Ketika Gunung Bergemuruh, Kepada Siapa Manusia Kembali?

|

Refleksi Teologis atas Ketakutan, Keterbatasan, dan Kesadaran akan Tuhan

Setiap kali gunung meletus, manusia hampir selalu merasakan hal yang sama: takut. Gunung yang sebelumnya menjadi bagian dari lanskap yang indah tiba-tiba berubah menjadi sumber ancaman. Abu vulkanik, dentuman, lava, dan gemuruh alam mengingatkan kita bahwa ada kekuatan yang jauh melampaui kemampuan manusia.

Namun, yang menarik bukan semata-mata letusan gunung itu sendiri, melainkan perubahan yang terjadi dalam diri manusia setelah rasa takut muncul. Ada yang panik, sibuk mencari informasi, memastikan keselamatan keluarga, hingga akhirnya kembali menengadahkan tangan kepada Tuhan. Seakan-akan ketika berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar kendalinya, manusia baru menyadari bahwa hidup ini tidak pernah benar-benar berada dalam genggamannya.

Pertanyaannya, mengapa manusia begitu mudah mengingat Allah ketika menghadapi sesuatu yang menakutkan?

Al-Qur’an sejak awal telah menjelaskan bahwa rasa takut merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia.

“Sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 155).

Ketakutan bukanlah penyimpangan dari kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut sakit, takut mati, dan takut menghadapi sesuatu yang tidak dapat diprediksi. Erupsi gunung hanyalah salah satu bentuk nyata dari pengalaman tersebut.

Yang sering terlupakan adalah bahwa rasa takut tidak hanya memperlihatkan besarnya ancaman, tetapi juga memperlihatkan kecilnya diri manusia. Dalam keadaan normal, kelemahan itu sering tertutupi oleh rumah yang kokoh, teknologi yang canggih, kekayaan, ilmu pengetahuan, dan berbagai kenyamanan hidup. Semua itu membuat manusia merasa seolah-olah mampu mengendalikan kehidupannya sendiri.

Namun ketika gunung bergemuruh, kesadaran itu runtuh. Manusia dapat membaca data vulkanologi, memantau aktivitas gunung melalui satelit, dan memperoleh informasi setiap detik. Akan tetapi, semua itu tidak memberinya kuasa untuk menghentikan magma yang keluar dari perut bumi. Di titik inilah manusia dipaksa mengakui keterbatasannya.

Baca Juga:  Maulid Nabi: Sholawat di Lisan, Amal dalam Kehidupan, Ridha Allah sebagai Tujuan

Al-Qur’an mengingatkan:

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa [4]: 28).

Kelemahan inilah yang sebenarnya menjadi pintu menuju kesadaran spiritual.

Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, menyebut bahwa kecemasan tidak selalu lahir karena bahaya yang sedang terjadi, melainkan karena kemungkinan yang belum terjadi. Ketika sebuah gunung mengalami erupsi, yang mencemaskan manusia bukan hanya dentuman atau hujan abu. Pikiran segera dipenuhi berbagai kemungkinan: bagaimana jika letusannya membesar, bagaimana jika rumah hancur, bagaimana jika keluarga menjadi korban?

Kecemasan semacam itu membawa manusia berhadapan dengan kenyataan bahwa masa depan tidak pernah sepenuhnya dapat dipastikan. Barangkali di titik inilah manusia mulai mencari sesuatu yang lebih kokoh daripada dirinya sendiri.

Ironisnya, kesadaran itu sering kali hanya bertahan selama ancaman masih terasa. Setelah keadaan kembali normal, manusia kembali tenggelam dalam rutinitas. Kesibukan, pekerjaan, pendidikan, dan berbagai urusan dunia perlahan menghapus rasa takut yang sebelumnya begitu nyata.

Padahal Allah telah mengingatkan:

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra [17]: 85).

Kemajuan ilmu pengetahuan memang memungkinkan manusia memahami proses geologi dengan sangat baik. Kita dapat menjelaskan penyebab letusan gunung, memprediksi aktivitas vulkanik, hingga menyusun mitigasi bencana. Namun, memahami bukan berarti menguasai. Pengetahuan tidak pernah menjadikan manusia pengendali alam.

Di sinilah peringatan Imam Al-Ghazali tentang ghurur menjadi relevan. Ghurur adalah keadaan ketika manusia tertipu oleh rasa aman yang semu. Dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan, tetapi ketika kenyamanan hidup membuat manusia lupa bahwa semuanya bersifat sementara, di situlah ia sedang terperdaya.

