Nurul Huda Cibojong: Merawat Tradisi Pesantren, Menjawab Tantangan Zaman

|

PONDOK Pesantren Nurul Huda Cibojong di Kampung Cibojong RT 03 RW 04, Desa Balewangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang terus menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan pendidikan modern. Pesantren yang dirintis sekitar tahun 1950 oleh Ajengan Dawami ini berkembang dari pengajian tradisional menjadi lembaga pendidikan terpadu yang menaungi pendidikan formal, diniyah, tahfidz, kajian kitab kuning, serta berbagai kegiatan pembinaan santri.

Berdasarkan keterangan KH. Cecep Jaya Karama, putra dari KH. Muhammad Nuh Addawami, Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong lahir dari semangat dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Sejak awal berdirinya, pesantren ini tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan akhlak, karakter, kemandirian, dan kepedulian sosial para santri.

Pesantren ini dirintis oleh Ajengan Dawami, seorang tokoh agama yang dikenal masyarakat sebagai bagian dari keturunan Eyang Raden Nangga Wijaya, tokoh spiritual dan pejuang dakwah yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah keagamaan lokal. Bersama istrinya, Nyai Hj. Uka, Ajengan Dawami meletakkan dasar perjuangan pesantren melalui pengajian, pembinaan umat, dan penguatan nilai-nilai Islam di lingkungan masyarakat Cibojong.

Dari pasangan Ajengan Dawami dan Nyai Hj. Uka, lahir sejumlah penerus perjuangan, yaitu Nyai Siti Maryam (almh), KH. Muhammad Nuh Addawami, KH. Awan Sanusi (alm), dan KH. Tatang Effendi. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh KH. Muhammad Nuh Addawami, yang memiliki peran besar dalam memperkuat kelembagaan, sistem pendidikan, serta pengembangan pesantren agar mampu menjawab kebutuhan zaman.

Baca Juga:  Pelantikan MWCNU Cikajang, PCNU Garut Tekankan Percepatan Layanan dan Penguatan Ranting

Di bawah pengasuhan KH. Muhammad Nuh Addawami bersama istrinya, Ny. Hj. O. Qodasah, Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong berkembang semakin luas. Keduanya dikaruniai putra-putri, yaitu Hj. Eulis Karomah, H. Aceng Amrulloh, Hj. Ai Sadidah, H. Cecep Jaya Karama, Himas Gatidah, dan Berlian Shap Addawami. Keluarga besar inilah yang turut menjaga kesinambungan nilai perjuangan pesantren dari generasi ke generasi.

Sebagai pesantren yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, Nurul Huda Cibojong memadukan pendidikan salafiyah dengan pendidikan formal. Tradisi mengaji kitab kuning tetap dipertahankan sebagai identitas utama pesantren, sementara pendidikan formal dikembangkan untuk membuka ruang lebih luas bagi santri dalam menghadapi tantangan sosial, akademik, dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Perkembangan penting terjadi pada era 1990-an. Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong mulai memperkuat pendidikan formal dengan mendirikan lembaga madrasah. Salah satu tonggak utamanya adalah pendirian Madrasah Aliyah Nurul Huda Cisurupan pada tahun 1995 yang kemudian mulai beroperasi secara resmi pada 1997. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pesantren dalam memperluas akses pendidikan Islam yang tetap berlandaskan nilai keilmuan pesantren dan berafiliasi dengan lingkungan pendidikan Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:  MUI Garut Tegaskan Kirab Budaya Sunda Bukan Praktik Syirik, Budaya Dinilai Bisa Jadi Media Dakwah

Saat ini, Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong menyelenggarakan pendidikan formal melalui jenjang MTs dan MA. Sementara itu, pendidikan nonformal dikembangkan melalui Tarbiyatul Muslimin wal Muslimat, Program Tahfidzul Qur’an, serta Madrasah Diniyah tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Sistem pendidikan tersebut dirancang untuk membentuk santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga mampu berperan aktif di tengah masyarakat.

Kekuatan utama pesantren ini terletak pada pengajaran kitab-kitab dasar hingga lanjutan. Di antara kitab dan materi yang diajarkan ialah Matan Jurmiyah, Amtsilati Tashrifiyah, Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, Balaghah, Mahfudzat, Arba’in Nawawi, Musthalahul Hadis, Durusul Lughah, Muhawarah, Mabadi Fiqih, Risalatul Mahid, Safinatunnajah, Fathul Qarib, Fiqih Sirah, Waraqat, Aqidatul Awwam, Jawahirul Kalamiyah, Taisirul Khalaq, Ta’limul Muta’allim, Khulashah Nurul Yaqin, Tuhfatul Athfal, Qawa’idul Asasiyah, dan Tafsir Jalalain.

Selain kegiatan belajar di kelas dan pengajian kitab, pesantren juga memberi ruang pengembangan minat dan bakat santri melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan tersebut meliputi Tahfidzul Qur’an, Tahsinul Qur’an, kajian kitab kuning, kaligrafi, hadrah, muhadatsah, latihan pidato tiga bahasa yaitu Indonesia, Arab, dan Inggris, pencak silat, PMR, marching band, futsal, serta bola voli. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan santri agar tumbuh percaya diri, disiplin, terampil, dan mampu berkomunikasi dengan baik.

Untuk menunjang proses pendidikan, Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong juga dilengkapi berbagai fasilitas. Di antaranya asrama putra dan putri, gedung sekolah, perpustakaan, masjid, kantor, laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dapur umum, koperasi santri, tempat keterampilan, ruang UKS, serta kamar mandi dan MCK. Fasilitas ini menjadi pendukung penting bagi terselenggaranya pendidikan pesantren yang tertib, nyaman, dan berkesinambungan.

Baca Juga:  Bupati Garut Tinjau PLTP Darajat, Dorong Energi Bersih dan Dampak Nyata bagi Warga

Meski terus berkembang, pesantren tetap menjaga prinsip dasar yang diwariskan para ulama. Salah satu kaidah yang menjadi pegangan adalah:

اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ

Artinya, “Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Kaidah tersebut menjadi arah gerak Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong dalam menjaga warisan keilmuan para pendiri sekaligus membuka diri terhadap pembaruan yang membawa maslahat. Pesantren tidak memandang modernisasi sebagai alasan untuk meninggalkan tradisi, tetapi sebagai jalan untuk memperkuat fungsi pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada umat.

Dengan perjalanan sejarah yang panjang, Pondok Pesantren Nurul Huda Cibojong terus berkomitmen mencetak generasi yang alim, saleh, berakhlak, cerdas, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap agama, bangsa, serta kemanusiaan. Dari Cibojong, pesantren ini melanjutkan peran pentingnya sebagai pusat ilmu, pembinaan akhlak, kaderisasi ulama, dan pengabdian masyarakat yang berlandaskan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.*

Penulis: M. Yasir Alawi Sastradimadja

Narasumber: KH. Cecep Jaya Karama, putra KH. Muhammad Nuh Addawami

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran