GUGAH – Hari Santri Nasional seharusnya menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif tentang jejak ulama dan santri dalam perjalanan bangsa. Di balik khidmatnya upacara, ada harapan agar peringatan itu tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah, penghormatan, dan kebersamaan.
Harapan itulah yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda PC GP Ansor Kota Bandung Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Jejaring Pesantren, Rd. Muhammad Faikar, S.H., yang akrab disapa Den Ama, menyusul pelaksanaan Upacara Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Plaza Balai Kota Bandung, Kamis (22/10/2026).
Den Ama mengaku menyayangkan PC GP Ansor Kota Bandung tidak dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, persoalan ini bukan sekadar tentang hadir atau tidaknya sebuah organisasi dalam acara pemerintah, melainkan menyangkut penghormatan terhadap sejarah perjuangan ulama dan santri yang menjadi ruh lahirnya Hari Santri Nasional.
“Hari Santri bukan hanya agenda tahunan. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan negeri ini juga lahir dari doa, perjuangan, dan pengorbanan para ulama serta santri. Karena itu, semangatnya perlu tercermin dalam cara kita merangkul seluruh elemen yang memiliki keterkaitan sejarah dengan momentum tersebut,” ujarnya.
Den Ama mengingatkan, GP Ansor memiliki akar sejarah yang panjang. Organisasi ini berawal dari Syubbanul Wathan yang didirikan KH. Abdul Wahab Hasbullah pada 1924, kemudian berkembang menjadi GP Ansor di bawah naungan Nahdlatul Ulama pada 24 April 1934. Sementara Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari pada 1945, sebuah tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“JAS Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah, dan JAS Hijau, jangan hilangkan jasa ulama. Dua pesan itu semestinya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sejarah bangsa ini tidak bisa dipisahkan dari peran ulama dan santri. Kami berharap Hari Santri benar-benar menjadi momentum penghormatan terhadap sejarah, bukan sekadar kegiatan seremonial,” kata Den Ama.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa GP Ansor tidak ingin menjadikan persoalan tersebut sebagai polemik berkepanjangan. Menurutnya, dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan bisa saja terdapat kendala teknis maupun keterbatasan koordinasi. Namun, kondisi itu tetap perlu menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan Hari Santri pada masa mendatang lebih inklusif dan melibatkan unsur-unsur yang memiliki keterkaitan historis dengan peringatan tersebut.
Den Ama juga mengungkapkan bahwa sejak kepengurusan PC GP Ansor Kota Bandung dilantik pada 2025, pihaknya telah beberapa kali mengajukan permohonan silaturahmi kepada Wali Kota Bandung. Surat serupa kembali dikirim pada 2026. Namun, hingga kini, berdasarkan informasi dari sekretariat organisasi, belum ada tanggapan yang diterima.
Ia mengaku memahami padatnya agenda kepala daerah. Namun, menurutnya, komunikasi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan tetap penting dibangun sebagai bagian dari kemitraan dalam pembangunan daerah.
“Kalau memang Pak Wali sedang sibuk, tentu kami memahaminya. Kami tidak ingin berprasangka. Hanya saja, kami berharap ada ruang komunikasi yang terbuka agar tidak muncul kesan adanya perbedaan perlakuan terhadap organisasi kepemudaan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Den Ama berharap Pemerintah Kota Bandung memandang GP Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai organisasi yang memiliki identitas, struktur kaderisasi, dan ruang pengabdian tersendiri. Menurutnya, dalam berbagai isu sosial, kepemudaan, hingga kebangsaan, GP Ansor dan Banser siap menjadi mitra strategis pemerintah.
Baginya, keberhasilan peringatan Hari Santri tidak semata diukur dari tertibnya upacara atau lengkapnya rangkaian acara, tetapi juga dari sejauh mana momentum tersebut mampu merangkul seluruh elemen yang selama ini menjadi bagian dari sejarah dan pengabdian kepada bangsa.
“Kami tidak mempermasalahkan undangan ini secara berlebihan. Yang kami harapkan adalah terbukanya ruang dialog, silaturahmi, dan kolaborasi. Kritik ini lahir dari kepedulian dan kecintaan kami terhadap Kota Bandung. Semoga semangat JAS Merah dan JAS Hijau benar-benar hidup dalam kebijakan dan tindakan, bukan sekadar menjadi slogan,” pungkas Den Ama.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari Pemerintah Kota Bandung terkait alasan tidak dilibatkannya PC GP Ansor Kota Bandung dalam pelaksanaan Upacara Hari Santri Nasional 2026. Apabila terdapat penjelasan resmi, redaksi akan memuatnya sebagai bagian dari keberimbangan informasi.***





Tinggalkan Balasan