Kerusuhan Milan: 28 Orang Ditangkap, Kerugian Tembus Rp26 Miliar

|

GUGAH – Kerusuhan yang mewarnai demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup di Milan, Italia, berujung pada kerusakan fasilitas umum, penjarahan toko, dan penangkapan puluhan orang. Asosiasi pengusaha Italia, Unimpresa, memperkirakan kerugian material dari rangkaian kerusuhan di sejumlah kota mencapai sekitar 1,3 juta euro atau setara Rp26,3 miliar.

Insiden pada Sabtu (17/10/2026) berpusat di kawasan Piazza del Duomo dan sejumlah ruas komersial di Milan. Aksi yang bermula sebagai demonstrasi terkait tekanan ekonomi itu kemudian berkembang menjadi bentrokan ketika sebagian massa melakukan perusakan dan menyerang aparat keamanan.

Menurut laporan media Italia yang dikutip pada Minggu (18/10/2026), sebanyak 197 orang diidentifikasi dan dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan. Dari jumlah tersebut, 28 orang ditangkap, termasuk 12 anak di bawah umur dan enam warga negara asing. Sebanyak 43 orang lainnya dilaporkan menjalani proses hukum tanpa penahanan, sedangkan 141 petugas keamanan mengalami luka-luka.

Piazza del Duomo, salah satu kawasan ikonik sekaligus pusat aktivitas wisata dan perdagangan Milan, menjadi salah satu titik yang terdampak kerusuhan. Sejumlah demonstran bertopeng dilaporkan merusak etalase toko, menjarah barang dagangan, serta menggunakan benda-benda di jalan sebagai alat untuk menghancurkan fasilitas.

Baca Juga:  IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Investor Tunggu Penilaian MSCI dan S&P Global

Meja dan kursi dari area luar restoran, tempat sampah, sepeda, serta kendaraan listrik dilaporkan ikut terdampak atau digunakan dalam aksi perusakan. Sejumlah toko komersial mengalami kerusakan, sementara beberapa pelaku usaha memilih menghentikan aktivitas lebih awal demi melindungi pekerja dan barang dagangan.

Laporan media Italia menyebutkan bahwa kerusuhan tidak hanya terjadi di Milan. Bentrokan dan gangguan keamanan juga dilaporkan di Bologna, Turin, dan Bergamo, sehingga dampak ekonomi tidak terbatas pada satu kawasan perkotaan.

Kerusakan toko, fasilitas jalan, dan perlengkapan usaha menimbulkan kerugian langsung. Penutupan sementara sejumlah bisnis juga menyebabkan hilangnya pendapatan, terutama karena kejadian berlangsung di kawasan perdagangan yang ramai pada akhir pekan.

Unimpresa memperkirakan total kerugian awal akibat rangkaian kerusuhan di Milan, Bologna, Turin, dan Bergamo berada pada kisaran 1,1 juta hingga 1,6 juta euro. Nilai tengah perkiraan tersebut mencapai sekitar 1,3 juta euro atau setara Rp26,3 miliar.

Dalam perhitungan awalnya, organisasi pengusaha itu memasukkan kerusakan langsung terhadap toko dan fasilitas umum, barang yang hilang atau rusak, serta potensi pendapatan yang tidak diperoleh karena sejumlah usaha terpaksa tutup lebih awal.

Milan menjadi penyumbang terbesar dalam perkiraan kerugian tersebut. Unimpresa memperkirakan kerugian di kota itu mencapai sekitar 730 ribu hingga 1 juta euro, termasuk kerusakan tempat usaha, kehilangan omzet, dan kerusakan fasilitas publik.

Baca Juga:  Hari Jadi Tanpa Wakil Bupati: Yang Kosong Bukan Hanya Kursi, Tapi Juga Amanah

Angka tersebut masih berupa estimasi awal, bukan nilai akhir seluruh kerugian ekonomi. Biaya penanganan keamanan, layanan kesehatan, pembersihan, dan kemungkinan dampak lanjutan terhadap pariwisata maupun kegiatan perdagangan belum seluruhnya masuk dalam penghitungan.

Departemen Keamanan Publik Italia mencatat 141 personel kepolisian dan aparat penegak hukum mengalami luka-luka selama rangkaian demonstrasi yang berujung bentrokan. Sebagian petugas dilaporkan terkena lemparan batu dan benda keras lainnya.

Di Milan, aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa ketika situasi memburuk. Polisi juga melakukan pengamanan di sejumlah titik untuk mencegah kerusuhan meluas ke kawasan perdagangan lain.

Dari keseluruhan penanganan di sejumlah kota, 197 orang dibawa untuk menjalani pemeriksaan identitas. Sebanyak 28 orang ditangkap dan 43 lainnya dilaporkan dikenai proses hukum. Data yang dipublikasikan pada 18 Oktober 2026 tersebut merupakan laporan awal dan dapat diperbarui oleh otoritas.

Perbedaan antara orang yang diperiksa, ditangkap, dan dilaporkan kepada penegak hukum penting untuk dipahami. Ketiga kategori tersebut tidak otomatis berarti setiap orang telah terbukti melakukan tindak pidana.

Baca Juga:  Gus Yahya Ziarah ke Tebuireng, Peziarah Meningkat Jelang Muktamar NU

Rangkaian aksi di Italia berlangsung di tengah meningkatnya keresahan masyarakat terhadap biaya hidup, harga energi, dan kualitas layanan publik. Demonstrasi yang digelar melalui gerakan “Italia in piazza” diikuti ribuan orang di beberapa kota.

Di Milan, sekitar 5.000 orang dilaporkan mengikuti demonstrasi. Massa menyampaikan berbagai tuntutan terkait kondisi ekonomi, sebelum sebagian aksi berkembang menjadi perusakan dan bentrokan dengan aparat.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam kekerasan yang terjadi. Pemerintah juga membahas langkah-langkah untuk memulihkan ketertiban dan mencegah terulangnya kerusuhan, sementara aparat melanjutkan penyelidikan terhadap dugaan tindak pidana yang terjadi selama demonstrasi.

Kerusuhan di Milan memperlihatkan bagaimana aksi yang berangkat dari keluhan sosial dapat menimbulkan konsekuensi luas ketika berubah menjadi kekerasan. Selain membahayakan keselamatan warga dan petugas, penjarahan serta perusakan juga membebani pelaku usaha dan masyarakat melalui kerusakan fasilitas serta hilangnya pendapatan.

Pemerintah dan aparat kini menghadapi tantangan untuk menjaga keamanan sekaligus memastikan hak masyarakat menyampaikan pendapat secara damai tetap terlindungi. Bagi pelaku usaha, pemulihan aktivitas perdagangan dan penghitungan kerugian menjadi langkah penting setelah situasi kembali terkendali.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran