BEKASI — Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Bantargebang menggelar kegiatan Lailatul Ijtima’ di Mushola Nurul Fajri, Kelurahan Bantargebang, Kecamatan Bantargebang, Senin malam (18/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi agenda rutin bulanan PRNU Bantargebang yang dilaksanakan secara bergilir di masjid, mushola, maupun majelis taklim yang telah menjadi anak ranting NU maupun yang belum tergabung secara resmi.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Rois Syuriah MWC NU Kecamatan Bantargebang KH. Asmat Mansyur, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Bantargebang Ust. Cecep Supriyadi, Anggota DPRD Kota Bekasi Fraksi PKB Wildan Fathurrahman, Lurah Bantargebang Sowi Hidayatullah, jajaran Ansor-Banser, serta warga Nahdliyin dan jamaah Mushola Nurul Fajri.
Ketua PRNU Kelurahan Bantargebang, Ust. Abdul Rohim, mengatakan kegiatan Lailatul Ijtima’ tidak hanya menjadi sarana silaturahmi, tetapi juga bagian dari upaya konsolidasi jamiyah dan jamaah Nahdlatul Ulama di tingkat ranting.
“Lailatul Ijtima’ ini rutin dilaksanakan setiap bulan dengan tempat yang berpindah-pindah. Tujuannya untuk memperkuat silaturahmi serta konsolidasi jamiyah dan jamaah NU di Kelurahan Bantargebang agar terus selaras antara fikrah, harakah, dan amaliyah,” ujar Abdul Rohim.
Sementara itu, ceramah agama disampaikan Wakil Rois Syuriah PCNU Kota Bekasi, KH. Dr. Taufik, M.A. Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya penguatan ke-NU-an di tingkat ranting dan anak ranting karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Yang menjadi ujung tombak pergerakan Nahdlatul Ulama itu justru ranting dan anak ranting, karena langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kalau warga NU mulai malas bergerak, maka ruang-ruang masyarakat bisa diambil kelompok lain yang aktif melakukan pendekatan,” ujar KH. Dr. Taufik.
Ia juga menegaskan bahwa warga Nahdliyin tidak perlu minder terhadap amaliyah yang dijalankan karena memiliki dasar keilmuan dan sanad yang jelas.
“Kita jangan sampai tidak percaya diri dengan amaliyah NU. Apa yang dijalankan warga Nahdliyin memiliki sanad dan dasar keilmuan yang jelas,” katanya.
KH. Dr. Taufik turut membagikan pengalamannya selama menempuh pendidikan di Timur Tengah dan saat berinteraksi langsung dengan kelompok-kelompok radikal yang dinilai aktif melakukan pendekatan di lingkungan masyarakat, termasuk di masjid dan mushola. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama agar warga NU terus aktif menjaga tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah masyarakat.***



Tinggalkan Balasan