Pemuda Asal Pangandaran Tekuni Budidaya Maggot, Dorong Solusi Limbah Sisa Makanan Program MBG

PANGANDARAN – Di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pengelolaan limbah sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), seorang pemuda asal Pangandaran, Muhammad Ridwan, memilih mengambil langkah nyata. Ia menekuni budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengolahan sampah organik yang dinilai masih belum tertangani secara maksimal.

Ridwan menilai, program MBG yang berjalan di berbagai daerah memang membawa manfaat besar bagi pemenuhan gizi masyarakat, terutama pelajar. Namun di sisi lain, muncul persoalan baru berupa meningkatnya volume sisa makanan dari dapur umum maupun distribusi makanan harian.

“Setiap hari ada sisa nasi, sayur, lauk, dan bahan organik lain yang jumlahnya tidak sedikit. Kalau tidak diolah, itu akan jadi sampah dan menimbulkan bau serta pencemaran,” ujar Ridwan saat ditemui di lokasi budidaya maggot miliknya di Pangandaran, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Ridwan, selama ini sebagian besar dapur MBG masih berfokus pada produksi dan distribusi makanan. Sementara sistem pengelolaan limbah organik belum menjadi perhatian utama. Akibatnya, sisa makanan banyak yang berakhir di tempat pembuangan sampah tanpa proses pemanfaatan lanjutan.
Ia menyebut, persoalan utama bukan hanya soal volume limbah, melainkan belum terbentuknya mata rantai pengelolaan yang terintegrasi antara dapur MBG, pengolah sampah organik, peternak, hingga sektor pertanian dan perikanan.

Baca Juga:  Bupati Garut Tekankan Kolaborasi Pengawasan demi Kelancaran Program MBG dan Koperasi Merah Putih

“Dapur MBG umumnya belum memiliki sistem pemilahan sampah yang baik. Sisa makanan masih tercampur dengan plastik atau bahan lain sehingga sulit dimanfaatkan kembali,” katanya.
Dari kondisi tersebut, Ridwan melihat peluang sekaligus solusi melalui budidaya maggot BSF.

Larva ini dikenal mampu mengurai sampah organik dalam waktu singkat dan menghasilkan nilai ekonomi tinggi. Dalam satu siklus, maggot dapat menghabiskan limbah makanan dalam jumlah besar tanpa menimbulkan bau menyengat seperti proses pembusukan biasa.

Selain membantu mengurangi sampah, maggot juga memiliki kandungan protein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan, unggas, hingga ternak. Kandungan protein maggot bahkan disebut mampu menekan biaya produksi para pembudidaya ikan dan peternak kecil.

Baca Juga:  Legislator Jabar Faisyal Soroti Dampak Penghapusan Jalur Kepsek SPMB 2026

Ridwan menjelaskan, satu kilogram telur BSF mampu menghasilkan jutaan larva yang bisa mengurai berton-ton sampah organik. Setelah masa panen, maggot dapat dijual dalam bentuk segar maupun kering dengan harga yang cukup menjanjikan.

“Jadi ini bukan hanya soal sampah selesai, tapi ada ekonomi sirkular yang terbentuk. Limbah makanan diproses jadi maggot, lalu maggot jadi pakan ternak dan ikan. Sisanya bisa jadi pupuk organik,” ujarnya.

Ia menilai, jika program MBG ingin berjalan berkelanjutan, maka pengelolaan limbah harus menjadi bagian penting dalam sistem. Menurutnya, dapur MBG tidak cukup hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga perlu memikirkan dampak lingkungan dari sisa produksi dan konsumsi.

Ridwan juga menyoroti masih minimnya edukasi mengenai pengolahan limbah organik di tingkat pelaksana dapur MBG. Banyak pengelola dapur yang belum memahami bahwa sisa makanan sebenarnya memiliki nilai manfaat jika diproses dengan benar.

Baca Juga:  Ekonom CSIS Sebut MBG Sangat Atraktif, Bantu Sektor Pertanian hingga Perdagangan

“Kalau mata rantainya dibangun, limbah tidak akan jadi beban. Justru bisa membuka lapangan usaha baru bagi masyarakat,” katanya.

Saat ini, Ridwan mulai mengajak sejumlah pemuda dan kelompok masyarakat untuk belajar budidaya maggot. Ia berharap ke depan pemerintah daerah maupun pengelola MBG dapat menggandeng pelaku budidaya maggot sebagai mitra pengolahan limbah organik.

Langkah kecil yang dilakukan Ridwan menjadi gambaran bahwa persoalan sampah makanan tidak cukup diselesaikan dengan pembuangan akhir. Dibutuhkan sistem terpadu yang menghubungkan produksi pangan, pengelolaan limbah, hingga pemanfaatan kembali menjadi produk bernilai ekonomi.

Di tengah tantangan pengelolaan sampah nasional yang terus meningkat, budidaya maggot kini mulai dilihat sebagai salah satu solusi konkret. Bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran