Menuju Muktamar ke-35 NU, Nama Kiai Nuh dan Kiai Said Aqil Siroj Masuk Bursa Kandidat Anggota AHWA

|

GUGAH – Meski waktu dan lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) belum ditetapkan secara resmi, sejumlah nama kiai sepuh mulai diperbincangkan sebagai kandidat anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), lembaga yang memiliki kewenangan memilih Rais Aam PBNU.

Anggota AHWA dipersyaratkan memiliki kapasitas keilmuan dan integritas moral yang tinggi. Mereka harus faqih dalam ilmu agama, berakidah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, memiliki sifat wara’, zuhud, adil, berakhlak mulia, serta dihormati dan memiliki pengaruh di tengah masyarakat.

Berdasarkan data yang dihimpun dari media Suara Nahdliyin, berikut 10 kiai yang dinilai berpeluang mengisi formasi AHWA pada Muktamar ke-35 NU.

1. KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini lahir pada 10 Agustus 1944. Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo tersebut pernah menjabat sebagai Pejabat (Pj) Rais Aam PBNU periode 2014–2015 menggantikan KH Ahmad Sahal Mahfudz.

Baca Juga:  Kalimantan dan Sulawesi Dukung Lirboyo Jadi Tuan Rumah Mukhtamar PBNU Ke-35

2. Prof. Dr. (HC) KH Ma’ruf Amin

Lahir di Tangerang pada 11 Maret 1943, cicit Syekh Nawawi al-Bantani ini merupakan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Ia pernah menjabat sebagai Rais Aam PBNU (2015–2018) dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019–2024.

3. KH Nurul Huda Jazuli

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, yang akrab disapa Mbah Dah ini dikenal konsisten menyuarakan pentingnya menjaga eksistensi pesantren serta terus berkhidmat untuk Nahdlatul Ulama.

4. KH Ubaidullah Shodaqoh

Ulama kharismatik asal Semarang ini menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah sejak 2013 hingga masa khidmat 2029. Selain berlatar belakang pesantren salaf, ia juga memiliki gelar Sarjana Hukum Internasional.

5. KH M. Ali Cholil

Ra Ali merupakan cicit Syaikhona Kholil Bangkalan. Kiprahnya banyak dikenal di Kalimantan Timur sebagai Rais Syuriah PWNU Kalimantan Timur periode 2023–2028 sekaligus Pengasuh Utama Pesantren Syaichona Cholil di Balikpapan.

Baca Juga:  Muktamar NU 2026 dan Ujian Moral Politik Santri

6. KH Abdullah Kafabihi Mahrus

Lahir di Kediri pada 2 September 1960, ia merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Selain aktif mengajar, ia juga mengemban berbagai amanah di jajaran Syuriah dan menjadi penasihat keagamaan di tingkat wilayah maupun pusat.

7. KH Ali Akbar Marbun

Dikenal sebagai Buya Marbun, ulama asal Sumatera Utara ini merupakan pendiri Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar di Medan. Ia menjabat sebagai Rais Syuriah PBNU periode 2022–2027 dan pernah menjadi anggota AHWA pada muktamar sebelumnya.

8. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA

Kiai kelahiran Cirebon, 3 Juli 1953, ini dikenal sebagai intelektual Muslim moderat. Lulusan Universitas Ummul Qura, Makkah, tersebut pernah memimpin PBNU selama dua periode (2010–2021) dan kini menjabat sebagai Mustasyar PBNU masa khidmat 2022–2027.

Baca Juga:  Pangaosan Rutin Awal Bulan Hijriah, Yayasan Ar-Raudhotun Nur Teguhkan Nilai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah di Bayongbong

9. KH Muhammad Nuh Addawami (Kiai Nuh)

Pengasuh Pesantren Nurul Huda, Cibojong, Garut, Jawa Barat, ini lahir pada 1946. Ia pernah menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Barat periode 2016–2021. Kiai Nuh dikenal luas dengan pendekatan dakwah yang sejuk, mengedepankan dialog, keharmonisan keluarga, dan persatuan umat.

10. Prof. Dr. KH M. Ghalib, MA

Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Alauddin Makassar ini dikenal sebagai pakar Al-Qur’an di kawasan Indonesia Timur. Selain menjadi Wakil Ketua Umum MUI Sulawesi Selatan, ia juga menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan dan aktif mendorong penguatan moderasi beragama.

Munculnya nama-nama kiai dari berbagai daerah tersebut mencerminkan besarnya harapan warga Nahdliyin agar Muktamar ke-35 NU berlangsung dengan penuh hikmah, menghasilkan kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan organisasi serta memperkuat peran NU dalam kehidupan berbangsa dan beragama.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran