MAKASSAR – Beberapa nama calon Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang akan bertugas di Mukhtamar NU ke-35 Agustus mendatang mulai muncul dan mendapat dukungan kuat.
AHWA dalam proses Mukhtamar NU diisi oleh kyai-kyai sepuh NU yang memiliki maqom keulamaan, wirai, bijaksana dan memiliki basis pondok pesantren pencetak kader ulama di seluruh Indonesia.
Dalam kriteria Kyai Muhib Aman Aly, Syuriah PBNU sesuai kriteria tersebut dimiliki oleh kyai-kyai dari Ponpes Lirboyo, Ploso dan Sarang.
“Menurut saya Kyai Kafabih Mahrus dari Lirboyo dan Kyai Nurul Huda Jazuli Ploso layak didukung menjadi anggota AHWA untuk Mukhtamar NU yang akan datang,” kata Kyai asal Pasuruan itu di Makassar kemarin (20/5/2026).
Kyai Ubeidillah Sodaqoh Rais Syuriah PWNU Jateng lebih tegas lagi sampai meminta kepada PCNU se-Jateng untuk mengusulkan dan mengawal dua nama Kyai Lirboyo dan Ploso itu yakni Kyai Kafabih Mahrus dan Kyai Nurul Huda Djazuli masuk sebagai anggota AHWA.
“Kami meminta kepada PC s jateng minta agar ada dua tokoh Lirboyo Kyai Kafabih dan Ploso Kyai Dah dan selebihnya monggo silahkan,” ujar Kyai sederhana yang biasa dipanggil Mbah Bed itu.
Kyai Ubeidillah menjelaskan dalam pandangannya, selama ini banyak posisi Rais Syuriah NU di semua tingkatan diisi alumni Lirboyo dan Ploso. Bahkan di sekala nasional, alumni Lirboyo dan Ploso juga memiliki jejaring yang kuat.
Kyai Ali Cholil
Selain dua nama Kyai Kafabih Mahrus Lirboyo , Kyai Nurul Huda Jazuli Ploso, ada beberapa nama lain yang hampir tidak diperdebatkan lagi kelayakannya masuk di AHWA pada Mukhtamar NU ke 35 nanti. Mereka adalah KH Mustofa Bisri (Mantan Rais Aam PBNU), KH Ma’ruf Amin (Mantan Rais Aam) dan Kyai Said Aqil Siradj (Mantan Ketua Umum PBNU). Sementara satu nama yang sudah sejak lama masuk AHWA sebagai representasi Sumatera yakni KH Ali Marbun (Sumatera Utara) sepertinya juga tidak tergantikan sebagai AHWA.
Dalam silaturahmi PBNU di Kalimantan (19/5/2026) nama Rais Syuriah PWNU Kalimantan Timur, Kyai Ali Cholil disepakati oleh PCNU se Kalimantan masuk AHWA pada Mukhtamar NU Agustus ini.
Dalam catatan Kyai Muhib Aman Aly, AHWA menjadi sangat strategis dalam rangka menentukan masa depan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Menurut Kyai Muhib kalau kyai kyai dengan mawon ulama yang alim dan mampu menghadirkan keteduhan itu yang memilih Rais Aam PBNU dirinya merasa lega dan plong.
“Kalau Kyai Kyai itu yang memilih Rais Aam kok saya lega dan plong, tidak ada keraguan sama sekali,” tandasnya. ***



Tinggalkan Balasan