Menyikapi Dinamika Menuju Muktamar PBNU 2026: Menjaga Khidmah, Merawat Ukhuwah

|

MUKTAMAR merupakan forum tertinggi dalam tradisi organisasi Nahdlatul Ulama yang memiliki posisi strategis dalam menentukan arah gerak jam’iyyah ke depan. Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tahun 2026, berbagai dinamika di kalangan warga nahdliyin kembali mengemuka.

Dinamika tersebut merupakan hal yang wajar dalam kehidupan organisasi besar seperti NU. Bahkan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama telah memastikan bahwa tahapan persiapan Muktamar terus berjalan, termasuk pembentukan kepanitiaan serta pematangan agenda strategis. Sebelumnya, juga telah dilaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) sebagai forum permusyawaratan di bawah Muktamar, yang diselenggarakan di Lirboyo.

Dalam konteks ini, sikap yang diperlukan di tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) adalah ketenangan, kedewasaan, dan kejernihan pandangan. Energi jamaah, menurut saya, seharusnya tidak habis terserap pada perdebatan yang belum tentu berdampak langsung pada kemaslahatan umat di tingkat akar rumput.

Baca Juga:  Antara Nasib Pimpinan dan Masa Depan Partai: Sebuah Catatan untuk PSI Jawa Barat

Dalam kaidah ushul fikih disebutkan:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
“Menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.”

Kaidah ini mengingatkan bahwa menjaga soliditas organisasi harus menjadi prioritas, terlebih dalam situasi yang berpotensi memunculkan gesekan menjelang forum permusyawaratan tertinggi. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam organisasi sebesar NU, tetapi persatuan jamaah adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Sebagai pengurus di tingkat MWC, orientasi utama kita bukan terjebak dalam dinamika politik organisasi di level pusat, melainkan memastikan bahwa program-program keummatan di wilayah masing-masing tetap berjalan dengan baik. Penguatan majelis taklim, kaderisasi Ahlussunnah wal Jamaah, pemberdayaan ekonomi jamaah, pendidikan keagamaan, serta pelayanan sosial adalah ruang khidmah yang nyata dan harus terus diperkuat.

Baca Juga:  Menuju Muktamar ke-35 NU, Nama Kiai Nuh dan Kiai Said Aqil Siroj Masuk Bursa Kandidat Anggota AHWA

Kekuatan NU sejatinya tidak hanya bertumpu pada struktur pusat, tetapi justru pada kokohnya ranting dan MWC di seluruh pelosok daerah.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab pengurus MWC tidak hanya mengikuti dinamika organisasi di tingkat nasional, tetapi juga memastikan amanah jamaah di wilayah masing-masing tetap terjaga.

Muktamar akan datang dan berlalu, kepemimpinan dapat berganti, namun khidmah kepada umat harus tetap menjadi yang utama.

Oleh karena itu, saya mengajak seluruh pengurus MWC NU, khususnya di wilayah Kabupaten Bogor dan Jawa Barat, untuk tetap istiqamah menjaga ukhuwah nahdliyyah, memperkuat konsolidasi organisasi, serta menghidupkan program-program keummatan di tingkat bawah.

Baca Juga:  Menelisik Tiga Kunci Sukses Pendidikan Menurut Burhanuddin al-Zarnuji

Jangan sampai dinamika menjelang Muktamar mengalihkan perhatian kita dari tugas utama: merawat tradisi, menjaga ulama, dan melayani umat.

Pada akhirnya, kebesaran NU tidak semata ditentukan oleh siapa yang terpilih dalam Muktamar, tetapi oleh seberapa kuat kita menjaga denyut khidmah di tengah masyarakat.

“Al-muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”
(Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik)

Inilah manhaj perjuangan Nahdlatul Ulama: teduh dalam sikap, kokoh dalam prinsip, dan istiqamah dalam pengabdian.

Oleh: Ahmad Suaidi – Penulis adalah Ketua MWC Nahdlatul Ulama Kecamatan Parungpanjang

Disclaimer: Artikel ini merupakan opini, bukan karya jurnalistik Gugah.co. Kolom Suara Pinggiran menjadi wadah bagi akademisi, aktivis, dan analis untuk menyuarakan gagasan bebas.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran