SETIAP 28 Oktober kita pandai menghafal Sumpah Pemuda. Upacara digelar, spanduk dipasang, pidato dibacakan. Semua orang mendadak percaya bahwa masa depan bangsa ada di tangan pemuda. Ironisnya, sehari setelah itu, tangan yang katanya memegang masa depan justru kembali disuruh bertepuk tangan.
Pemuda hari ini terlalu sering diperlakukan sebagai energi, bukan sebagai otak. Dicari ketika butuh massa, dipanggil ketika butuh sorak-sorai, dipuji ketika berani turun ke jalan. Namun ketika kursi-kursi pengambilan keputusan mulai terisi, pemuda kembali diminta bersabar. Katanya, “belum waktunya.”
Padahal sejarah bangsa ini tidak pernah lahir dari kesabaran generasi muda. Sejarah lahir dari keberanian mereka merebut ruang yang tidak pernah disediakan.
Tetapi menyalahkan generasi tua saja terlalu mudah. Ada pertanyaan yang lebih tidak nyaman: jangan-jangan pemuda memang menikmati menjadi alat. Mudah diprovokasi, mudah dibeli, mudah dipecah, dan paling gemar saling menjatuhkan. Hari ini meneriakkan perubahan, besok berebut posisi. Hari ini bicara idealisme, lusa sibuk mencari kedekatan dengan kekuasaan.
Di situlah saya teringat ungkapan Sunda yang sederhana tetapi menampar: “ditumbalkeun atawa numbalkeun sorangan?” Jangan-jangan tidak ada yang benar-benar mengorbankan kita. Jangan-jangan kita sendiri yang dengan sukarela menyerahkan idealisme demi kenyamanan sesaat.
Yang paling berbahaya bagi pemuda bukanlah tidak diberi panggung. Yang paling berbahaya adalah ketika pemuda merasa cukup menjadi figuran. Merasa bangga berfoto dengan penguasa, tetapi takut berbeda pendapat. Merasa hebat karena dekat dengan kekuasaan, padahal tidak pernah berani mengoreksi kekuasaan.
Sumpah Pemuda seharusnya bukan sekadar nostalgia tentang tahun 1928. Yang lebih penting adalah bertanya: apakah pemuda hari ini masih memiliki keberanian yang sama? Ataukah kita hanya mewarisi teks sumpahnya, tetapi kehilangan keberanian orang-orang yang mengucapkannya?
Menurut saya, ukuran keberhasilan Hari Sumpah Pemuda bukanlah banyaknya seminar, lomba, atau seremoni. Ukurannya jauh lebih sederhana: apakah ada satu keputusan penting yang lahir dari gagasan pemuda? Apakah ada satu kebijakan yang berubah karena suara mereka? Atau jangan-jangan pemuda hanya dijadikan latar belakang foto untuk menunjukkan bahwa pemerintah atau organisasi “peduli generasi muda”.
Pemuda tidak membutuhkan lebih banyak panggung seremonial. Pemuda membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat, ruang untuk gagal, ruang untuk memimpin, bahkan ruang untuk membuat kesalahan. Sebab dari situlah lahir pengalaman, bukan dari tepuk tangan di acara peringatan.
Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi pemuda bukan karena terus-menerus ditumbalkeun oleh kepentingan politik, organisasi, atau kekuasaan. Ancaman yang lebih besar adalah ketika pemuda memilih numbalkeun sorangan—mengorbankan idealisme, keberanian, dan masa depannya sendiri demi kenyamanan, popularitas, atau secuil akses terhadap kekuasaan.
Kalau itu yang terjadi, maka yang mati bukan hanya semangat Sumpah Pemuda. Yang mati adalah keberanian menjadi pemuda.
Oleh: Dedi Supriadi Cakrabuana






Tinggalkan Balasan