Menjemput Cahaya Maulid, IPNU-IPPNU Plered Rawat Tradisi dan Perkuat Kaderisasi

|

GUGAH — Menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Plered tidak memilih sekadar seremonial. Tradisi keagamaan justru dijadikan ruang untuk merawat silaturahmi, menguatkan karakter kader, sekaligus menghidupkan kembali semangat meneladani akhlak Rasulullah.

Pesan itu terasa dalam kegiatan Syahriahan dan Doa Bersama yang digelar PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Plered pada Kamis (6/8/2026) malam, di kediaman Imron, salah seorang Pengurus MWCNU Kecamatan Plered, di Kampung Ciserang RT 05/RW 02, Desa Gandamekar, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.

Sekitar 40 kader dan pengurus IPNU-IPPNU Plered hadir dalam kegiatan tersebut. Suasananya sederhana, tetapi sarat makna: doa, dzikir, pembacaan Al-Qur’an, dan tausiyah menjadi satu rangkaian yang mempertemukan tradisi keislaman dengan semangat kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama.

Kegiatan dipimpin Ketua MWCNU Kecamatan Plered, TB Seda Akhmad Ziyad. Selain memandu syahriahan dan doa bersama, ia juga menyampaikan tausiyah mengenai pentingnya menjadikan bulan Maulid bukan hanya sebagai momentum mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperkuat kecintaan kepada Rasulullah.

Baca Juga:  Sengketa Klaim Asuransi Jiwa di BTN Purwakarta Berlanjut, Kuasa Hukum Tempuh Banding dan Siapkan Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Hakim

Bukan Sekadar Rutinitas

Bagi PAC IPNU-IPPNU Plered, syahriahan bukan sekadar agenda yang berulang setiap bulan. Di tengah derasnya perubahan zaman dan tantangan yang dihadapi generasi muda, ruang-ruang semacam ini justru menjadi penting untuk menjaga akar tradisi sekaligus membentuk karakter kader.

Wakil Ketua III PAC IPNU-IPPNU Plered, Muhammad Rizky, menilai kegiatan keagamaan seperti syahriahan memiliki arti penting bagi keberlangsungan kaderisasi.

Menurutnya, tradisi keagamaan tidak boleh berhenti sebagai rutinitas. Ada nilai yang harus diwariskan dan diterjemahkan dalam kehidupan kader sehari-hari.

“Syahriahan bukan hanya tentang berkumpul dan membaca doa. Ini menjadi ruang bagi kami untuk memperkuat silaturahmi, mengingat kembali perjuangan Rasulullah, sekaligus membentuk karakter kader agar tetap memiliki pijakan nilai di tengah perkembangan zaman,” ujar Muhammad Rizky dalam keterangannya diterima Gugah.co pada Jumat (7/8/2026).

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Dinilai Cawe-Cawe Muktamar NU, Rais Undangan: 'Ek Ngurus Ummat Moal Ngurus Pejabat'

Ia menambahkan, momentum Maulid seharusnya menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui akhlak dan perilaku.

“Yang paling penting adalah bagaimana kecintaan kepada Rasulullah bisa tercermin dalam sikap, akhlak, kepedulian, dan cara kita berorganisasi. Jangan sampai Maulid hanya menjadi perayaan, tetapi nilai keteladanan Rasulullah justru tidak hadir dalam kehidupan kita,” katanya.

Merawat Tradisi, Menyiapkan Kader

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Acara kemudian dilanjutkan dengan dzikir, doa bersama, dan tausiyah.

Para peserta mengikuti seluruh rangkaian dengan khidmat dalam suasana kekeluargaan. Tidak ada kemewahan dalam kegiatan tersebut. Namun justru dari kesederhanaan itu, pesan kaderisasi terasa lebih kuat: bahwa organisasi pelajar NU tidak hanya membutuhkan kader yang aktif secara struktural, tetapi juga memiliki fondasi spiritual dan moral.

Syahriahan selama ini menjadi salah satu agenda rutin PAC IPNU-IPPNU Plered sebagai bagian dari pembinaan keagamaan dan penguatan karakter kader.

Baca Juga:  REVIEW KASUS Gratifikasi Mobil Mewah Purwakarta: Dua Tahun Menggantung, Kini Bidik TPPU

Tradisi tersebut sekaligus menjadi cara organisasi menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah agar tetap dekat dengan generasi muda.

Sebab, di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, mempertahankan tradisi bukan berarti menolak perubahan. Justru tradisi dapat menjadi kompas agar perubahan tidak membuat generasi muda kehilangan arah.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan ramah tamah. Pertemuan sederhana itu menjadi ruang mempererat hubungan antara pengurus MWCNU dengan kader IPNU-IPPNU Plered.

Bagi para kader, menyambut Maulid bukan sekadar menunggu datangnya sebuah bulan dalam kalender Islam. Ia adalah momentum untuk kembali bertanya: seberapa jauh nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW benar-benar hidup dalam diri generasi muda hari ini?

Pertanyaan itulah yang membuat syahriahan tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar kecil untuk menjemput cahaya Maulid sekaligus menyiapkan kader yang tidak tercerabut dari akar tradisinya.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran