PURWAKARTA – Aroma perpecahan di Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein dan Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hapidin (ZeinJo) tubuh Pemerintah Kabupaten Purwakarta mendadak menyengat hidung publik dan memicu kegaduhan politik yang meluas.
Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hafidin, melempar komentar pedas di media sosial. Tulisan sang orang nomor dua tersebut langsung memantik kembali api konflik yang selama ini berusaha mereka tutupi.
Klarifikasi damai masa lalu terbukti hanya menjadi pemanis bibir demi meredam gejolak di hadapan kamera semata. Fakta di lapangan justru mempertontonkan jurang pemisah yang kian lebar antara kedua pemimpin daerah tersebut saat ini.
Memasuki satu tahun masa jabatan, masyarakat hampir tidak pernah melihat Om Zein dan Abang Ijo duduk berdampingan. Kursi Wakil Bupati juga konsisten kosong dalam setiap rapat strategis bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Abang Ijo bahkan frontal menyerang kebijakan Bupati Om Zein dalam berbagai polemik besar yang melanda daerah. Ia vokal menyoroti pungli Cirata, sengkarut PIP Sukasari, hingga kebijakan larangan hajatan yang mencekik ekonomi warga.
Perbedaan tajam ini memberi sinyal kuat bahwa mereka sedang mempersiapkan poros politik baru menjelang Pilkada 2029. Kondisi genting ini memancing reaksi keras dari kalangan mahasiswa yang prihatin melihat nasib masa depan daerah.
Sekretaris Umum PB Permata, M Depanca Ramdani, langsung melontarkan kritik tajam untuk meredam syahwat politik elite.
“Melihat situasi yang terjadi, jika hal itu merupakan manuver politik, seharusnya tidak dilakukan ketika masa pemerintahan baru berjalan satu tahun. Sebab, hal tersebut justru dapat mengganggu jalannya pembangunan di Purwakarta. Yang menjadi korban nantinya adalah masyarakat dan birokrat, karena mereka akan bingung harus berpihak kepada siapa,” ujar Depanca, Jumat (15/5/2026).
Depanca mendesak kedua tokoh sentral Purwakarta tersebut segera membuang ego sektoral demi menyelamatkan agenda pembangunan daerah.
“Kedua pemimpin harus kembali membangun komunikasi dan memperkuat sinergitas demi kepentingan masyarakat Purwakarta,” tambahnya.
Mahasiswa khawatir perseteruan yang berlarut-larut ini akan menjelma menjadi bola salju politik yang siap meledak kapan saja.
Permata mengajak seluruh elemen masyarakat sipil bergerak bersama menekan kedua pemimpin agar segera memulihkan hubungan kerja mereka.
Rakyat Purwakarta kini menagih janji kampanye dan menolak menjadi penonton dalam panggung sandiwara perebutan kekuasaan ini.***



Tinggalkan Balasan