GUGAH – Masih ingat Perda Nomor 2 Tahun 2019 soal Kepemudaan? Kertasnya sudah rapi, nomornya sudah tercatat, tapi sampai sekarang rasanya kayak teman ngopi yang janjian datang tapi tak kunjung nongol. Entah nyasar ke mana, sampai kabar manfaatnya pun belum pernah terdengar nyampe ke telinga warga.
Padahal kalau dicek di database JDIH Sekretariat Daerah, ada sekitar 166 produk hukum Perda yang sudah tersusun rapi! Kalau ditumpuk, mungkin tingginya bisa melebihi tinggi tiang bendera pas upacara.
Nah, besok Senin 24 Agustus 2026, mau disetujui lagi empat Rancangan Perda baru, yaitu: Pemajuan Kebudayaan, Kesejahteraan Sosial, Ketahanan Keluarga, sama Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Namanya keren-keren banget, bikin hati terasa hangat bacanya.
Tapi pertanyaan warga sederhana aja: “Keren di kertasnya, tapi kapan kerennya nyampe ke kehidupan kami?” Jangan cuma jawab “kan ini mulia tujuannya”, kayak anak kecil kalau ditanya kenapa mainan baru belum bisa dipakai, jawabnya “kan bagus warnanya”.
Banyaknya aturan bukan lomba siapa yang paling banyak punya koleksi buku, tapi siapa yang beneran bisa bikin hidup jadi lebih gampang.
Bikin aturan itu nggak cuma ngetik, rapat, terus ketuk palu selesai. Ada biaya rapat, biaya cetak, biaya sosialisasi, biaya perjalanan dinas, semuanya pakai uang yang asalnya dari keringat warga.
Jadi wajar dong kalau warga nanya: “Berapa modal yang dikeluarin? Siapa yang bakal seneng dapet manfaatnya? Dan masalah apa yang sebenernya nggak bisa selesai kalau nggak bikin aturan baru ini?”
Kalau nggak bisa dijawab jelas, jangan heran kalau warga berandai-andai: “Wah, jangan-jangan nanti hasilnya cuma nambah jadwal rapat, nambah acara seminar, nambah rencana perjalanan, tapi jalan yang bolong tetep bolong, biaya sekolah tetep bikin pusing, dan nasib pemuda tetep cuma jadi topik obrolan aja ya?”
Apalagi sekarang anggaran lagi diirit-irit. Jangan sampai di satu sisi disuruh hemat belanja, tapi di sisi lain malah bikin aturan baru yang nantinya butuh biaya lagi tanpa tau hasilnya bakal kayak gimana. Kayak orang yang lagi berhemat makan, tapi malah beli banyak baju baru yang nggak pernah dipakai.
Jadi ini pertanyaan polos dari warga: Emang beneran empat aturan ini adalah hal yang paling mendesak sekarang? Nggak tumpang tindih sama aturan yang udah ada 166 itu? Butuh biaya berapa besar buat jalaninnya nanti dan satu tahun, tiga tahun, lima tahun ke depan, perubahan apa yang bakal kelihatan nyata?
Kalau jawabannya cuma penuh kata-kata indah tapi nggak nyentuh dompet dan kehidupan sehari-hari, warga berhak bilang: “Kami butuh solusi yang terasa, bukan tambahan koleksi aturan yang akhirnya cuma jadi penghias lemari birokrasi!”
Besok pas palu diketuk, itu bukan garis akhir lho. Itu baru awal pertanggungjawaban. Setiap anggota dewan yang setuju, harus siap kalau ditanya tetangga: “Om atau Tante, ini aturan baru bikin hidup saya jadi lebih enak gimana? Dan berapa harganya kita bayar bareng-bareng?”
Jangan bangga kalau koleksi Perdanya makin menumpuk. Banggalah kalau warga bisa bilang: “Wah, ada aturan baru, dan ini beneran ngebantu kami!” Soalnya kalau aturan cuma hebat di rapat tapi nggak berasa di jalanan, itu sama aja kayak janji manis yang nggak ditepati.
Warga cuma mau tanya satu hal: “Uang dan tenaga yang dipakai buat ini, ke mana perginya kalau kami tetap ngerasain hal yang sama?” (redaksi)




Tinggalkan Balasan