GUGAH — Gerakan Pemuda (GP) Ansor menempatkan isu kedaulatan digital dan keamanan siber sebagai bagian dari agenda strategis organisasi. Komitmen itu disampaikan Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharuddin saat membuka National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan organisasi masyarakat untuk membahas penguatan ekosistem keamanan siber nasional. Sejumlah pejabat hadir, di antaranya Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Komjen Pol. A. Rachmad Wibowo, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif Muhammad Neil El Himam, serta perwakilan dari Kementerian Pertahanan, PERURI, APTIKNAS, Naganaya, dan PBNU.
Dalam pidatonya, Addin mengatakan transformasi digital tidak cukup dipahami sebagai upaya mengikuti perkembangan teknologi, melainkan harus diarahkan untuk memperkuat kemandirian bangsa.
Menurutnya, data telah menjadi aset strategis yang harus dilindungi, sementara infrastruktur digital nasional perlu dibangun dengan kemampuan teknologi yang semakin mandiri.
“Kita tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi pencipta dan pengembang teknologi masa depan,” kata Addin.
Ia juga menilai keamanan siber bukan semata tanggung jawab pemerintah maupun industri teknologi. Kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital, menurutnya, menjadi fondasi penting untuk menjaga ruang digital yang sehat.
Dalam konteks itu, GP Ansor berencana memanfaatkan jaringan organisasinya yang tersebar di berbagai daerah untuk memperluas literasi digital, edukasi keamanan siber, serta pemberdayaan masyarakat dan pelaku UMKM melalui ekosistem digital. Upaya tersebut akan diperkuat melalui Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) dan Badan Siber Ansor yang selama ini bergerak dalam pengembangan ekonomi dan edukasi keamanan digital.
Selain penguatan literasi, GP Ansor juga mulai menaruh perhatian pada pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi baru. Organisasi ini baru membentuk Pusat Studi AI Ansor yang difokuskan pada peningkatan kompetensi kader di bidang kecerdasan buatan sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Addin mengatakan organisasi yang dipimpinnya terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, maupun komunitas dalam mengembangkan talenta digital, memperkuat keamanan siber, serta mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.
“Menjaga Indonesia hari ini berarti menjaga kedaulatan data, mengamankan ruang digital, dan menyiapkan generasi yang mampu menguasai teknologi masa depan,” ujarnya.
NCC 2026 menjadi penyelenggaraan kedua yang digelar melalui kolaborasi GP Ansor dan Naganaya. Addin berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan kerja sama konkret untuk memperkuat ekosistem keamanan siber nasional.***





Tinggalkan Balasan