Pemkab Majalengka Kaji Ulang Luas Lahan Sawah untuk Seimbangkan Pangan dan Investasi

MAJALENGKA – Pemerintah Kabupaten Majalengka tengah melakukan pengkajian ulang terhadap luasan lahan pertanian di wilayahnya. Langkah ini diambil guna menjaga keseimbangan antara ketahanan pangan daerah dan kebutuhan ruang untuk investasi pembangunan.

Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Majalengka, Eman Suherman, di sela kegiatan penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) pada Senin (4/5/2026).

Bupati Eman menjelaskan bahwa saat ini luas lahan baku sawah di Majalengka tercatat sekitar 50.442 hektare. Namun, angka tersebut dinilai perlu disesuaikan kembali dengan kondisi riil di lapangan, terutama pada kawasan yang telah mengalami alih fungsi atau memiliki status lahan khusus.

Baca Juga:  Polrestabes Makassar Siagakan 1.200 Personel Amankan May Day 2026: Kedepankan Pelayanan dan Ketertiban Umum

“Kami sedang berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk ATR/BPN dan KPK, untuk menyesuaikan kembali data lahan sawah. Ada beberapa kawasan seperti milik pertahanan, aerocity, dan kehutanan yang perlu dikeluarkan dari perhitungan,” ujar Eman.

Dengan adanya penyesuaian ini, Pemkab Majalengka akan mengacu pada kebijakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang sebelumnya telah ditetapkan sekitar 37 ribu hektare. Luasan ini dianggap masih mencukupi untuk menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan ekonomi.

“Kalau kita dipatok di angka terlalu besar, investasi akan sulit masuk. Padahal kita juga butuh pertumbuhan ekonomi, jadi harus ada keseimbangan,” jelasnya.

Meski luasan lahan dikaji ulang, Bupati memastikan komitmen terhadap sektor pangan tetap menjadi prioritas utama. Sebagai catatan, Majalengka mampu mencatat surplus produksi beras mencapai 660 ribu ton pada tahun 2025 dengan kondisi lahan yang ada saat ini.

Baca Juga:  Apresiasi Langkah Tegas Wali Kota Bekasi Babat Titipan SPMB, PERGUNU Tekankan Pemulihan Marwah Pendidikan

Pemkab Majalengka terus menghitung kebutuhan ideal lahan sawah dengan mempertimbangkan produktivitas dan dukungan teknologi pertanian modern. Upaya ini diharapkan dapat mempertahankan posisi Majalengka sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Barat.

“Prinsipnya, kita ingin ketahanan pangan tetap kuat, tetapi investasi juga bisa berjalan. Ini yang sedang kita formulasikan,” pungkas Eman.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *