SENJA perlahan tenggelam, meninggalkan langit Amarta Winangun yang berubah menjadi kelabu gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala remang-remang, memancarkan cahaya kuning pucat yang menari-nari di atas permukaan aspal basah.
Di antara bangunan di pinggir jalan, berdiri Klinik Hudaya yang tampak sepi dari luar, namun di balik dindingnya, tersembunyi sebuah rahasia yang nyaris meledak.
Di dalam ruang rawat inap yang hanya diterangi satu lampu temaram, Bunga (35 tahun) duduk berhadapan dengan Japra, seorang petinggi di Kejaksaan Caruban.
Suasana hening, hanya sesekali terdengar suara detak jam dinding yang berirama lambat, seolah menandakan waktu yang berjalan menuju titik balik.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka malam itu, namun bayangan hubungan yang sudah lama dibisikkan orang-orang seolah menggantung tegang di udara.
Bunga adalah istri Darmanto, seorang anggota kepolisian yang telah lama mendengar desas-desus menyakitkan. Selama ini ia berusaha menepisnya, berpegang teguh pada harapan bahwa itu hanyalah fitnah belaka. Namun malam itu, takdir berkata lain.
Tiba-tiba…BRAK!
Pintu ruangan terbuka lebar dengan hentakan keras. Di ambang pintu, berdiri Darmanto dengan napas memburu, dadanya naik turun menahan amarah dan kekecewaan yang meluap. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah dua orang di dalam, seolah hendak menembus kegelapan yang menyelimuti mereka.
Wajah Japra seketika pucat pasi. Detak jantungnya seolah berhenti sejenak. Tanpa berpikir panjang, tanpa sempat berkata sepatah kata pun, ia berbalik badan, keluar dan melesat lari seolah dikejar mimpi buruk.
Bahkan kendaraannya yang terparkir rapi di halaman klinik pun ditinggalkan begitu saja, seolah itu bukan lagi hal yang penting dibandingkan keselamatan dirinya.
“Begitu saya datang, dia langsung kabur entah ke mana,” ujar Darmanto dengan suara bergetar, bercampur antara marah dan rasa sakit yang mendalam. Matanya berkaca-kaca, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan orang yang dianggapnya musuh.
Sejak malam itu, Japra seolah ditelan bumi. Ia menghilang tanpa jejak, tidak ada yang tahu ke mana ia melarikan diri. Satu-satunya bukti keberadaannya malam itu hanyalah mobil yang terparkir sunyi, menjadi saksi bisu atas kejadian yang memalukan.
Kisah ini menjadi pengingat pahit: rahasia yang disembunyikan dalam kegelapan pada akhirnya akan selalu menemukan jalan untuk terungkap. Dan hubungan yang dibangun di atas ketidakjujuran hanya akan meninggalkan luka yang mendalam bagi semua pihak yang terlibat.*
DISCLAIMER: Tulisan ini hanya cerita fiksi. Jika terjadi kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, maupun peristiwa di dalamnya hanyalah kebetulan.




Tinggalkan Balasan