Kritik Program Makan Bergizi Gratis, Poros Baru Tangerang Gelar Aksi Unjuk Rasa

|

GUGAH – Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Poros Baru Tangerang menggelar aksi unjuk rasa di Taman Gajah, Cikokol, Kota Tangerang, pada Jumat (19/6/2026).

Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan “Lima Tuntutan Rakyat” dengan fokus utama menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Poros Baru Tangerang sendiri merupakan gabungan dari Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Tangerang, Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang, dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Banten.

Koordinator Aksi, Topan Bagaskara, menegaskan bahwa Program MBG perlu dihentikan karena dinilai memicu inefisiensi anggaran di sektor-sektor yang lebih mendesak, terutama pendidikan.

“Kami menolak Program Makan Bergizi Gratis karena pelaksanaannya justru mengorbankan sektor yang lebih krusial. Di saat kesejahteraan guru masih memprihatinkan dan kualitas pendidikan menghadapi banyak persoalan, pemerintah malah menggelontorkan anggaran besar untuk program yang sarat pencitraan,” tegas Topan dalam orasinya.

Baca Juga:  Kloter 13 JKS Berangkat, Jemaah Lansia Dominasi Calon Haji Sukabumi Tahun Ini

Menurut Topan, pendidikan yang berkualitas tidak lahir dari makan siang gratis semata, melainkan dari guru yang sejahtera, fasilitas yang memadai, serta akses pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Soroti Isu Lingkungan dan Deforestasi

Selain isu pendidikan, Poros Baru Tangerang juga menyatakan penolakan terhadap Proyek Geothermal Gede Pangrango.

Proyek tersebut dianggap berpotensi mengancam kelestarian kawasan konservasi, keseimbangan ekosistem, serta sumber kehidupan masyarakat sekitar pegunungan.

“Pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan lingkungan hidup. Kawasan Gede Pangrango merupakan salah satu kawasan ekologis penting yang harus dijaga,” lanjut Topan.

Tak hanya itu, massa juga mengkritik laju deforestasi hutan yang masih masif di berbagai wilayah Indonesia. Alih fungsi lahan hutan ini dinilai memperparah krisis ekologis, meningkatkan risiko bencana, dan mengancam keberlangsungan hidup generasi mendatang serta masyarakat adat.

Baca Juga:  Cegah Banjir, Gubernur Banten dan Wali Kota Tangerang Gencarkan Gerakan Bebersih Kali

Kritik Fenomena “Aktivis Karbitan”

Dalam kesempatan yang sama, Topan menyoroti fenomena munculnya kelompok yang ia sebut sebagai “aktivis karbitan”.

Istilah ini ditujukan bagi kelompok yang mengatasnamakan gerakan mahasiswa, namun kehilangan daya kritis setelah dekat dengan lingkar kekuasaan.

“Hari ini kita menyaksikan sebagian aktivis tidak lagi berdiri bersama rakyat, melainkan di belakang penguasa. Ketika guru menjerit, hutan dirusak, dan ruang demokrasi semakin sempit, mereka justru memilih diam,” ujarnya.

Ia menambahkan, gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi kekuatan kontrol sosial (agent of social control) terhadap jalannya pemerintahan, bukan menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Baca Juga:  Asthara Skyfront City Luncurkan The Floritz Gallery

Lima Tuntutan Rakyat (Litura)

Adapun lima poin tuntutan resmi yang dibawa oleh Poros Baru Tangerang dalam aksi ini meliputi:

1. Hentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

2. Segera sejahterakan guru.

3. Hentikan Proyek Geothermal Gede Pangrango.

4. Kembalikan TNI–POLRI pada fungsi profesionalnya.

5. Hentikan deforestasi hutan.

Massa menegaskan bahwa arah pembangunan nasional harus dikembalikan pada prinsip keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai demokrasi.

Sebelum membubarkan diri secara tertib, massa membacakan pernyataan sikap dan berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan publik melalui gerakan advokasi, pendidikan politik, serta konsolidasi yang lebih luas.*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran