“Tambang ilegal, pesta babi, bumi bukan untuk dirusak.” Suara-suara kritis itu terus muncul, bahkan menjadi pertanyaan besar di kepala kita: sebenarnya menjaga alam itu tugas siapa? Jawabannya mungkin sering kita simpan dalam hati masing-masing.
Diam terasa aman, tanpa risiko. Namun, saya juga bertanya pada diri sendiri, perlu atau tidak persoalan ini dibedah? Sebab kalau tidak dibedah sekarang, bisa jadi kehidupan kitalah yang nanti “terbedah” akibat alam yang sudah rusak parah.
Saya mencoba membedahnya satu per satu, sebisa dan semampu saya, agar lebih jelas maknanya. Paling tidak, tulisan ini bisa memberi pemahaman untuk diri saya sendiri, dan mudah-mudahan juga untuk orang lain.
Pertama, tentang tambang ilegal. Dari namanya saja sudah jelas: ilegal berarti tidak sah, tidak memiliki izin, dan tidak peduli aturan. Data menunjukkan ada banyak titik tambang ilegal aktif di Papua. Ada yang menggunakan alat berat hingga bahan kimia berbahaya.
Memang ada yang beralasan mencari emas demi kehidupan. Namun faktanya, hasil emas itu hanya dinikmati segelintir orang, sedangkan dampaknya dirasakan semua orang. Air menjadi keruh, ikan mati, tanah longsor terjadi, hingga banjir melanda.
Ibarat orang memasak rendang, lalu dagingnya dimakan sendiri, tetapi dapurnya dibakar habis. Setelah itu masih berkata, “Tadi aku sudah makan enak.” Padahal dapurnya sudah tidak ada. Besok mau masak apa lagi?
Lalu muncul juga film Pesta Babi. Awalnya banyak orang bertanya, “Apa hubungan pesta babi dengan tambang ilegal?” Kalau dibedah lebih dalam, maknanya justru sangat jelas. Pesta babi bukan sekadar acara makan-makan, melainkan simbol budaya, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam yang telah memberi kehidupan.
Kalau alam dirusak habis-habisan, lalu rasa syukur itu mau diwujudkan dengan apa? Mau mengadakan pesta, tetapi bahan makanannya sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah “pesta tangis” karena sulit mencari air dan makanan.
Ibarat orang ingin merayakan ulang tahun, tetapi rumahnya sudah roboh. Mau merayakan apa, kalau kehidupan yang seharusnya dirayakan justru tinggal kenangan?
Karena itu, pertanyaan “Menjaga alam tugas siapa?” seharusnya tidak lagi hanya disimpan dalam hati. Jangan menjadi tamu di tanah sendiri. Menjadi tuan rumah di negeri sendiri adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab.
Para penambang mungkin berkata, “Kami hanya mencari nafkah.”Pembuat film mungkin berkata, “Kami hanya menyampaikan pesan budaya.”
Namun kalau dibedah lebih jauh, mencari nafkah memang boleh, tetapi jangan sampai merusak sumber nafkah itu sendiri. Menjaga budaya juga kewajiban, tetapi budaya tidak akan hidup jika alam sudah tidak mampu lagi memberi kehidupan.
Ada pula yang berkata, “Ah, ini cuma isu biasa, tidak usah dibesar-besarkan.” Padahal ini bukan sekadar isu biasa. Ini soal kehidupan banyak orang. Kalau terus dibiarkan, bukan hanya alam yang rusak, tetapi manusia sebagai pemiliknya juga akan menanggung kerugian besar.
Ibarat seseorang memiliki kolam ikan, lalu kolam itu digali sampai bocor. Setelah airnya habis dan ikannya mati, barulah dia bingung mencari penyebabnya. Padahal masalahnya jelas: sumber kehidupannya sendiri yang dirusak.
Semua orang harus memahami bahwa kebutuhan hidup dan menjaga alam bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya harus berjalan beriringan.
Tambang yang sah dan sesuai aturan boleh berjalan, tetapi tambang ilegal harus dihentikan. Film atau karya yang menyampaikan pesan kebaikan tentang alam dan budaya harus didukung, karena itu menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bumi ini bukan hanya untuk dinikmati hari ini, tetapi juga diwariskan kepada anak cucu kita nanti.
Kalau hari ini kita merusaknya, maka yang mereka terima nanti hanyalah warisan kerusakan. Dan itu bernama bencana.
Akhir kata, teruslah berbicara, meski hanya lewat tulisan. Teruslah menyampaikan pesan kebaikan, agar tidak ada lagi yang berani merusak alam demi keuntungan sesaat.
Biarlah nilai menjaga alam tetap hidup di hati kita semua. Karena bumi bukan untuk dirusak, melainkan untuk dijaga bersama-sama.
Mahfudz
Penulis adalah Ketua Umum POSNU Papua.




Tinggalkan Balasan