Minim Ruang Berkarya, Purwakarta Berisiko Kehilangan Talenta Muda

|

GUGAH – Keluhan sebagian anak muda mengenai terbatasnya ruang untuk berkarya dan berekspresi di Purwakarta dinilai perlu menjadi perhatian bersama. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga menyangkut ekosistem yang memengaruhi tumbuh kembang potensi generasi muda.

Dosen dan Praktisi Psikologi, Agus Sanusi, mengatakan kreativitas tidak berkembang hanya karena bakat. Menurutnya, lingkungan yang mendukung memiliki peran penting dalam membentuk motivasi, kepercayaan diri, dan keberanian seseorang untuk menghasilkan karya.

“Sering kali kita menganggap anak muda kurang kreatif. Padahal, bisa jadi yang kurang bukan kreativitasnya, melainkan ruang untuk mengekspresikan kreativitas itu. Potensi akan sulit berkembang jika lingkungan tidak memberi kesempatan untuk mencoba, berkolaborasi, dan diapresiasi,” ujar Agus, belum lama ini.

Baca Juga:  Purwakarta dalam Angka Tak Seindah Purwakarta di Dunia Maya

Ia menjelaskan, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa motivasi intrinsik akan tumbuh ketika individu merasa memiliki kesempatan untuk berkembang, dipercaya, dan memperoleh dukungan dari lingkungannya. Sebaliknya, ketika ruang berekspresi terbatas, semangat untuk berkarya dapat menurun meskipun seseorang memiliki kemampuan yang baik.

Menurut Agus, apabila kondisi tersebut terus berlangsung, daerah berpotensi kehilangan sumber daya manusia kreatif karena generasi muda akan mencari tempat yang dinilai lebih mampu menghargai ide dan karya mereka.

Baca Juga:  Ketarunaan atau Modus? Permintaan Material Bangunan di SMKN 1 Purwakarta Dinilai Langgar Hukum

“Talenta tidak selalu pergi karena tidak mencintai daerahnya. Banyak yang pergi karena merasa peluang untuk bertumbuh lebih besar di tempat lain. Ini menjadi tantangan yang perlu dipikirkan bersama,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pembangunan daerah seharusnya tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menciptakan ekosistem yang mendorong lahirnya inovasi, kreativitas, dan kolaborasi.

Baca Juga:  Ketika Kata Syukur Berubah Menjadi Penghinaan terhadap Perempuan: Perempuan Bukan Kutukan!

Menurutnya, pemerintah daerah, dunia pendidikan, komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat perlu membangun ruang kolaboratif yang terbuka bagi anak muda agar ide-ide mereka dapat berkembang menjadi karya yang bermanfaat.

“Anak muda tidak hanya membutuhkan panggung untuk tampil, tetapi juga ekosistem yang membuat mereka merasa didengar, dipercaya, dan diberi kesempatan untuk berkembang. Dari sanalah kreativitas akan tumbuh dan pada akhirnya memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah,” demikian Agus Sanusi.*

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran