Refleksi Hari Santri 2026: Menautkan Nalar Kebangsaan, Krisis Ekologis, dan Dinamika Ekonomi Modern

|

gugah.co – Setiap tanggal 22 Oktober, Bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Hari Santri adalah sebuah momentum bersejarah yang berakar dari pengerahan Resolusi Jihad 1945. Pada peringatan Hari Santri Tahun 2026 ini, lanskap tantangan zamannya telah jauh bergeser.

Santri tidak lagi sekadar diuji oleh ancaman fisik terhadap kedaulatan negara, melainkan oleh krisis-krisis kontemporer yang multidimensional: ancaman krisis lingkungan seperti bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), serta ketidakpastian ekonomi yang tecermin dari kejatuhan pasar modal (pasar saham/IHSG).

Momentum ini seyogianya tidak berhenti pada selebrasi seremonial semata, melainkan menjadi pemicu reorientasi peran dan tanggung jawab sosial santri di tengah ruang kemasyarakatan dan kenegaraan yang makin kompleks.

Peringatan Hari Santri tahun ini, berlangsung di tengah dinamika lokal dan global yang menuntut perhatian serius. Peringatan kali ini, sudah seharusnya menjadi simbol spiritualitas, patriotisme, dan kemandirian masyarakat pesantren dalam mengawal perjalanan bangsa.

Sebut saja fenomena karhutla yang memicu kabut asap tebal melumpuhkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat, mengganggu kesehatan, serta mengancam hak dasar atas udara bersih. Dari sisi ekonomi, gejolak pasar finansial merosotkan nilai aset nasional, memicu depresi pasar, dan memperbesar risiko kerentanan ekonomi masyarakat luas.

Di atas kertas, ketiga hal ini tampak berjalan di rel yang berbeda. Namun, ketiganya saling terkait dalam ranah tata kelola kemanusiaan, keberlanjutan hidup, dan ketahanan nasional.

Baca Juga:  Refleksi Sejarah: Ambisi, Kekuatan dan Keruntuhan Soekarno

Penulis berpendapat bahwa saat ini diperlukan adanya ruang untuk melakukan otokritik yang konstruktif (muhasabah). Selama ini, wacana peran santri kerap terfokus pada ranah politik praktis, keagamaan dogmatis, atau pemberdayaan ekonomi mikro atau ekonomi pesantren dalam skala yang terbatas.

Namun, ketika berhadapan dengan krisis kontemporer, seperti bencana ekologis kabut asap dan gejolak pasar modal, keterlibatan jaringan pesantren dan kekuatan santri masih terkesan minimal atau terbatas pada respons pasif.

Sebut saja, soal respons sosial yang dimunculkan sering kali sebatas aksi darurat (charity) atau doa bersama (istighotsah). Padahal, krisis karhutla membutuhkan keterlibatan berbasis sains lingkungan, advokasi kebijakan tata ruang, edukasi hukum lingkungan, serta mitigasi bencana yang berkelanjutan.

Lalu, sikap santri pada dinamika pasar modal. Pasar finansial masih dianggap sebagai “ruang asing” atau bahkan tabu oleh sebagian lingkup santri, padahal kejatuhan pasar modal berdampak langsung pada investasi nasional, dana pensiun, kesempatan kerja, hingga stabilitas ekonomi rakyat.

Penulis melihat, masih belum banyak santri atau lembaga pesantren yang mengambil peran strategis sebagai analis ekosistem finansial syariah, pengawas tata kelola korporasi, maupun edukator literasi keuangan bagi masyarakat luas.

Pada akhirnya, narasi-narasi empati santri perlu ditransformasikan dari sekadar empati sentimental (turut prihatin) menjadi empati struktural, sebuah kesadaran dan kapasitas aksi untuk masuk ke dalam akar persoalan sistemik.

Baca Juga:  Dimana Relawan Saat Om Zein Diterpa Polemik?

Lalu, bagaimana peringatan Hari Santri tahun ini dapat menghubungkan aspek lingkungan hidup dan dinamika ekonomi modern secara strategis?

Pertama ada etika ekologi (Fiqh al-Bi’ah): Karhutla dan kabut asap bukan sekadar musibah alam, melainkan dampak dari ketamakan, kelalaian tata kelola lahan, dan eksploitasi ekonomi tanpa batas. Santri memiliki pondasi teologis kuat untuk mengedepankan etika lingkungan (khalifah fil ardh). Santri dapat menjadi garda depan gerakan literasi hijau, pengawasan restorasi lahan, dan edukasi hukum lingkungan berbasis moralitas keagamaan.

Kemudian ada soal kedaulatan finansial (Fiqh al-Mu’amalah Modern): Kejatuhan pasar modal menelanjangi rapuhnya sistem ekonomi finansial jika tidak dilandasi pada nilai fundamental, transparansi, dan keadilan. Santri berpeluang mengisi ruang ini dengan mengembangkan literasi keuangan syariah yang riil, mendorong investasi berbasis keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG) serta menjadi penyeimbang arus spekulasi finansial yang merugikan publik.

Agar peringatan Hari Santri tidak terjebak dalam romantisme sejarah, perlu ada langkah konkret transformasi peran santri ke depan, diantaranya yaitu; santri abad ke-21 dituntut menguasai tak hanya kitab klasik, tetapi juga literasi sains lingkungan, analisis data finansial, hingga hukum tata kelola publik.

Baca Juga:  Masjid Agung yang Kehilangan Keagungannya

Disisi lain, pesantren juga dapat ditransformasikan menjadi green pesantren, pusat edukasi mitigasi karhutla, teknologi pengolahan lahan ramah lingkungan tanpa bakar, serta pusat tanggap bencana asap yang tangguh.

Kemudian, pesantren juga bisa mendorong hadirnya teknokrat-teknokrat muda berlatar belakang santri yang menguasai pasar modal, sehingga mampu mengawal regulasi ekonomi agar lebih berkeadilan dan tahan terhadap krisis dan menjadikan santri sebagai rujukan etik saat terjadi krisis politik, ekonomi, maupun ekologis dan dapat memberikan solusi konkrit di tengah kepanikan publik.

Peringatan Hari Santri tahun ini diperingati di tengah kepungan kabut asap dan gejolak pasar modal menawarkan pelajaran berharga. Kehadiran santri tidak boleh berhenti pada menara gading keagamaan atau perayaan seremonial tahunan. Tantangan zaman yang makin kompleks menuntut santri untuk memperluas spektrum baktinya.

Dengan memperkuat empati sosial, menguasai keahlian lintas sektor, dan memegang teguh etika moralitas, santri dapat tampil sebagai contoh dan panutan (uswah) nyata, menjadi penyejuk di tengah kabut asap krisis ekologi sekaligus benteng ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi bangsa.

Selamat Hari Santri Nasional
Semoga semangat Resolusi Jihad senantiasa membakar tekad para santri untuk menjadi teladan, penyebar kedamaian, dan pembawa solusi bagi negeri.

​Salam hangat, Redaksi gugah.co.

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran