Tak Hanya Gen Z, KPID Jabar Libatkan Lansia Jadi Garda Depan Literasi Media

|

GUGAH – Ancaman konten negatif di ruang digital ternyata tidak hanya membayangi generasi muda. Kelompok lanjut usia (lansia) juga menjadi sasaran empuk hoaks, disinformasi, hingga konten yang berdampak pada kesehatan mental. Berangkat dari realitas itu, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat mulai memperluas strategi literasi media dengan menggandeng para lansia sebagai agen edukasi di lingkungan keluarga.

Langkah tersebut mengemuka saat KPID Jawa Barat menerima audiensi pengurus dan peserta Sekolah Lansia Bahagia Antapani di Kantor KPID Jawa Barat, Bandung, Rabu (7/10/2026). Pertemuan itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi titik awal kolaborasi untuk memperkuat ketahanan keluarga menghadapi derasnya arus informasi digital.

Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, menilai lansia memiliki posisi strategis yang selama ini kerap luput dari perhatian. Di tengah meningkatnya konsumsi media digital lintas usia, para orang tua dan kakek-nenek justru menjadi figur yang paling dekat dengan anak dan cucu di rumah.

Baca Juga:  KPID Jabar Kick-Off Hasiarda 2026, Gaungkan Literasi Media dan Perlindungan Anak di Era Digital

“Lansia bukan hanya pengguna media, tetapi juga bisa menjadi penjaga pertama di lingkungan keluarga. Apa yang mereka pahami tentang media akan sangat menentukan bagaimana anak dan cucunya menyikapi informasi,” ujar Adiyana.

Menurutnya, literasi media tidak lagi cukup hanya menyasar pelajar atau Generasi Z. Sebab, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perjudian daring, hingga konten bermuatan kekerasan kini masuk ke ruang keluarga melalui berbagai platform digital yang dapat diakses siapa saja.

Karena itu, KPID Jawa Barat tengah menyiapkan program kolaborasi berkelanjutan bersama Sekolah Lansia Bahagia, salah satunya melalui program Senior Go to School, di mana para lansia nantinya dilibatkan dalam kampanye penyiaran sehat dan edukasi media di sekolah-sekolah.

“Ke depan kami ingin membangun kolaborasi yang lebih konkret. Lansia memiliki pengalaman hidup yang panjang dan bisa menjadi bagian dari gerakan penyiaran sehat di Jawa Barat,” katanya.

Lansia Dinilai Rentan Terpapar Konten Negatif

Di sisi lain, Ketua Yayasan Dahlia Sari, Heru Paku Sujanto, menyebut perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru bagi kelompok lansia. Selain rentan menjadi korban hoaks, tidak sedikit lansia yang mengalami tekanan psikologis akibat paparan informasi negatif yang terus-menerus.

Baca Juga:  Setlog Jadi Aplikasi Viral 2026, Begini Cara Gen Z Membuat Vlog Harian yang Lebih Autentik

“Isi media sekarang kadang meresahkan. Tidak hanya anak-anak, lansia pun bisa mengalami stres bahkan depresi akibat konsumsi informasi yang tidak sehat,” ujarnya.

Menurut Heru, keluarga membutuhkan ekosistem informasi yang lebih sehat agar media benar-benar menjadi ruang edukasi, bukan justru menjadi sumber kecemasan.

Ia pun menyambut baik langkah KPID Jawa Barat yang mulai membuka ruang kolaborasi dengan komunitas lansia.

“Kami siap terlibat. Lansia bisa menjadi filter pertama di keluarga untuk mengingatkan anak dan cucu tentang tontonan maupun informasi yang layak dikonsumsi,” katanya.

Literasi Media Tak Lagi Sekadar Mengawasi Televisi

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua KPID Jawa Barat Almadina Rakhmaniar memberikan edukasi kepada sekitar 50 peserta Sekolah Lansia Bahagia mengenai literasi media, mulai dari regulasi penyiaran, Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), hingga dampak psikologis media terhadap aspek kognitif, afektif, dan konatif berdasarkan hasil riset KPID Jawa Barat.

Baca Juga:  Jalsah Salanah Bukan Makar, Hak Warga Negara Tak Boleh Dikalahkan Tekanan

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa literasi media kini tidak lagi sebatas mengawasi isi siaran televisi dan radio. Tantangan terbesar justru berada di ruang digital yang bergerak jauh lebih cepat dibanding kemampuan masyarakat dalam memverifikasi informasi.

KPID Jawa Barat meyakini kolaborasi lintas generasi menjadi salah satu strategi penting membangun ketahanan informasi masyarakat. Ketika lansia, orang tua, sekolah, dan lembaga negara bergerak bersama, upaya melindungi masyarakat dari paparan konten negatif dinilai akan lebih efektif.

Di tengah target menyongsong Indonesia Emas 2045, penguatan literasi media dinilai bukan lagi sekadar program edukasi, melainkan investasi sosial untuk membangun masyarakat yang lebih kritis, sehat secara digital, dan tangguh menghadapi banjir informasi.

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran