Tak Lagi Menyeramkan, Kejari Purwakarta Kenalkan Hukum Lewat Festival Drama Kolosal Pelajar

|

GUGAH – Citra jaksa yang selama ini identik dengan ruang sidang dan proses penegakan hukum coba diubah oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Purwakarta. Melalui Jaksa Masuk Sekolah (JMS) Festival 2026, edukasi hukum dikemas dalam bentuk drama kolosal, lomba poster kreatif, hingga pertunjukan seni yang melibatkan ratusan pelajar.

Festival yang digelar di Bale Sawala Yudistira, Kompleks Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Kamis (18/6/2026), menjadi yang pertama kali diselenggarakan di Purwakarta. Sejak pagi, ratusan siswa dari jenjang SMP, SMA, hingga SLB memadati lokasi dengan mengenakan kostum sesuai tema pertunjukan yang mereka bawakan.

Suasana berlangsung semarak. Sorak sorai penonton beberapa kali menggema saat para peserta menampilkan drama kolosal bertema kesadaran hukum. Di sisi lain gedung, puluhan poster karya pelajar dipamerkan dengan mengangkat isu-isu seperti bahaya perundungan, kenakalan remaja, penyalahgunaan media sosial, hingga pentingnya penyelesaian perkara melalui pendekatan restorative justice.

Baca Juga:  Mafia Proyek Berkedok Relawan: Menakar “Pembajakan” Anggaran di Balik Pintu Pemkab Purwakarta

Kepala Kejaksaan Negeri Purwakarta, Apsari Dewi, mengatakan JMS Festival merupakan inovasi Kejari Purwakarta untuk mengenalkan hukum kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih kreatif, menyenangkan, dan mudah dipahami.

“Ini pertama kali diadakan di Purwakarta. Saya tidak tahu di daerah lain, tetapi ini merupakan inovasi dari Kejaksaan Negeri Purwakarta,” ujar Apsari.

Ia menjelaskan, festival diikuti oleh 53 peserta lomba poster kreatif dan 18 sekolah yang berkompetisi dalam drama kolosal.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah menanamkan kesadaran hukum sejak dini sekaligus membentuk karakter pelajar yang berintegritas.

Baca Juga:  Meluruskan Fakta Hukum: Sengketa Perdata Bukan Urusan Jabatan Maupun Politik

“Tujuannya untuk memperkenalkan hukum sedini mungkin, membentuk karakter anak didik Purwakarta yang berintegritas, sadar hukum, dan nantinya bisa berkontribusi untuk Purwakarta,” katanya.

Selain menjadi media edukasi, festival juga menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengekspresikan kreativitas melalui seni yang sarat pesan sosial dan hukum.

“Ini merupakan wadah bagi siswa untuk menunjukkan karya-karyanya. Tidak hanya kreativitas, tetapi juga bagaimana mereka memahami nilai-nilai hukum dan budaya,” tambahnya.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein mengapresiasi konsep yang dihadirkan Kejari Purwakarta. Menurutnya, festival tersebut berhasil menghilangkan kesan bahwa edukasi hukum selalu identik dengan suasana yang kaku dan menegangkan.

“Kalau dengar judulnya Jaksa Masuk Sekolah mungkin agak seram, tetapi isinya menyenangkan,” kata Binzein.

Baca Juga:  Sekolah Unggulan: Kelas Baru Kastanisasi Pendidikan

Ia menilai hukum bukan sekadar kumpulan pasal, melainkan bagian dari pembentukan karakter, budaya, dan kesadaran masyarakat.

“Dalam festival ini kita menyadari bahwa hukum bukan hanya pasal-pasal. Hukum adalah kesadaran, karakter, budaya, bahkan filsafat,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang peserta, Alpian Dwi Priangga (17), siswa MA Cipulus, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui festival tersebut. Bersama timnya, ia membawakan drama bertema restorative justice sebagai bentuk edukasi hukum kepada masyarakat.

“Supaya kita bisa menyampaikan kritik sosial dan menyadarkan masyarakat bahwa kesadaran hukum itu penting. Dengan kegiatan ini kami juga jadi mendapat pengetahuan hukum,” ucap Alpian.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran