Jurnalis: Manusia Rentan dengan Amanah Besar

|

Di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada pikiran manusia, kecepatan dan ketepatan menjadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan. Setiap detik, jutaan orang menggenggam telepon pintar, mencari jawaban atas apa yang sedang terjadi.

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar kalimat sederhana, “Sakedap, urang searching heula.” Kalimat itu terdengar biasa, tetapi sesungguhnya menggambarkan perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan. Masyarakat tidak lagi menunggu koran esok pagi atau siaran berita malam. Mereka ingin tahu sekarang juga.

Di balik kebutuhan itu, ada satu profesi yang bekerja tanpa banyak disadari: jurnalis.

Masyarakat menginginkan informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya. Namun, tidak banyak yang bertanya bagaimana seorang jurnalis mendapatkannya. Di balik satu berita yang dibaca dalam waktu tiga menit, sering kali ada berjam-jam pencarian fakta, perjalanan ke lapangan, wawancara yang berulang, hingga konfirmasi yang tidak kunjung dijawab.

Di era banjir informasi dan maraknya disinformasi, jurnalis justru menjadi salah satu benteng terakhir yang menjaga agar fakta tidak tenggelam oleh opini, propaganda, maupun kepentingan.

Baca Juga:  Menelisik Tiga Kunci Sukses Pendidikan Menurut Burhanuddin al-Zarnuji

Karena itulah profesi jurnalis bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah amanah.

Namun, amanah itu juga menjadikan jurnalis sebagai manusia yang sangat rentan.

Rentan terhadap tekanan narasumber, tekanan ekonomi perusahaan media, tekanan kekuasaan, bahkan tekanan dari publik yang menuntut berita serba cepat. Di tengah semua tekanan itu, seorang jurnalis tetap dituntut menghasilkan karya yang memenuhi standar profesional sekaligus mematuhi setiap butir Kode Etik Jurnalistik.

Bagi saya, salah satu kalimat yang paling berat dalam Kode Etik Jurnalistik adalah kewajiban untuk tidak beritikad buruk.

Sekilas kalimat itu tampak sederhana. Padahal, sesungguhnya ia menyentuh sesuatu yang paling dalam dari diri seorang manusia: niat.

Itikad tidak bisa diukur dengan kamera. Tidak bisa diverifikasi dengan dokumen. Tidak pula bisa dibuktikan melalui rekaman suara. Hanya hati nurani dan Tuhan yang mengetahui apakah seorang jurnalis bekerja dengan niat mencari kebenaran atau justru mengejar sensasi.

Baca Juga:  Ruang Digital Tak Netral, Ketum PWI Ingatkan Tantangan Algoritma bagi Jurnalisme Masyarakat Adat

Artinya, Kode Etik Jurnalistik tidak hanya mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga mengajak jurnalis membangun integritas dari dalam dirinya sendiri.

Dalam praktik sehari-hari, tantangan itu terasa nyata.

Seorang jurnalis bisa saja mendapat tugas meliput kecelakaan, kasus korupsi, konflik sosial, hingga persoalan kemanusiaan dalam satu hari yang sama. Di sela-sela itu, redaksi meminta berita segera tayang, narasumber sulit dihubungi, sementara media sosial sudah lebih dahulu dipenuhi berbagai klaim yang belum tentu benar.

Di saat seperti itulah kode etik benar-benar diuji.

Apakah jurnalis memilih menunggu konfirmasi demi menjaga akurasi, meski berisiko kalah cepat? Ataukah ia tergoda menerbitkan informasi yang belum terverifikasi hanya demi mengejar klik dan trafik?

Pilihan-pilihan kecil seperti itulah yang menentukan kualitas seorang jurnalis.

Saya percaya, jurnalisme yang baik bukanlah jurnalisme yang paling cepat, melainkan yang paling bertanggung jawab.

Tanggung jawab itu diwujudkan melalui disiplin melakukan verifikasi, keberanian mengoreksi kesalahan, menjaga independensi, menghormati hak jawab, melindungi narasumber yang rentan, serta menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Baca Juga:  Ketika Media Tidak Lagi Menjadi Penjernih, Melainkan Pemain Politik

Sebagai jurnalis daerah di Purwakarta, saya merasakan bahwa tantangan etika sering kali justru lebih dekat. Hubungan personal dengan narasumber, kedekatan sosial, hingga tekanan dari berbagai pihak membuat independensi bukan sesuatu yang mudah dijaga. Namun justru dalam ruang-ruang kecil itulah integritas diuji setiap hari.

Pada akhirnya, jurnalis memang manusia biasa. Ia bisa lelah, bisa keliru, bahkan bisa mendapat tekanan dari berbagai arah. Tetapi selama ia tetap berpegang pada Kode Etik Jurnalistik, ia akan selalu memiliki kompas moral yang menuntunnya kembali kepada tujuan utama profesinya: melayani kepentingan publik melalui kebenaran.

Karena di tengah derasnya arus informasi, masyarakat tidak hanya membutuhkan berita yang cepat. Mereka membutuhkan jurnalis yang dapat dipercaya.

Oleh: Solahudin – Penulis adalah Anggota Forum Komunikasi Jurnalis Purwakarta (FOKUS JP)

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran