GUGAH — Ketua terpilih Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Kabupaten Garut, Idham Kholid, mulai melakukan konsolidasi organisasi setelah terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Cabang (Konfercab) XV. Langkah awal tersebut dilakukan melalui silaturahmi dengan jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut untuk meminta doa, restu, sekaligus arahan bagi perjalanan organisasi Ansor periode 2026–2030.
Sehari setelah terpilih, Idham menemui Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Garut, KH. Rd. Amin Muhyiddin, di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut pada Senin. Keesokan harinya, Selasa, ia melanjutkan silaturahmi dengan Ketua Tanfidziyah PCNU Garut, KH. Atjeng Abdul Wahid, di Pesantren Salaman.
“Ya, Alhamdulillah, pasca terpilih saya berkesempatan untuk bertemu dan meminta doa pengurus NU Garut. Senin bersilaturahmi dengan KH. Rd. Amin Muhyiddin, Selasanya ke Pesantren Salaman, ke KH. Atjeng Wahid,” kata Idham kepada wartawan, Rabu (28/10/2026).
Menurut Idham, pertemuan tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial setelah terpilih sebagai ketua. Ia ingin memastikan arah gerak Ansor Garut ke depan selaras dengan kebijakan organisasi induknya, sekaligus memperoleh pandangan para pengurus NU sebagai bekal menyusun program dan kepengurusan baru.

Ansor Diminta Menerjemahkan Kebijakan NU
Idham menegaskan bahwa Gerakan Pemuda Ansor merupakan badan otonom (Banom) Nahdlatul Ulama yang menaungi kader muda. Karena itu, penyelenggaraan program dan gerak organisasi Ansor di tingkat cabang perlu berjalan seiring dengan kebijakan besar PCNU Kabupaten Garut.
“Ansor itu kan Banom NU. Kebijakan besarnya ada di PCNU. Kita hanya mengoperasionalkan saja apa yang menjadi kehendak PCNU untuk Ansor,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meskipun Ansor memiliki Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) sendiri, pelaksanaan roda organisasi tetap harus memperhatikan AD/ART Nahdlatul Ulama. Menurutnya, hubungan Ansor dan NU tidak cukup hanya dibangun melalui sinergi kegiatan, tetapi juga melalui penerjemahan kebijakan organisasi induk ke dalam program yang relevan bagi kalangan pemuda.
“Banom itu memang punya PD/PRT. Tapi kita juga harus membaca AD/ART NU karena patokannya di situ. Makanya kita harus bukan hanya sinergi, tetapi lebih dari itu, menerjemahkan kebijakan NU Garut dalam konteks pemuda NU Garut yang dilaksanakan oleh Ansor,” ungkap Idham.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjadi pijakan dalam merumuskan arah organisasi selama empat tahun mendatang. Dengan demikian, program Ansor Garut diharapkan tidak berjalan sendiri, melainkan berkontribusi terhadap agenda penguatan jam’iyah Nahdlatul Ulama di Kabupaten Garut.
Silaturahmi dengan Pengurus dan Senior Ansor
Selain bertemu Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Garut, Idham juga telah menjalin komunikasi dengan sejumlah pengurus lainnya, termasuk bendahara dan sekretaris PCNU. Ia menyebut pertemuan tersebut menjadi ruang untuk bertukar pandangan mengenai kondisi organisasi saat ini serta tantangan yang perlu dijawab pada masa mendatang.
“Kita ngobrol banyak hal. Tentang Ansor hari ini, soal dinamika, soal masa depan. Pokoknya banyak hal. Alhamdulillah, saya juga sudah bertemu dan berdiskusi dengan Kang Deni Ranggajaya, Wakil Ketua I PCNU,” tuturnya.
Konsolidasi tersebut, kata Idham, tidak akan berhenti pada jajaran pengurus PCNU. Ia berencana bersilaturahmi dengan para senior Ansor Garut dari berbagai periode kepemimpinan untuk mendapatkan masukan, pengalaman, serta pandangan mengenai perjalanan organisasi.
Ia juga berencana mengunjungi keluarga para mantan Ketua Ansor Garut yang telah wafat. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu, kegiatan itu direncanakan menjadi bagian dari agenda ziarah untuk mengenang jasa dan pengabdian mereka.
“Saya juga sudah berencana ingin sowan ke keluarga ketua Ansor yang sudah wafat. Sekalian kita agendakan ziarah, karena ada beberapa ketua Ansor terdahulu yang sudah wafat,” kata Idham.
Baginya, pengalaman para senior merupakan bagian penting dari perjalanan organisasi yang perlu dipelajari oleh kepengurusan baru. Tradisi silaturahmi tersebut diharapkan dapat memperkuat kesinambungan kepemimpinan sekaligus menjaga hubungan antargenerasi kader Ansor Garut.
Kepengurusan Baru Ditargetkan Rampung Dua Pekan
Di tengah agenda konsolidasi, Idham menyampaikan bahwa proses penyusunan kepengurusan PC GP Ansor Kabupaten Garut periode 2026–2030 telah memasuki tahap finalisasi. Ia mengaku sudah berkomunikasi dengan seluruh anggota tim formatur yang bertugas menyusun komposisi kepengurusan.
“Untuk penyusunan pengurus, saya sudah berkomunikasi dengan seluruh formatur. Dari PAC empat, wakil PW satu, saya dan ketua demisioner,” ujarnya.
Komposisi formatur tersebut melibatkan perwakilan Pimpinan Anak Cabang (PAC), unsur Pimpinan Wilayah (PW), ketua terpilih, serta ketua demisioner. Komunikasi di antara anggota formatur dilakukan untuk menyelesaikan susunan kepengurusan sebelum ditetapkan sesuai mekanisme organisasi.
Idham menyebut PCNU Garut memberikan dukungan dan kepercayaan kepada tim formatur dalam proses tersebut. Namun, ada pesan penting yang disampaikan, yakni agar penyusunan kepengurusan tetap mengedepankan upaya merangkul seluruh kader.
“PCNU berpesan agar merangkul semua kader, dan saya sangat sepakat,” katanya.
Idham menargetkan penyusunan kepengurusan baru dapat dirampungkan dalam waktu sekitar dua pekan ke depan. Ia berharap proses finalisasi berlangsung dengan baik sehingga kepengurusan Ansor Garut dapat segera bekerja dan menyiapkan program organisasi untuk periode 2026–2030.
Langkah awal Idham melalui silaturahmi, penyerapan pandangan senior, dan komunikasi dengan tim formatur menunjukkan bahwa konsolidasi menjadi salah satu agenda penting setelah Konfercab XV. Penyelarasan kebijakan dengan PCNU serta upaya merangkul kader diharapkan menjadi pijakan bagi kepengurusan baru dalam menjalankan amanah organisasi.***





Tinggalkan Balasan