BANDUNG – Kota Bandung resmi menjadi saksi bisu kemegahan puncak perayaan kebudayaan Sunda yang berlangsung sangat kolosal.
Setelah melintasi rute spiritual panjang, Mahkota Binokasih akhirnya mendarat di Kota Kembang pada puncak acara Kirab Budaya Hari ke-9.
Pesta rakyat ini mengusung tajuk utama “Mahkota Ajeg Ki Sunda di Kota Bandung” untuk memperkokoh identitas lokal.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemkot Bandung mendesain acara akbar ini hingga menyedot perhatian ribuan pasang mata.
Jalanan protokol Kota Bandung seketika menjelma menjadi panggung budaya raksasa yang menampilkan mahakarya seni terbaik nusantara.
Warga lokal, wisatawan domestik, hingga pelancong mancanegara tampak menyemut di sepanjang jalur perlintasan kirab adat tersebut.
Bertindak sebagai tuan rumah, Kota Bandung menyajikan penampilan istimewa Ulin Barong Sekeloa untuk menyapa para pengunjung.
Kesenian legendaris dari kawasan Sekeloa ini terbukti sukses membius penonton lewat gerakan tari barong berkarakter sangat kuat.
Alunan musik tradisional yang magis berpadu apik dengan atraksi ketangkasan pencak silat yang dinamis di aspal jalanan.
Parade budaya ini semakin meriah dengan unjuk gigi 27 Kesenian Khas Daerah dari seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat.
Penampilan alat pertanian tradisional Rengkong dari Sukabumi serta prosesi adat Ngarak Cai dari Cimahi berhasil menyita perhatian.
Tak kalah memukau, Kabupaten Cirebon turut mengirimkan kesenian akrobatik-mistis Buroq yang membuat penonton berdecak kagum.
Menariknya, momentum puncak Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda ini juga menjadi ruang diplomasi budaya berskala nasional.
Berbagai kontingen kesenian dari luar daerah ikut melantai memberikan penghormatan khusus pada hari jadi tatar Sunda ini.
Ibu kota mengirimkan ikon Ondel-Ondel, disusul gemuruh Rampak Bedug Banten, serta eksotisme Reog Ponorogo asal Jawa Timur.
Penampilan magis Tari Ratoh Jaroe dari Aceh dan Tarian Nada Aksara dari Bali ikut menghentak panggung utama.
Kehadiran berbagai kesenian nusantara ini mempertegas pesan persatuan dalam bingkai kebhinekaan yang utuh di tanah Pasundan.
Panitia mengunci parade budaya ini dengan sebuah semboyan penuh khidmat yang menggema ke seantero kota: “Nyuhun Buhun, Nata Nagara”.***



Tinggalkan Balasan