GARUT – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Garut menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Menolak Punah di Auditorium Dispusip Garut, Minggu (10/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi dan refleksi bersama bagi pelajar putri serta santri untuk membahas persoalan lingkungan, pendidikan, dan perempuan yang dinilai semakin relevan dengan kondisi saat ini.
Melalui pemutaran film dokumenter tersebut, PC IPPNU Garut menegaskan komitmennya dalam mengangkat tiga isu utama, yakni pendidikan, perempuan, dan kelestarian alam. Film Menolak Punah sendiri menyoroti dampak besar industri pakaian terhadap lingkungan hidup dan kehidupan sosial masyarakat, khususnya akibat tingginya pola konsumsi fast fashion.
Kegiatan yang dihadiri Rekanita PC IPPNU Kabupaten Garut, jajaran PAC IPPNU se-Kabupaten Garut, serta pelajar perempuan dari berbagai wilayah itu berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Selain menyaksikan film dokumenter, peserta juga mengikuti sesi diskusi bersama untuk memperdalam pemahaman terkait isu yang diangkat.
Dalam dokumenter tersebut dijelaskan bahwa limbah industri pakaian terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Ribuan ton pakaian bekas berakhir di tempat pembuangan akhir dan menghasilkan berbagai dampak lingkungan, mulai dari pencemaran mikroplastik hingga emisi gas metana yang memperburuk perubahan iklim.
Film itu juga mengulas tingginya kebutuhan sumber daya alam dalam proses produksi pakaian, khususnya kapas. Produksi kapas membutuhkan lahan luas dan konsumsi air yang sangat besar. Bahkan, untuk memproduksi satu kaos berbahan katun diperlukan sekitar 2.700 liter air. Kondisi tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan di tengah krisis iklim dan berkurangnya lahan produktif.
Selain itu, dokumenter Menolak Punah menyoroti budaya konsumtif masyarakat terhadap produk fashion yang tidak sebanding dengan durasi pemakaian. Banyak pakaian yang hanya digunakan dalam waktu singkat sebelum akhirnya dibuang dan menjadi limbah baru.
Ketua PC IPPNU Kabupaten Garut, Rahma Nurwahidah, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda nobar biasa, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran kritis pelajar perempuan terhadap persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitar mereka.
“Kami ingin pelajar perempuan tidak hanya aktif dalam ruang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan dan kemanusiaan. Film ini menjadi pengingat bahwa persoalan limbah pakaian bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga menyangkut masa depan bumi dan kehidupan masyarakat,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui seluler WhatsApp pada Senin (11/5/2026).
Rahma menilai isu pendidikan, perempuan, dan alam merupakan tiga hal yang saling berkaitan dan perlu mendapat perhatian bersama. Dari sisi pendidikan, kegiatan tersebut diharapkan mampu membuka wawasan pelajar mengenai dampak rantai industri fashion terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Sementara dari sisi perempuan, ia menyoroti banyaknya pekerja industri konveksi hingga pemulung tekstil yang terdampak langsung oleh sistem industri pakaian saat ini. Adapun dari sisi lingkungan, pencemaran akibat limbah pewarna tekstil dan serat sintetis dinilai terus mengancam kualitas sungai, tanah, dan udara.
Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan forum diskusi bersama peserta. Dalam sesi tersebut, para pelajar perempuan dan kader IPPNU saling bertukar pandangan terkait solusi sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk mengurangi dampak limbah fashion.
Melalui kegiatan tersebut, PC IPPNU Garut berharap lahir kesadaran baru di kalangan generasi muda, khususnya pelajar perempuan, agar lebih aktif mengambil peran dalam menjaga lingkungan sekaligus menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.***



Tinggalkan Balasan