Manut kepada Kiai Jadi Kunci Berkah, Ketua MWCNU Cisurupan Sambut Seruan Masyayikh Jaga Marwah NU

|

GUGAH – Seruan para masyayikh agar seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) menjaga persatuan, menghormati ulama, dan mengawal marwah organisasi menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 terus mendapat dukungan dari berbagai daerah.

Salah satunya datang dari Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Cisurupan, KH Saefullah. Dalam sebuah rekaman video yang beredar, ia mengajak seluruh nahdliyin untuk memahami hakikat ber-NU, yakni berkhidmat dengan mengikuti bimbingan para kiai dan masyayikh demi meraih keberkahan hidup.

“Kenapa kita harus ber-NU? Ketika kita ber-NU, kita bisa berkumpul bersama para masyayikh. Sesungguhnya kita berharap keberuntungan dari beliau-beliau para ulama yang banyak berfaedah ilmunya,” ujar KH Saefullah.

Menurutnya, menjadi bagian dari NU bukan sekadar identitas organisasi, tetapi merupakan ikhtiar untuk memperoleh rahmat Allah melalui bimbingan para ulama pewaris Nabi.

“Bahwa kita ber-NU itu manut pada kiai, yang tiada lain hanyalah untuk mencari keberkahan, untuk menggapai rahmat dan kebahagiaan dunia dan akhirat,” katanya.

Ia kemudian mengutip sebuah ungkapan, “La yuflihu ahadun illa binaili rahmatihi,” yang berarti tidak ada seorang pun yang akan memperoleh kebahagiaan kecuali dengan rahmat Allah SWT.

Pernyataan tersebut sejalan dengan seruan para masyayikh menjelang Munas dan Konbes NU 2026 yang mengingatkan seluruh warga NU agar tidak terjebak dalam perpecahan, menjaga adab kepada ulama, serta menempatkan keputusan organisasi dalam koridor akhlak dan musyawarah.

Baca Juga:  Pangaosan Rutin Awal Bulan Hijriah, Yayasan Ar-Raudhotun Nur Teguhkan Nilai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah di Bayongbong

Seruan para masyayikh menegaskan bahwa kekuatan NU selama ini lahir dari tradisi sami’na wa atha’na kepada para ulama, bukan dari pertentangan yang dapat melemahkan jam’iyah. Karena itu, seluruh kader dan warga NU diajak mengedepankan ukhuwah, menjaga marwah organisasi, serta menjadikan keberkahan para kiai sebagai fondasi dalam setiap langkah perjuangan.

Dengan demikian, pesan KH Saefullah dinilai menjadi pengingat bahwa esensi ber-NU adalah merawat sanad keilmuan, menghormati masyayikh, dan menjaga persatuan sebagai jalan untuk meraih rahmat serta keberkahan Allah SWT.

Seruan Masyayikh Menjelang Munas-Konbes NU 2026

Dalam pernyataan bersama yang dibacakan usai pertemuan, para masyayikh menyampaikan tiga poin utama menjelang pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU. Berikut adalah seruan lengkap masyayikh, alim ulama, dan pengasuh pondok pesantren untuk Munas dan Konbes NU 2026:

Bismillahirrahmanirrahim

Dalam suasana penuh kekeluargaan, ukhuwah Islamiyah, dan tanggung jawab kejam’iyahan, para masyayikh, alim ulama, dan pengasuh pondok pesantren yang hadir dalam Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada tanggal 4 Muharam 1448 H bertepatan dengan 20 Juni 2026 M, setelah mencermati berbagai perkembangan menjelang penyelenggaraan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, serta dengan memohon pertolongan Allah SWT demi menjaga khittah, marwah, persatuan, dan keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari rahim pesantren, menyampaikan seruan sebagai berikut:

  1. Para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab, serta tidak membahas maupun menetapkan materi-materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan para masyayikh dan pondok pesantren. Dalam kaitan itu, para masyayikh meminta agar pengaturan mengenai syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) tetap menjaga karakter AHWA sebagai forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, dan pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu usulan penambahan syarat calon anggota ahlul halli wal aqdi (AHWA) harus pengurus syuriyah dan didasarkan representasi kewilayahan harus dibatalkan. Demikian juga, usulan pengubahan larangan rangkap jabatan politik juga harus dibatalkan.
  2. Para masyayikh memandang bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama, pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah. Oleh karena itu, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.
  3. Para masyayikh menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, dan seluruh unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga ketertiban, akhlak, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan jam’iyah.

Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Nahdlatul Ulama, mempersatukan hati seluruh warganya, membimbing para pemimpinnya, serta melimpahkan keberkahan kepada para ulama, masyayikh, santri, dan seluruh pengabdi jam’iyah.

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh sejumlah tokoh dan masyayikh Nahdlatul Ulama, di antaranya KH. Nurul Huda Jazuli, KH. Anwar Manshur, KH. A. Kafabihi Mahrus, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, KH. R. Muhammad Khalil As’ad, KH. Abdullah Ubab Maimoen, KH. Ali Akbar Marbun, KH. Ubaidillah Shodaqoh, KH. Ali Kholil, Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, KH. Ah. Syatibi Hambali, dan KH. Mas’ud Masduqi.***

Baca Juga:  Jamaah Haji Kloter 07 JKS Menuju Tanah Suci, Bupati Bogor Pesan Jaga Kesehatan dan Kekompakan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran