Pulangkan Binokasih ke Kawali, Satukan Sejarah Tatar Galuh

CIAMIS – Dalam kilasan sejarah panjang peradaban di Tatar Pasundan, Mahkota Binokasih senantiasa dikenang sebagai lambang kewibawaan, kehormatan, dan kejayaan Kerajaan Galuh yang pernah bertahta megah di bumi Priangan.

Bagi Johan J. Anwari, pengamat budaya serta mantan Anggota DPRD Jawa Barat, benda pusaka yang penuh nilai sejarah ini memiliki akar asal yang tak terpisahkan dari tanah Kawali, Kabupaten Ciamis.

Oleh sebab itu, ia memberikan amanah sekaligus tantangan besar kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk berkenan mengembalikan Mahkota Binokasih kembali ke tempat lahir dan asal muasalnya, yaitu Keraton Surawisesa Kawali.

Bukan tanpa alasan yang kuat dan mendasar permintaan tersebut disampaikan. Sejarah mencatat dengan jelas, benih dan wujud Mahkota Binokasih pertama kali lahir dan dibuat pada masa pemerintahan Maharaja Bunisora yang berkuasa di Keraton Surawisesa Kawali.

Atas titah Baginda Raja, mahkota ini dikerjakan oleh para ahli pandai besi yang didatangkan dari wilayah Jampang Surade, Sukabumi, khusus diperuntukkan sebagai tanda kebesaran dan simbol identitas Raja-raja Kerajaan Galuh.

“Akar sejarahnya ada di Kawali, Ciamis. Mahkota ini diciptakan di sana, untuk Raja Galuh, maka sepatutnya ia kembali ke tanah asalnya. Mahkota Binokasih inilah yang kemudian dipakai berturut-turut oleh para penerus tahta, mulai dari Prabu Bunisora, Prabu Niskala Wastu Kencana, hingga Prabu Jayadewata, sebagai lambang kekuasaan dan kemuliaan Kerajaan Galuh,” kata Johan, kepada awak media, belum lama ini.

Baca Juga:  Ada Kirab Mahkota Binokasih, Cek Rekayasa Lalu Lintas di Kota Bogor Hari Ini

Kisah perjalanan Mahkota Binokasih kemudian menyertai langkah Prabu Jayadewata, Sang Pamanah Rasa, ketika beliau mempersunting Kentring Manik Mayang Sunda, putri dari Susuk Tunggal, Raja Kerajaan Sunda.

Melalui penyatuan kasih dan kekuasaan itu, Prabu Jayadewata pun memersatukan kembali wilayah-wilayah warisan leluhur Tarumanegara, menyatukan dua kekuatan besar bangsa Galuh dan Sunda. Atas pertimbangan letak geografis yang dianggap lebih berada di tengah dan strategis, pusat pemerintahan pun dipindahkan dari Surawisesa Kawali ke Pakuan.

Kendati demikian, Sang Raja tetap mengenakan Mahkota Binokasih sebagai lambang kewibawaan, sehingga wilayah kekuasaan tersebut dikenal dan didefinisikan oleh Johan sebagai Galuh Pakuan Pajajaran, bukan sekadar Kerajaan Sunda semata. Hal ini dimaksudkan untuk menegaskan bahwa di atas singgasana Pakuan bertahtalah seorang Raja dari keturunan Galuh, yang tetap menjunjung tinggi simbol kebesaran tanah leluhurnya.

Kisah panjang penuh perjuangan itu terus berlanjut hingga masa pemerintahan Prabu Ragamulya In Galuh Pakuan Pajajaran, ketika ibu kota kerajaan mendapat serangan dahsyat dari pasukan Kesultanan Banten. Keraton Pakuan pun runtuh dan terbakar.

Namun, Sang Raja beserta keluarga dan para hulubalang setia di bawah pimpinan Kandanghapa dan Terong Peot, berhijrah ke arah timur dengan tetap membawa serta Mahkota Binokasih sebagai harta yang tak boleh terlepas.

Setelah beristirahat sejenak di Parakan Muncang (wilayah Rancaekek, Bandung) dan merasa menemukan ketenangan, Sang Raja memutuskan menetap di sana dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Demi menjaga keselamatan pusaka bangsa yang tak ternilai harganya itu, Mahkota Binokasih kemudian diperintahkan untuk dibawa dan dititipkan kepada Prabu Geusan Ulun di Sumedanglarang.

Baca Juga:  Dari Kebun Singkong Menjadi Cahaya Ilmu: Transformasi Sejarah Ponpes Darul Huda Al Hasanah Cihurip

“Pilihan menitipkan di Sumedanglarang bukanlah tanpa pertimbangan. Saat itu, Prabu Geusan Ulun dikenal teguh pendiriannya dan menolak tunduk di bawah kekuasaan Cirebon maupun Banten. Bagi Prabu Ragamulya, di sanalah tempat paling aman bagi pusaka ini. Di sisi lain, kehadiran Binokasih di sana turut mengukuhkan kemerdekaan dan kedaulatan Kerajaan Sumedanglarang,” papar Johan menafsirkan lembaran sejarah masa silam.

Adapun alasan mengapa Mahkota Binokasih tidak dikembalikan kembali ke Kawali pada masa itu, semata-mata karena pertimbangan politik dan keadaan wilayah. Saat itu, tanah Kawali telah dikuasai oleh keturunan Raja Langlangbuana atas dukungan Kesultanan Cirebon, sementara Prabu Jayadiningrat beserta keluarga telah mengungsi ke arah timur. Mengembalikan mahkota ke sana saat itu sama saja dengan menyerahkan lambang kebesaran Galuh ke tangan kekuatan lawan.

Namun, di mata Johan J. Anwari, zaman kini telah berubah seiring berjalannya waktu. Kerajaan besar masa lalu telah menjadi sejarah, namun nilai dan identitas yang dibawanya tetap hidup di dada rakyat keturunannya.

Kini, mengembalikan Mahkota Binokasih ke tanah asalnya di Kawali bukan lagi soal siapa yang sedang berkuasa atau garis keturunan, melainkan semata-mata soal keadilan sejarah dan penghormatan terhadap akar budaya.

“Mahkota Binokasih dibawa ke Pakuan oleh Raja Galuh, itu tidak serta-merta menjadikannya milik Sunda. Ia tetaplah milik Galuh, milik rakyat yang lahir dari rahim peradaban Surawisesa. Kini, saatnya ia pulang ke rumah asalnya sebagai kehormatan bagi seluruh rakyat Ciamis,” ujarnya.

Baca Juga:  Syuriyah NU se-Jatim Kumpul di Lirboyo: Sinyal Kuat Restu Lanjutkan untuk Gus Yahya

Johan menyadari usulannya ini akan membuka ruang diskusi dan perdebatan sejarah, namun ia berharap Gubernur Dedi Mulyadi dapat menjadi jembatan kebaikan untuk mewujudkan kepulangan pusaka ini, tentunya disambut dengan kesiapan Pemerintah Daerah Ciamis untuk menyediakan tempat peristirahatan yang aman dan layak, agar pusaka mulia ini tidak lagi berpindah-pindah dan terancam hilang.

Sementara itu, sejalan dengan semangat menghidupkan kembali nilai sejarah, mantan Ketua GP Ansor Ciamis, Maulana Sidik, turut mengusulkan momen kepulangan ini menjadi puncak perayaan Hari Jadi Ciamis ke-384.

Ia mengusulkan agar kegiatan adat yang selama ini dikenal sebagai Ngarak Galuh Pataka, dapat diubah dan dimuliakan menjadi arak-arakan Mahkota Binokasih, keliling mengunjungi 27 kecamatan se-Kabupaten Ciamis sebagai lambang persatuan seluruh warga di bawah naungan sejarah yang sama.

“Apakah kelak diperbolehkan Mahkota Binokasih diarak keliling pelosok Ciamis? Itu menjadi harapan besar kami, agar seluruh rakyat dapat bersuka cita menyambut pulangnya simbol kejayaan leluhur,” kata Sidik.

Mengembalikan Mahkota Binokasih ke Kawali, bukan sekadar memulangkan sebuah benda bersejarah, melainkan memulangkan kembali ingatan, jati diri, dan harga diri masyarakat Galuh yang telah lama menanti. Sebuah langkah bijak yang akan dicatat emas dalam lembaran sejarah kebudayaan Tatar Pasundan.*

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran