Kegelisahan Dunia Akademik di Tengah Bayang-bayang Militerisasi

Sebagai seorang dosen, saya selalu memandang mahasiswa bukan sekadar peserta didik di ruang kelas, tetapi generasi yang akan memikul masa depan bangsa. Di setiap perkuliahan, saya berusaha menanamkan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan, pemikiran kritis, dan keberanian bermimpi adalah modal utama untuk membangun negeri ini. Namun, akhir-akhir ini saya merasakan kegelisahan yang juga dirasakan oleh banyak mahasiswa saya.

Di tengah berbagai kebijakan negara di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, muncul fenomena yang patut kita renungkan bersama: semakin luasnya keterlibatan aparat keamanan dalam ranah sipil. Institusi seperti Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia mulai terlihat aktif dalam berbagai sektor yang sebenarnya merupakan wilayah pengelolaan sipil, seperti program pangan hingga pengelolaan dapur produksi. Tentu kita memahami bahwa ketahanan pangan adalah isu penting bagi negara. Namun pertanyaan yang muncul adalah: apakah peran tersebut tidak menggeser fungsi utama institusi pertahanan dan keamanan yang seharusnya fokus pada menjaga kedaulatan negara?

Baca Juga:  Hadir di Belajaraya 2026, Menteri Jumhur Hidayat Targetkan Persoalan Sampah Nasional Tuntas dalam Dua Tahun

Sebagai akademisi, saya juga merasakan kekhawatiran lain: semakin kecilnya ruang bagi suara ilmu pengetahuan dalam proses kebijakan publik. Kampus selama ini adalah tempat lahirnya gagasan, kritik, dan solusi berbasis riset. Ketika pandangan akademisi seolah tidak lagi dianggap penting, maka yang terancam bukan hanya dunia pendidikan, tetapi juga kualitas masa depan kebijakan negara itu sendiri.

Baca Juga:  Rencana Penutupan Prodi Pendidikan, PW PGM Jabar: Solusinya Benahi, Bukan Menutup

Yang paling membuat saya prihatin adalah dampaknya terhadap mahasiswa. Di ruang kelas saya melihat anak-anak muda yang cerdas, penuh ide, dan memiliki mimpi besar untuk berkontribusi bagi bangsa. Namun dalam situasi ketika ilmu pengetahuan terasa kurang dihargai dan ruang sipil semakin dipenuhi oleh kekuatan aparat, saya khawatir mereka mulai kehilangan keyakinan bahwa jalur intelektual adalah jalan yang dihargai oleh negara.

Kritik ini saya sampaikan bukan karena pesimisme, melainkan karena harapan yang sangat besar. Saya percaya bangsa ini akan kuat jika negara menghargai keseimbangan antara kekuatan institusi keamanan, supremasi sipil, dan peran penting dunia akademik. Mahasiswa harus tetap diyakinkan bahwa belajar, berpikir kritis, dan meneliti adalah jalan yang bermakna untuk membangun Indonesia.

Baca Juga:  Pendidikan sebagai Prioritas di Tengah Ketidakpastian Zaman

Sebagai dosen, saya tidak ingin mahasiswa saya berhenti bermimpi. Karena masa depan bangsa ini tidak hanya dibangun oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh kekuatan pikiran, ilmu pengetahuan, dan keberanian generasi muda untuk berpikir lebih jauh dari zamannya.

Oleh : Dzikri Abazis Subekti, S.H.,M.H – Akademisi Jawa Barat / Dosen STAI Al Badar Cipulus Purwakarta

DisclaimerArtikel ini bukan Karya Jurnalistik dari Gugah.co. Suara Pinggiran merupakan wadah bagi para akademisi, aktivis atau analis yang ingin menyuarakan gagasan, opini atau pemikirannya.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *