis namun tegas mengenai kemungkinan dirinya kembali maju.
“Saya punya hutang (program) yang belum lunas. Karena sempat diganggu, jika saya meminta waktu lagi untuk membayar hutang saya, itu terserah kepada para kiai. Masa depan NU ini ada pada para ulama; ini tanggung jawab Anda semua,” pungkas Gus Yahya.***



Tinggalkan Balasan