Farhan Minta Pembangunan Halte BRT di Pasar Baru Dipercepat

|

GUGAH – Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), kawasan Pasar Baru, Kota Bandung, menuai keluhan dari pedagang dan pengguna jalan.

Proyek yang dikerjakan di bagian tengah jalan itu dinilai mengganggu aktivitas usaha sekaligus memperparah kemacetan di kawasan yang setiap hari ramai dilalui kendaraan.

Dua titik pembangunan halte terlihat berdekatan di ruas jalan tersebut. Area pekerjaan ditutup menggunakan seng proyek dan water barrier. Kendaraan masih dapat melintas melalui sisi kiri dan kanan, tetapi penyempitan lajur membuat arus lalu lintas tersendat.

Pantauan di lokasi pada Jumat (23/10/2026) siang menunjukkan antrean kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor, mengular di depan Pasar Baru.

Dampak pembangunan juga dirasakan pedagang yang beraktivitas di sekitar lokasi. Nurhayati (45), pedagang batagor, mengaku harus memindahkan gerobaknya ke tempat yang lebih jauh karena akses menuju lokasi berjualan tertutup proyek.

Perubahan kondisi tersebut membuat aktivitas berdagang pada pagi hari menjadi lebih sulit. Ia juga menilai pembangunan halte berpotensi memperparah kemacetan di ruas jalan tersebut.

Baca Juga:  ​1,5 Tahun Kepemimpinan Farhan-Erwin Dinilai Gagal, GMNI Bandung Menggelar Aksi Unjuk Rasa Tuntut Evaluasi Total Tata Kelola Kota

“Jalanan ini tiap harinya juga macet banget, ditambah sekarang ada kayak ginian, atuh nambah parah macetnya,” keluh Nurhayati, Jumat (23/10/2026).

Selain kepadatan kendaraan, minimnya informasi mengenai proyek turut menjadi perhatian. Nurhayati mengaku baru mengetahui adanya pembangunan setelah melihat area di sekitar tempat berjualannya mulai ditutup.

Kondisi tersebut menunjukkan pembangunan infrastruktur tidak hanya berdampak pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga akses masyarakat yang menjalankan aktivitas ekonomi di sekitar proyek.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan Pemerintah Kota Bandung terus memantau pelaksanaan pembangunan halte BRT dan berupaya menekan dampaknya terhadap masyarakat.

“Saya sudah minta dan rapat hampir setiap hari memastikan bahwa dampak pembangunannya tidak memberikan dampak kepada masyarakat,” ujar Farhan, Jumat (23/10/2026).

Farhan meminta masyarakat memberi ruang selama pembangunan transportasi publik berlangsung. Namun, ia menegaskan pengorbanan masyarakat tidak boleh berlangsung tanpa batas.

Baca Juga:  Jelang Pilkades Serentak, Komisi A DPRD Ciamis Belajar ke Indramayu

“Untuk perbaikan transportasi umum memang harus bersama-sama sedikit berkorban. Namun bukan berarti kita berkorbannya habis-habisan. Bagaimanapun juga keluhan masyarakat sangat kita perhatikan,” katanya.

Farhan juga meminta pengerjaan halte dipercepat agar dampak kemacetan tidak berlangsung terlalu lama. Menurutnya, penutupan jalan secara menyeluruh atau pengalihan arus justru berpotensi menimbulkan kepadatan yang lebih besar.

“Solusinya adalah kita harus segera percepat proyeknya. Karena nggak ada pilihan lain,” ujar Farhan.

Ia menambahkan, pekerjaan lain yang berpotensi mengganggu lalu lintas, seperti perbaikan jalan dan galian kabel, perlu dikurangi atau disesuaikan waktunya. Sejumlah pekerjaan, kata Farhan, dapat dilakukan pada malam hari untuk meminimalkan gangguan terhadap mobilitas warga.

Pemkot Bandung tetap mendukung pembangunan BRT Bandung Raya yang merupakan program pemerintah pusat. Namun, Farhan mengingatkan agar pelaksanaan proyek tidak menghambat mobilitas masyarakat secara berlebihan.

“Saya tetap akan mendukung BRT asal melakukan pembangunannya dengan cara yang tidak kemudian membuat kita seakan-akan tidak bisa bergerak ke mana-mana,” ujarnya.

Baca Juga:  Anggota DPRD Kota Bogor Dilaporkan Dugaan Penipuan Rp1 Miliar, Kasus Masuk Penyidikan

Menindaklanjuti keluhan warga dan pedagang, Farhan menyatakan akan kembali menegur pelaksana proyek agar meningkatkan sosialisasi. Informasi tersebut dinilai penting, terutama bagi masyarakat dan pelaku usaha yang terdampak langsung.

“Saya akan menegur lagi agar 10 titik halte yang di tengah itu segera disosialisasikan dengan lebih masif. Mumpung baru dua, masih ada delapan lagi dan delapannya kita kejar untuk sosialisasi,” kata Farhan.

Penataan area kerja, pengaturan lalu lintas, serta penyampaian informasi mengenai tahapan dan perkiraan penyelesaian proyek menjadi hal penting selama pembangunan berlangsung. Pemerintah dan pelaksana proyek perlu memastikan pembatas area kerja tidak menimbulkan hambatan yang lebih besar bagi pengguna jalan maupun pedagang.

Masyarakat yang melintasi kawasan Pasar Baru diimbau berhati-hati, memperhatikan rambu di sekitar proyek, dan menyesuaikan perjalanan dengan kondisi lalu lintas.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran