GUGAH – Rupiah kembali mendapat tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Setelah menguat pada akhir pekan lalu, mata uang Garuda dibuka melemah signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (5/10/2026).
Mengacu data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.950 per dolar AS, melemah 0,46% atau 82 poin dibandingkan posisi penutupan Jumat (2/10/2026) di Rp17.868 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika indeks dolar AS atau DXY justru bergerak menguat. Pada pukul 09.00 WIB, DXY berada di level 102,030, naik 0,10%.
Kondisi ini menjadi perhatian karena penguatan dolar AS kembali memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Padahal, dari Amerika Serikat muncul sinyal pelemahan pasar tenaga kerja. Data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat malam menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat tajam pada September 2026.
Non-farm payrolls hanya bertambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 90.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran AS juga meningkat menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,1%.
Data tersebut mendorong ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menentukan langkah suku bunga berikutnya.
Namun, rupiah belum mendapatkan keuntungan dari sentimen tersebut. Penguatan dolar AS pada awal perdagangan menunjukkan pasar masih memiliki alasan untuk mempertahankan permintaan terhadap greenback.
Dari dalam negeri, investor akan mencermati rilis data cadangan devisa September dan indeks keyakinan konsumen September. Kedua indikator tersebut akan menjadi perhatian untuk membaca ketahanan eksternal sekaligus kondisi permintaan domestik Indonesia.
Sementara dari eksternal, risiko geopolitik masih menjadi bayang-bayang. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran serta perkembangan situasi di Selat Hormuz masih dipantau pasar.
Harga minyak juga menjadi faktor penting. Perubahan harga energi dapat memengaruhi inflasi global dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga.
Perhatian investor sepanjang pekan ini juga akan tertuju pada data aktivitas sektor jasa AS dan notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Kedua agenda tersebut dapat memberikan petunjuk lebih jauh mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Rupiah kini menghadapi ujian dari dua sisi: sentimen domestik yang menunggu sejumlah data penting dan tekanan eksternal dari penguatan dolar AS serta risiko geopolitik.
Artinya, pelemahan rupiah di awal pekan belum tentu menjadi cerita sehari. Pasar masih akan mencari arah dari data ekonomi dan kebijakan The Fed sepanjang pekan ini.***





Tinggalkan Balasan