Kita merasa besok pasti masih ada. Kita merasa tubuh akan selalu sehat, keluarga akan selalu bersama, dan seluruh rencana akan berjalan sesuai harapan. Sampai akhirnya satu peristiwa datang dan menyadarkan bahwa semuanya dapat berubah dalam hitungan detik.

Baca Juga:  Wajah Fasad Zaman

Erupsi gunung hanyalah salah satu contoh bagaimana rasa aman itu dapat runtuh seketika.

Pemikiran Martin Heidegger juga memberikan perspektif menarik. Menurutnya, manusia adalah makhluk yang hidup dalam dunia yang tidak sepenuhnya dapat ia kuasai. Dalam pengalaman Angst, rasa aman yang selama ini dianggap pasti tiba-tiba menghilang. Saat itulah manusia menyadari keberadaannya yang rapuh.

Kesadaran semacam ini sesungguhnya telah digambarkan Al-Qur’an.

“Apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang dari ingatanmu semua yang biasa kamu seru selain Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling.”
(QS. Al-Isra [17]: 67).

Begitu pula firman-Nya:

“Apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tetapi ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka mempersekutukan-Nya.”
(QS. Al-’Ankabut [29]: 65).

Dan lagi:

“Apabila manusia ditimpa kesusahan, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan kesusahannya, dia berlalu seakan-akan dia tidak pernah berdoa kepada Kami.”
(QS. Yunus [10]: 12).

Ayat-ayat tersebut tidak sedang berbicara tentang orang lain. Ayat itu berbicara tentang kita. Tentang kecenderungan manusia yang begitu dekat dengan Tuhan saat berada dalam kesulitan, tetapi begitu mudah melupakan-Nya ketika keadaan kembali baik.

Karena itu, letusan gunung tidak harus dipahami semata sebagai fenomena geologi. Secara ilmiah, ia memang memiliki penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, bagi manusia beriman, setiap peristiwa alam juga dapat menjadi ruang refleksi.

Allah berfirman:

“Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.”
(QS. Al-Isra [17]: 59).

Bukan berarti setiap bencana adalah hukuman Allah. Tidak seorang pun berhak memastikan maksud Allah di balik setiap peristiwa. Akan tetapi, setiap peristiwa dapat menjadi peringatan agar manusia kembali melihat dirinya sendiri.

Baca Juga:  Temuan BPK Berulang, Penindakan Nihil: Pengawasan Hanya Omong Kosong?  

Al-Qur’an bahkan menggunakan gunung sebagai simbol kekuatan yang tunduk kepada Allah.

“Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 21).

Jika gunung yang demikian kokoh saja digambarkan tunduk kepada Allah, bagaimana dengan manusia yang jauh lebih lemah?

Karena itu, mungkin yang paling perlu kita khawatirkan bukanlah gunung yang bergemuruh. Yang lebih berbahaya adalah hati yang tidak lagi bergemuruh ketika menerima peringatan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Anak Krakatau akan kembali meletus atau tidak. Bukan pula apakah kita akan kembali mengalami rasa takut. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi setelah rasa takut itu berlalu?

Apakah kita kembali menjadi pribadi yang sama, ataukah pengalaman itu mengubah cara kita memandang hidup?

Manusia memang tidak diberi kemampuan untuk mengendalikan segala sesuatu. Kita tidak dapat menghentikan gunung, mengatur seluruh gerak alam, ataupun mengetahui masa depan. Bahkan kita tidak mengetahui kapan kehidupan kita sendiri akan berakhir.

Mungkin memang bukan itu yang Allah tuntut dari manusia. Yang diminta bukanlah menguasai seluruh kehidupan, melainkan menyadari keterbatasan diri dan mengetahui kepada siapa kita harus kembali.

“Maka berlarilah kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat [51]: 50).

Kita mungkin tidak dapat berlari dari bencana, ketidakpastian, kehilangan, bahkan kematian. Namun kita selalu dapat memilih kepada siapa kita berlari ketika semua itu datang.

Sebab, yang paling mengkhawatirkan bukanlah ketika gunung mulai bergemuruh. Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika gunung telah kembali diam, keadaan telah kembali tenang, tetapi hati kita kembali lupa kepada Allah—Tuhan yang kepada-Nya kita berseru saat ketakutan itu datang.

Oleh: Ahmad Ribhan Zama Nurdin

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran