Maulid Nabi: Sholawat di Lisan, Amal dalam Kehidupan, Ridha Allah sebagai Tujuan

|

Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar momentum mengenang kelahiran manusia mulia. Lebih dari itu, Maulid menjadi ruang untuk meneguhkan cinta, keteladanan, dan komitmen menjalankan ajaran yang beliau wariskan.

Mencintai Rasulullah tidak cukup dengan kata-kata. Cinta kepada beliau harus diwujudkan melalui akhlak, amal, perjuangan, dan kepedulian terhadap sesama.

Sholawat di Lisan

Sholawat merupakan ungkapan cinta dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 56. Dalam Nurul Mubin karya Hadrotus Syekh KH M. Hasyim Asy’ari, berdasarkan keterangan Ibnu Abbas RA, dijelaskan bahwa Allah dan para malaikat memberikan keberkahan kepada Nabi SAW.

Dari ayat tersebut, para ulama menjelaskan kewajiban bersholawat kepada Nabi secara global. Kewajiban itu dapat gugur dengan sekali bersholawat seumur hidup, sebagaimana kewajiban bersyahadat atas kenabian beliau. Setelah itu, bersholawat menjadi amalan sunnah yang dianjurkan dan termasuk syiar Islam.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Nabi SAW bersabda:

Baca Juga:  Menjemput Cahaya Maulid, IPNU-IPPNU Plered Rawat Tradisi dan Perkuat Kaderisasi

أولى الناس بي يوم القيامة أكثرهم علي صلاة

“Orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Semakin banyak bersholawat, semakin besar pula harapan memperoleh syafaat dan keberkahan dari Allah SWT. Namun, sholawat tidak semestinya berhenti di lisan. Sholawat harus menjadi energi spiritual yang menggerakkan hati untuk berbuat baik, memperbaiki akhlak, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Amal sebagai Wujud Cinta

Kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan dalam amal nyata. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya menjadi pribadi yang aktif, produktif, bertanggung jawab, dan bermanfaat.

Bekerja mencari nafkah, mengabdi kepada masyarakat, mendidik generasi, membangun lembaga, serta melakukan berbagai kebaikan merupakan bagian dari amal apabila dilandasi niat ikhlas dan ditempuh dengan cara yang halal.

Kesalehan tidak boleh dipahami hanya sebatas banyaknya ibadah ritual, sementara tanggung jawab kehidupan diabaikan. Kesalehan harus melahirkan etos kerja.

Baca Juga:  Pancasila Di Antara Realitas Rakyat Purwakarta

Seorang Muslim hendaknya rajin beribadah sekaligus bersungguh-sungguh dalam bekerja. Tangan yang bekerja, hati yang berzikir, dan lisan yang bersholawat menjadi satu kesatuan dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT.

Ridha Allah sebagai Tujuan

Dalam kehidupan, tidak semua pekerjaan mendapat penghargaan manusia. Tidak semua kebaikan memperoleh pujian. Karena itu, ridha Allah harus menjadi orientasi utama.

Ketika seseorang bekerja bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan, tetapi untuk menjalankan amanah dan mencari keberkahan Allah SWT, setiap langkahnya memiliki nilai ibadah.

Maulid Nabi juga mengajarkan bahwa cinta harus melahirkan keteladanan. Rasulullah SAW merupakan sosok yang penuh kasih sayang, jujur, amanah, pekerja keras, dan peduli terhadap umat.

Karena itu, memperingati Maulid Nabi semestinya mendorong kita bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana akhlak Rasulullah telah hadir dalam kehidupan kita?

Jangan sampai kita hanya pandai mengucapkan sholawat, tetapi belum mampu menjaga lisan dari menyakiti orang lain. Jangan sampai mengaku mencintai Rasulullah, tetapi enggan bekerja keras dan menjalankan amanah. Jangan pula mengejar keberhasilan dunia dengan melupakan bahwa tujuan akhir kehidupan adalah memperoleh ridha Allah SWT.

Baca Juga:  Republik yang Belum Selesai Belajar

Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk memperkuat tiga hal: sholawat sebagai ekspresi cinta, amal sebagai bentuk pengabdian, dan ridha Allah sebagai tujuan akhir.

Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah tidak hanya terdengar dalam lantunan sholawat, tetapi juga terlihat dalam akhlak, karya, pengabdian, dan kebermanfaatan bagi sesama.

Sholawat di lisan, ikhtiar dalam pekerjaan, amal dalam kehidupan, dan ridha Allah sebagai tujuan. Itulah spirit Maulid Nabi yang semestinya kita hidupkan agar peringatan kelahiran Rasulullah SAW benar-benar melahirkan perubahan dalam diri serta memberikan manfaat bagi umat, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Oleh: Riyan Haqi Khoerul AnwarPenulis adalah Dosen STAI Al Badar Cipulus/Sekretaris PAC GP Ansor Bojong Purwakarta

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran