SUKABUMI – Singkong, atau yang dikenal sebagai ubi kayu, tetap menjadi komoditas andalan bagi masyarakat di wilayah Pajampangan, Kabupaten Sukabumi. Sebagai sumber karbohidrat alternatif dengan daya adaptasi tinggi di lahan kering, singkong menjadi pilihan utama petani sebagai tanaman palawija setelah masa tanam padi usai.
Selain kemudahan budidayanya, singkong memiliki nilai ekonomi strategis karena fleksibilitas pengolahannya, mulai dari camilan tradisional seperti keripik hingga produk industri berupa gaplek dan tepung tapioka.
Petani di wilayah Pajampangan umumnya membudidayakan dua jenis varietas utama, yaitu singkong manggu dan singkong gebang. Singkong manggu memiliki tekstur yang cocok untuk konsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai makanan ringan. Sementara itu, singkong gebang menjadi primadona industri karena kandungan patinya yang tinggi, sehingga sangat diminati sebagai bahan baku pembuatan tepung kanji atau tapioka.
Barto, seorang petani singkong asal Lengkong, mengungkapkan adanya kenaikan harga jual singkong jenis gebang dalam sebulan terakhir. “Awalnya harga beli dari petani hanya sekitar Rp500 per kilogram, kini naik menjadi Rp800 per kilogram,” jelasnya pada Senin (4/5/2026).
Meski merangkak naik, Barto menyebut harga tersebut masih jauh dari masa keemasan sekitar 4-5 tahun lalu yang sempat menyentuh angka Rp1.800 hingga Rp2.000 per kilogram. Menurutnya, harga saat ini masih tergolong minim jika dikalkulasikan dengan biaya produksi serta biaya transportasi yang terus meningkat.
Di sisi lain, para pelaku usaha pengolahan di Pabuaran dan Waluran mencoba menjaga ekosistem pasar agar hasil panen petani tetap terserap. Irwan, seorang pengolah gaplek di Pabuaran, menyebutkan harga singkong manggu saat ini berada di kisaran Rp800 hingga Rp1.000 per kilogram.
Sementara itu, Andi, warga Waluran, memaparkan adanya perbedaan harga singkong berdasarkan lokasi transaksi, di mana harga di lokasi pabrik berkisar di angka Rp700 per kilogram. Namun, jika transaksi dilakukan langsung di kebun atau dengan sistem tebasan, harga tersebut dapat turun hingga mencapai Rp400 per kilogram.
Selisih harga tersebut mendorong para pelaku usaha untuk mengolah singkong menjadi gaplek. Strategi ini diambil untuk meningkatkan nilai jual serta memberikan nilai tambah pada komoditas singkong di tengah harga yang fluktuatif. “Sekarang harga manggu dan gebang tidak jauh berbeda, jadi kami olah agar nilai jualnya lebih baik,” pungkas Andi.***



Tinggalkan Balasan