gugah.co — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Hingga pukul 09.15 WIB, indeks naik 139,23 poin atau 2,8 persen ke level 5.059.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp2,05 triliun dengan volume perdagangan 5,13 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 247.282 kali. Sebanyak 511 saham menguat, 88 saham melemah, sementara 86 saham bergerak stagnan.
Sejumlah analis menilai penguatan pasar dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi internasional, perhatian investor tertuju pada hasil Pemilu Sela Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump, khususnya di bidang fiskal, perdagangan, dan hubungan geopolitik.
Sementara dari dalam negeri, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga dan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,4–5,5 persen.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG mulai menunjukkan sinyal technical rebound setelah menyentuh area support Fibonacci di kisaran 4.830–4.761. Meski demikian, secara teknikal indeks masih berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari (MA20), sedangkan indikator MACD masih berada di area negatif. Kondisi tersebut mengindikasikan tren penurunan belum sepenuhnya berakhir, meskipun tekanan jual mulai mereda.
Dalam proyeksinya, BRI Danareksa memperkirakan IHSG berpotensi menguji area resistance di kisaran 4.962–5.000. Apabila belum mampu menembus level tersebut, indeks dinilai masih berisiko kembali melemah menuju area support sebelumnya.
Pandangan serupa disampaikan Phintraco Sekuritas. Perusahaan sekuritas itu menilai penguatan bursa Wall Street, pelemahan dolar Amerika Serikat, penurunan harga minyak mentah, serta kenaikan harga emas menjadi sentimen positif bagi pasar saham Indonesia.
Menurut Phintraco, kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Sela Amerika Serikat dapat mengubah dinamika kebijakan pemerintahan Trump dan berpotensi membatasi ruang gerak sejumlah agenda ekonomi, termasuk kebijakan tarif perdagangan. Namun demikian, arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) dinilai tetap akan bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Secara teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 4.800–5.000.
Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia menilai penguatan Wall Street, kenaikan harga komoditas logam seperti emas dan timah, serta mulai meredanya aksi jual investor asing berpotensi menopang pergerakan IHSG. Perusahaan tersebut memperkirakan indeks bergerak pada kisaran support 4.825–4.730 dan resistance 5.015–5.110.
Panin Sekuritas juga memproyeksikan IHSG melanjutkan penguatan, didukung ekspektasi meredanya tensi geopolitik, penguatan harga komoditas utama, serta indikasi kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.
Meski mayoritas perusahaan sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki ruang penguatan, seluruh proyeksi tersebut merupakan analisis pasar yang bergantung pada perkembangan sentimen global maupun domestik yang dapat berubah sewaktu-waktu.***






Tinggalkan Balasan