Inflasi Terkendali, Daya Beli Masyarakat Jabar Tetap Terjaga di Tengah Penguatan Ekonomi Budaya

|

GUGAH – Stabilitas ekonomi di Jawa Barat dinilai tetap terjaga seiring dengan terkendalinya inflasi pada kisaran 2 hingga 3 persen. Kondisi ini menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah upaya pemerintah daerah memperkuat ekonomi berbasis budaya dan kearifan lokal.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman menyampaikan bahwa stabilitas harga memiliki peran strategis dalam menopang keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah, terutama yang bertumpu pada konsumsi rumah tangga.

“Ekonomi berbasis budaya menjadi fondasi penting. Filosofi budaya lokal menjadi bagian penting dalam arah pembangunan, di mana ekonomi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan,” jelasnya, Selasa (23/6/2026).

Baca Juga:  Tujuh Vendor Kantongi 53 Paket Proyek, Serapan Anggaran Capai Rp22,18 Miliar di Purwakarta

Ia menegaskan bahwa arah pembangunan ekonomi Jawa Barat tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan semata, tetapi juga pada kualitas yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam konteks stabilitas makro, ia menyebut konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 50 persen masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Karena itu, pengendalian inflasi menjadi faktor kunci untuk menjaga daya beli masyarakat tetap kuat.

Baca Juga:  Jelang Idul Adha, Hergun Pastikan Stok Beras di Sukabumi Cukup

Hal tersebut juga berkaitan erat dengan upaya pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga, agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu oleh tekanan kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat saat ini berada pada kisaran 5,7 hingga 5,79 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sekitar 5,61 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di daerah masih berada dalam jalur pertumbuhan yang relatif stabil.

“Ke depan, Jawa Barat menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius di kisaran 5,7 hingga 6 persen melalui konsolidasi integrasi ekonomi kreatif dan budaya dalam pembangunan daerah,” ujarnya.

Baca Juga:  PAD Purwakarta Terpuruk di Triwulan Kedua, Sinyal Kuat Kegagalan Kinerja Pendapatan Daerah?

Ia juga menambahkan bahwa penguatan ekonomi berbasis budaya di berbagai daerah, termasuk Sumedang, menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat struktur ekonomi daerah agar lebih tahan terhadap gejolak.

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya menjaga laju pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat, sekaligus menjaga daya beli tetap stabil di tengah dinamika ekonomi global.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran