IHSG Dibuka Menguat, Investor Cermati Kebijakan Pemerintah hingga Sentimen Global

|

GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat (23/10/2026) di zona hijau. Meski dibuka menguat, pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan pasar sepanjang hari.

IHSG dibuka di level 5.397,34 atau naik 9,43 poin (0,18%) dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada awal sesi perdagangan pukul 09.00 WIB, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 5.405,88 sebelum kembali bergerak fluktuatif di kisaran 5.394.

Aktivitas perdagangan juga mulai menunjukkan pergerakan yang cukup aktif. Hingga awal sesi I, volume transaksi mencapai 13,83 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp322,92 miliar. Meski demikian, arah IHSG masih berpotensi berubah seiring masuknya berbagai sentimen baru ke pasar.

Baca Juga:  Iran Tuduh Netanyahu Seret AS ke Perang demi Hindari Penjara

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai dapat memengaruhi prospek dunia usaha dan pasar modal. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pengelolaan sumber daya alam serta rencana perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi salah satu isu yang terus dicermati pelaku pasar.

Selain itu, kondisi sektor perbankan juga menjadi perhatian. Pertumbuhan kredit yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade, proyeksi peningkatan penyaluran kredit hingga akhir tahun, serta program pemerintah untuk memperluas kepemilikan rekening bank dipandang sebagai indikator yang dapat memengaruhi optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Investor juga menunggu rilis data uang beredar September 2026 dari Bank Indonesia. Data tersebut dinilai penting untuk melihat arah likuiditas di dalam perekonomian setelah pertumbuhannya melambat selama dua bulan berturut-turut.

Baca Juga:  IHSG Ditutup Ambles 4,52 Persen, Asing Kabur Tapi Tetap Borong Saham Batu Bara dan Tambang

Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap menerapkan perubahan metode penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. Dalam aturan baru tersebut, saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi dimasukkan ke dalam perhitungan indeks.

BEI menyatakan kebijakan itu bertujuan agar IHSG lebih mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Sebelumnya, hanya saham yang tercatat di Papan Akselerasi yang dikecualikan dari perhitungan indeks.

Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada pelemahan bursa saham Wall Street yang berpotensi memengaruhi sentimen perdagangan di kawasan Asia. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi Jepang yang kembali meningkat.

Berdasarkan data Statistics Bureau of Japan, inflasi tahunan Jepang naik menjadi 2,1 persen pada September 2026, lebih tinggi dibandingkan 1,9 persen pada dua bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Desember 2025 dan menandai kembali inflasi inti berada di atas target Bank of Japan (BOJ).

Baca Juga:  Bank Dunia Sebut Pajak, Akses Keuangan hingga Korupsi jadi Penghambat Usaha di Indonesia

Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Jepang masih akan mempertimbangkan langkah kebijakan moneternya ke depan. Kondisi itu berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk aliran modal ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap mencermati setiap perkembangan sepanjang perdagangan hari ini. Pergerakan IHSG masih berpotensi berubah seiring respons investor terhadap berbagai data ekonomi dan kebijakan yang dirilis.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran