MAKKAH – Memasuki hari ke-20 operasional haji 1447 H/2026 M, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mulai mengalihkan fokus pada perlindungan berlapis bagi jemaah. Tidak hanya menyoroti ancaman visa non-haji (ilegal), pemerintah kini memperketat pengawasan kesehatan jemaah guna menghadapi suhu panas ekstrem menjelang puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Juru Bicara Kemenhaj RI, Ichsan Marsha, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap visa resmi bukan sekadar urusan administratif, melainkan jaminan keselamatan. Jemaah yang nekat menggunakan visa di luar jalur haji resmi dipastikan berada di luar sistem perlindungan pemerintah, yang sangat berisiko saat terjadi situasi darurat di Tanah Suci.
“Pemerintah tidak main-main. Satgas Pencegahan dan Penegakan Hukum Haji Nonprosedural yang melibatkan Bareskrim Polri dan Imigrasi telah bergerak. Ini adalah upaya kami memproteksi masyarakat agar tidak menjadi korban penipuan oknum yang memanfaatkan niat suci mereka,” ujar Ichsan di Makkah, Minggu (10/5/2026).
Selain ancaman hukum bagi travel nakal, Kemenhaj mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi cuaca. Dengan suhu Makkah yang kini menembus 42 derajat Celsius, jemaah diminta melakukan “penghematan energi” secara besar-besaran.
Fokus utama pemerintah saat ini mencakup edukasi stamina melalui larangan aktivitas fisik yang tidak mendesak di siang hari demi menjaga cadangan tenaga jemaah menuju fase puncak haji. Selain itu, aspek kesehatan menjadi prioritas dengan menyiagakan petugas medis selama 24 jam untuk mendampingi jemaah lansia, penyandang disabilitas, serta kelompok risiko tinggi agar terhindar dari heatstroke maupun kelelahan akut.
Upaya ini dibarengi dengan sosialisasi disiplin hidup sehat di setiap kloter, terutama imbauan untuk memperbanyak asupan air putih dan menjaga pola makan secara teratur.
Hingga saat ini, sebanyak 125.243 jemaah (323 kloter) telah berada di Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, mayoritas sudah berada di Makkah untuk melaksanakan umrah wajib.
Namun, di tengah kelancaran operasional, kabar duka menyelimuti kepulangan tiga jemaah ke Rahmatullah pada Sabtu (9/5), yakni Rodiyah Wayan (SOC 3), Kamariah Dul Tayib (SUB 8), dan Nursidah Sinrang Sijarra (UPG 5). Hingga hari ke-20, total jemaah yang wafat di Arab Saudi tercatat sebanyak 23 orang.
“Kami mendoakan para syuhada haji kita mendapatkan tempat terbaik. Kematian ini menjadi pengingat bagi jemaah lainnya untuk tidak meremehkan gangguan kesehatan sekecil apa pun dan segera melapor kepada petugas medis,” pungkas Ichsan.
Kemenhaj juga mengingatkan jemaah gelombang kedua yang mendarat di Jeddah agar disiplin mengenakan ihram sejak dari embarkasi guna kelancaran proses pengambilan miqat di atas pesawat.***



Tinggalkan Balasan