Sinergi BPP dan Polsek Sukawening: Dongkrak Harga Jagung Petani Garut hingga Rp6.000 per Kilogram

GARUT – Kampung Cikendal, Desa Sudalarang, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu daerah lima besar penghasil komoditas palawija, khususnya jagung dan tembakau. Meski mengandalkan lahan tadah hujan, pola tanam petani setempat tergolong sangat produktif dengan frekuensi panen mencapai dua hingga tiga kali dalam setahun.

Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan intensif yang dilakukan oleh Petugas Balai Penyuluh Pertanian (BPP) bersama aparat Kepolisian Sektor (Polsek) Sukawening. Kolaborasi ini mengawal seluruh proses, mulai dari masa tanam, produksi, hingga distribusi hasil panen ke titik Bulog.

Baca Juga:  Dari Kebun Singkong Menjadi Cahaya Ilmu: Transformasi Sejarah Ponpes Darul Huda Al Hasanah Cihurip

Kapolsek Sukawening, AKP Budiman—atau yang akrab disapa Bang Ajay—menyampaikan bahwa pihaknya bekerja sama erat dengan BPP untuk menyukseskan program ketahanan pangan dan swasembada pangan nasional.

“Secara teknis, pihak BPP yang memiliki kompetensi menjelaskan keberhasilan pola tanam, terutama di lahan tadah hujan. Tugas kami adalah memastikan proses di lapangan berjalan kondusif,” ujar AKP Budiman di Garut, Sabtu (9/5/2026).

Ia mengungkapkan, sebelumnya para petani kerap menemui kendala saat hendak menjual hasil produksi ke Bulog. “Awalnya mungkin hanya masalah komunikasi. Petani merasa aturan yang diterapkan Bulog cukup rumit karena ketidaktahuan. Setelah kami fasilitasi, alhamdulillah proses penjualan hingga pengiriman kini berjalan lancar,” tambahnya.

Baca Juga:  KSARBUMUSI Garut Serukan Keadilan Buruh pada May Day 2026, Tegaskan Perlawanan terhadap Eksploitasi

Dampak nyata dari kehadiran BPP dan kepolisian juga dirasakan pada aspek kesejahteraan ekonomi. Koordinator BPP Wilayah Kecamatan Sukawening, Santi, menjelaskan bahwa pihaknya turut memfasilitasi negosiasi harga jual agar petani tidak lagi bergantung pada tengkulak.

“Selama ini petani menjual jagung ke tengkulak dengan harga rendah, yakni Rp4.000 per kilogram. Namun, melalui fasilitasi dengan Bulog yang bekerja sama dengan kepolisian, kini harga jual jagung petani naik menjadi Rp6.000 per kilogram,” papar Santi.

Baca Juga:  Dukung Swasembada Pangan, BRIN Panen Benih Padi Varietas Unggul di Pusakajaya Subang

Selain aspek ekonomi dan distribusi, BPP tetap fokus pada pendampingan teknis di lapangan, terutama dalam menghadapi ancaman serangan hama. Petugas secara rutin turun langsung ke lahan pertanian untuk memberikan solusi bagi petani agar produktivitas tetap terjaga.

“Kami juga melakukan pendampingan dalam mengatasi hama penyakit yang menyerang lahan pertanian guna memastikan kualitas hasil panen tetap sesuai standar,” tutup Santi.

Sinergi antara penyuluh pertanian dan aparat penegak hukum ini diharapkan menjadi role model bagi daerah lain dalam upaya memperkuat kedaulatan pangan dari tingkat desa.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *