BOGOR – Kota Bogor memiliki sentra UMKM keripik yang patut diperhitungkan, tepatnya di Kelurahan Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah. Wilayah ini dikenal sebagai penghasil keripik singkong dan bawang berkualitas yang merupakan hasil pembinaan kewilayahan terhadap warga setempat.
Kualitas produk tersebut telah teruji secara kompetitif dengan menyabet Juara Pertama dalam ajang perlombaan UMKM yang diselenggarakan di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Bogor. Lurah Ciwaringin, Ade Suryana, menegaskan bahwa potensi ini akan terus dikembangkan untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan.
“Ya, kita punya produk UMKM unggulan, yaitu keripik dan akan kita kembangkan terus guna meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” ujar Ade Suryana pada Senin, 27 April 2026 dikutip dari RMOL Jabar.
Selain penguatan sektor UMKM, pemerintah kelurahan juga melaporkan kemajuan pembangunan infrastruktur dan penyaluran jaminan sosial. Hingga akhir April ini, telah terealisasi pengaspalan jalan setapak sepanjang 94 meter di lingkungan RW 10 untuk meningkatkan aksesibilitas warga.
Di sisi lain, sebanyak 597 keluarga penerima manfaat (KPM) di Ciwaringin telah menerima penyaluran bantuan pangan dari Kementerian Sosial. Langkah ini diambil guna memastikan ketahanan pangan masyarakat di tingkat kelurahan tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi saat ini.
Ade Suryana juga menaruh perhatian besar pada lahan-lahan tidak produktif yang tersebar di sepanjang bantaran Sungai Cipakancilan. Pihak kelurahan berencana mendorong setiap pengurus RW untuk melakukan optimalisasi lahan tersebut melalui kegiatan perikanan, peternakan, maupun pertanian perkotaan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT).
Ade menekankan bahwa rencana tersebut harus tetap menempuh jalur legalitas formal dengan mendapatkan izin dari pihak Sumber Daya Air (SDA). “Jadi nantinya kami bersama para pengurus RT dan RW yang ada di Ciwaringin ini akan mendorong agar lahan-lahan yang tidak produktif itu untuk kita kelola menjadi perikanan, peternakan, atau pertanian,” kata Ade.
Terkait tantangan geografis, Ciwaringin diidentifikasi sebagai salah satu titik rawan bencana di Kecamatan Bogor Tengah, terutama saat intensitas hujan tinggi. Risiko pohon tumbang karena faktor usia serta ancaman tanah longsor dan banjir lintasan di bantaran sungai menjadi perhatian utama. Sebagai langkah preventif, telah dibentuk Kelurahan Tangguh Bencana (Katana) Ciwaringin untuk memperkuat sistem komunikasi dan koordinasi penanganan darurat.
“Di wilayah kita terdapat pohon-pohon yang rindang, dan ada juga yang sudah tua, sehingga jika hujan turun dengan disertai angin kencang maka pohon-pohon mudah untuk tumbang. Kemudian ada pula sebagian wilayah berada di bantaran sungai, sehingga rawan longsor, bahkan ada tebingan di bantaran sungai itu tanahnya longsor,” jelas Ade.
Mengenai perbaikan infrastruktur vital seperti tembok penahan tanah (TPT) di aliran sungai, Ade mengakui adanya kendala administratif karena kewenangan tersebut berada di bawah Pemerintah Provinsi atau BBWS Ciliwung Cisadane. Meskipun demikian, koordinasi terus dilakukan mengingat banyak bangunan warga yang berada di area yang tidak sesuai peruntukan di bantaran sungai.
Penataan estetika kota juga menjadi fokus melalui langkah persuasif terhadap 94 lapak pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalan MA Salmun hingga Jalan Merdeka. “Langkah ini diambil untuk memastikan keteraturan jalan dan estetika wilayah tanpa mematikan ekonomi warga,” pungkas Ade menutup keterangannya.***



Tinggalkan Balasan